Sabtu, 30 Juni 2018

Akseptan

10.28

“Di atas landasan ketidaksetujuan dan ketidaksukaan, toleransi sejati dibangun,” demikian Samsudin Berlian metasawurkan posisi epistemik toleransi pada rubrik ini dua pekan lalu. Artinya, toleransi ada karena eksisnya ketidaksukaan dan ketidaksetujuan satu pribadi kepada yang lainnya. Ketidaksukaan dan ketidaksetujuan menjadi prasayarat bagi adanya toleransi. Jika keduanya raib, maka raiblah toleransi.
Toleransi ada karena eksisnya ketidaksukaan dan ketidaksetujuan satu pribadi kepada yang lainnya.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V mengartikan toleran sebagai ‘bersifat dan bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri’. Adapun toleransi berarti ‘sifat atau sikap toleran’.
Pada hemat saya, tampaknya pencapaian kebudayaan leluhur kita pernah lebih tinggi dibandingkan dengan sekadar toleran. Dalam catatan Ibnu Khordabeh (849 M), seorang sejarawan dan geograf yang hidup pada masa Dinasti Abbsiyah, dalam kitab Al-Masãlik wal Mamãlik antara lain menceritakan dan memaparkan bukti-bukti aktual bahwa keberadaan Majapahit sebagai sebuah dinasti telah eksis jauh sebelum abad ke-13, bukan sebagaimana yang ditulis oleh Raffles dalam The History of Javayang banyak dirujuk selama ini.
Masyarakat Nusantara dilukiskan memiliki kesantunan, keramahan, kejujuran, kosmopolit, terbuka, multikultural, dan bukan saja toleran, namun satu tingkat di atas toleran, yakni menerima orang lain sebagai bagian dari dirinya. Kapal-kapal dagang asing yang singgah di bandar-bandar besar di kawasan Jawa dan Sumatera bisa berinteraksi dengan penuh kehangatan dengan penduduk setempat. Yang menarik adalah sikap penduduk setempat yang memandang mereka “yang asing” dan “datang dari luar” bukan sebagai apa yang ada dan terpisah dengan diri mereka, sebaliknya penduduk setempat—orang-orang Nusantara—memandang mereka yang asing itu sebagai bagian yang ikut serta menyempurnakan dan membentuk kepribadian mereka.
Masyarakat Nusantara dilukiskan memiliki kesantunan, keramahan, kejujuran, kosmopolit, terbuka, multikultural, dan bukan saja toleran, namun satu tingkat di atas toleran, yakni menerima orang lain sebagai bagian dari dirinya.
Pada konteks ini, yang asing tidak didudukkan sebagai yang liyan, the others. Atau, bahkan pada tingkat tertentu yang asing tidak dimaknai sebagai ancaman, justru sebagai bagian yang menyempurnakan. Disebut apakah kemampuan seperti ini? Tentu saja bukan toleran. Toleran memiliki derajat rendah sebab ia harus bersemai atas landasan ketidaksukaan, ketidakcocokan, dan juga ketidaksetujuan. Toleransi, selain mengharuskan adanya prasyarat, juga dibatasi oleh kadar: aku bisa memaklumimu bersikap ini dan itu, tapi sampai kadar tertentu, asal tidak melanggar batas dan hak-hak asasi satu sama lain. Itulah toleran.
Kemampuan menerima apa adanya tanpa prasyarat dan, bahkan, tanpa kadar batasan yang ditengarai Khordabeh dalam konteks ini bisa disebut sebagai akseptan. Apa itu? Kemampuan menerima tanpa parasyarat dan tanpa kadar batas. Aku menerimamu apa adanya, titik.
Akseptan, kemampuan menerima tanpa parasyarat dan tanpa kadar batas.
Entri akseptan sendiri sampai saat ini belum termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sepanjang penelusuran saya, entri ini belum pernah ditulis para pekamus kita. Padahal, entri ini sangat penting, bukan saja sebagai perbendaharaan kata, namun, lebih dari itu, sebagai penanda kemajuan kebudayaan dan luhurnya pencapaian paradaban.
Oxford Dictionary mengartikan accepntace dengan ‘the action of consenting to receive or undertake something offered‘. Kemampuan untuk menerima pihak lain dengan apa adanya tanpa syarat menjadi titik tekan perbedaan antara toleran dan akseptan.

Maka, kita harus bekerja keras terus menggali kemajuan teknologi kebudayaan yang telah dicapai oleh nenek moyang kita. Leluhur kita dulu bisa menerima yang asing sebagai bagian diri kita, sementara kita semakin hari semakin tak memiliki kemampuan menerima dan mendudukkan yang lain dengan kita sebagai bagian dari yang menyempurnakan dan membentuk diri kita, justru yang kita lakukan adalah mempertajam perbedaan dan menggarisbawahi ketidaksamaan. Kita sibuk berdebat mana yang pribumi, mana asing, padahal leluhur kita berabad-abad lalu memberi teladan, mereka yang tak sama dengan kita bukan saja harus ditolerir tapi juga harus diterima sebagai bagian dari anasir yang berguna membentuk identitas kita. Raib ke manakah kemapuan akseptan bangsa kita? Mari hadirkan kembali, bukan saja dalam kamus; juga dalam praktik hidup sehari-hari.
Pernah dimuat di Harian Kompas, 23 Juni 2018

Arus Balik dan Arus Rantau

10.10

Tidak ada catatan pasti, sejak kapan tradisi arus balik muncul. Kemunculannya barangkali selaras dengan kemunculan tradisi pulang ke kampung halaman atau mudik.

Pertanyaan yang timbul kemudian adalah, jika mudik adalah lema yang ditujukan untuk makna kembali ke kampung halaman dalam arti pulang ke tempat muasal, maka sejatinya apa yang dimaksud dengan arus balik itu?

Uniknya, jika kita merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, makna arus balik yang lazim dipergunakan untuk merujuk aktivitas kembali ke kota perantauan tidaklah kita temukan. Alih-alih, KBBI V malah mengartikan arus balik sebagai: arus di bawah permukaan laut yang mengalir berlawanan arah dengan arus di permukaaan (istilah Geografi) dan arus permukaan laut yang berlawanan arahnya dengan arus permukaan tempat sekitarnya.

Pramodya Ananta Toer memberi judul epos dengan tajuk Arus Balik (1995). Arus balik yang dimaksud adalah berbalikarahnya arus dari utara menuju ke selatan. Arus yang dimaksud adalah penjajahan yang bersifat ekspansif dan segenap pirantinya: termasuk ideologi dan kebudayaan.

Begini Pram menulis: “Biar aku ceritai kalian. Dahulu, di zaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin. Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini. Kapal-kapalnya, muatannya, manusianya, amal dan perbuatannya, cita-citanya–semua, itulah arus selatan ke utara. Segala-galanya datang dari selatan. Majapahit jatuh. Sekarang orang tak mampu lagi membuat kapal besar. Kapal kita makin lama makin kecil seperti kerajaannya. Karena, ya, kapal besar hanya bisa dibikin oleh kerajaan besar. Kapal kecil dan kerajaan kecil menyebabkan arus tidak bergerak ke utara, sebaliknya, dari utara sekarang ke selatan, karena Atas Angin lebih unggul, membawa segala-galanya ke Jawa, termasuk penghancuran, penindasan dan penipuan. Makin lama kapal-kapal kita akan semakin kecil untuk kemudian tidak mempunyai sama sekali.”



Arus balik adalah “berpulangnya” arus dari utara ke selatan. Jelas, muasal arus sejatinya berasal dari selatan. Maka arus yang asalanya dari selatan bergerak ke utara, namun belakangan arus tersebut kembali atau balik dari utara ke selatan. Itulah arus balik.

Pertanyaan bagaimana dengan makna arus balik yang berkembang belakangan ini? Di sinilah letak keunikannya. Arus balik yang kerap kita dengar hari ini sejatinya memiliki kejanggalan—kalau tidak mau disebut memiliki cacat logika--.

Arus balik digunakan sebagai penanda aktivitas kembalinya manusia urban dari kampung halaman ke tempat kerja mereka (kota). Mereka beringsut meninggalkan kampung halaman untuk beradu nasib di perantauan. Kata Sujiwo Tedjo (2017) mestinya frasa yang tepat digunakan untuk merujuk aktivitas pergerakan manusia urban tersebut adalah arus rantau. Yakni sebuah arus yang mebawa manusia ke perantauan, bukan arus balik.

Frasa arus balik jika digunakan untuk merujuk aktivitas kembali ke kota tempat bekerja, pada gilirannya akan melahirkan sebuah pemahaman bahwa seolah-seolah asal muasal para perantau adalah kota. Padahal yang yang terjadi sebaliknya: asal mereka adalah kampung atau desa. Natijahnya, menamakan aktivitas kembali dari kampung halaman sebagai arus balik merupakan kekeliruan konsep yang sangat mendasar.

Frasa arus balik justru lebih tepat untuk digunakan sebagai penanda aktivitas pulang kampung. Sebab subjek bergerak dari kota tujuan ke kampung halaman ia berasal. Sementara pergi dari kampung halaman untuk mencari nafkah, penghidupan atau apapun saja disebut dengan arus rantau.

Mendadak saya teringat sebuah lagu Koes Plus berjudul “Kembali ke Jakarta”. Dalam sebuah liriknya, Koes bersaduara bersenandung “Ke Jakarta aku kan kembali….”. Lagu ini mengandaikan bahwa muasal subjek adalah dari Jakarta, padahal fenomena urbanisasi itu pergerakan penduduk dari kampung atau desa ke kota. Amboi nian betapa uniknya.

Pernah dimuat di Majalah Tempo Edisi 10-17 Juni 2018.

Senin, 11 Juni 2018

Membakar Rumah Tuhan

21.59

Sebuah tautan berita meyembul dilayar ponsel. Saya membukanya. Kiriman seorang teman. Hulu beritanya berbunyi ‘Anies Baswedan Bantah DKI Gelar Buka Puasa di Monas, Tarawih Saja’. Selang beberapa detik kemudian di bawah tautan itu kawan tadi mengirim pesan singkat. ‘Mari tegakkan kalimat Allah. Islam harus tegak di Bumi Allah’.

Warna kalimat yang bisa membuat biji zakar siapapun akan mangkerut seketika. Ada rasa nyeri di ulu hati. Namun, sekaligus di saat yang bersamaan saya juga kepingin jungkir balik menertawakan logika kawan yang satu ini. Apa pasal? Nanti dulu, saya jelaskan pelan-pelan.

Pasca gerakan dua satu dua, memang kondisi kita menjadi sedemikian tidak karuan. Polarisasi menajam. Kebencian merebak. Kecurigaan membuncah. Akibatnya, kebanyakan kita kehilangan kejernihan melihat persoalan. Karena itu tadi, kebencian dan kecurigaan menjadi alas berpikir. Ini bahaya. Padahal kata Allah “janganlah rasa kebencian terhadap suatu kaum menjadikanmu berbuat tidak adil kepadanya”.

Beberapa saat yang lalu, seminggu setalah film dua satu dua the power of love dirilis, saya melakukan riset mini kepada mahasiswa di kelas saya. Mereka saya tanya dan begini rekaman kronologisnya:

Mula-mula saya menguarkan pertanyaan apakah mereka tahu tentang adanya film tentang fenomena 212? Nyaris semuanya menganggukkan kepala. Apa judulnya? tiga sampai empat dari anggota kelas memberikan jawaban dengan sangat tegas: ‘The Power of Love?” jawab mereka. 

Saya diam, mengambil jeda sambil memasukkan kedua tangan di saku celana jins saya. Lalu kemudian saya melanjutkan pertanyaan, ‘siapa di antara kalian yang memiliki hasrat untuk menontonnya?’ Kali ini semuanya mengacungkan tangan. Mengapa? Jawab mereka karena penasaran.

Secepat kilat saya menimpali "sebaiknya kalian urungkan niat itu. Tidak usah menonton film itu. Lebih baik uangnya belikan buku, atau simpan untuk tabungan umrah, atau masukkan kotal amal masjid. Itu lebih baik," begitu kata saya.
Mereka protes. Meronta. Merengek. Saya biarkan.
Saya menjulurkan pertanyaan lagi. "Menurut kalian apa yang menggerakkan berjuta orang untuk berkumpul di Monas dalam aksi nomor-nomor cantik 411 dan 212 itu?"
Mereka terdiam. Bingung. Saling bertatapan satu sama lainnya. Saya menunggu beberapa saat, masih juga belum ada jawaban.
"Oke. kalau begitu saya kasih pilihan. Mereka berkumpul karena cinta atau karena benci?"
Mereka terbelah. Sebagian bilang karena cinta, sebagain yang lain ngotot karena benci.
Kepada yang menjawab karena cinta saya bertanya "cinta kepada apa atau siapa?" Mereka menjawab kompak pada Al-Quran.
Saya diam. Lalu saya lanjutkan kepada mereka yang menjawab benci. pernyataan yang sama. "benci kepada siapa?" Mereka menjawab "Ahooook"
Kemudian saya bertanya kepada masing-masing kelompok "Apakah bisa rasa cinta terhadap sesuatu itu dibangun di atas kebencian terhadap sesuatu yang lain"
"Maksudnya bagaimana, Pak? Maksudnya 212 membangun rasa cinta kapada Al-Quran di atas bangunan megah kebencian kepada Ahok?" jawab seorang mahasiswa.
Saya diam.
"Itu bukan cinta, Pak. Kalau cinta mengapa harus membenci?"
Saya diam. Seisi kelas gaduh dan saya pamit pulang. Kelas berakhir dalam keadaan chaos, namun kami sempat berfoto bersama.

Penting untuk dicatat dan direnungkan jawabannya bersama bahwa ‘apakah bisa rasa cinta terhadap sesuatu itu dibangun di atas kebencian terhadap sesuatu yang lain?’. Ini problem pelik kita. Sikap cinta kita dibangun di atas bangunan megah kebencian teradap sesuatu yang lain. Ini absurd sekali. Pada titik inilah agama masuk sebagai pelecut, pemantik, dan juga peleigitimasi konflik dan polarisasi. Ndak usah mengutip Terry Rey yang secara tajam dalam bukunya Bourdieu On Religion: Imposing Faith and Legitimacy (2014) mengatakan bahwa agama adalah instrumen penting untuk mencegat kebebasan dan memaksakan keyakinan terhadap siapapun yang bersebarangan dengan mayoritas, kita bisa melihat dengan sangat gamblang bahwa agama bisa dijadikan pelumas sekaligus bahan bakar polarisasi dewasa ini.

Kata Ibnu Sina, bulainā biqaumin yadzunnūna annallāha lam yahdi siwāhum. Kita sedang diuji dengan suatu kondisi di mana ada sekawanan manusia yang menyangka bahwa Allah tidak memberikan petunjuk kepada selain mereka. Ini cocok sekali dengan kondisi kita saat ini. Termasuk soal yang kita perbincangkan tarawih berjamaah di monas. Gejala menonjolkan kelompok, show of force, unjuk jumlah massa adalah watak jahiliyah yang mulai didaur ulang.

Alasan tarawih di monas adalah untuk menjaga persatuan. Ini logika yang mahaaneh. Persatuan apa? Umat atau kepentingan politik? Tren seperti ini terus terang sangat menghawatirkan, karena alasan yang dibuat-buat, yakni menjaga persatuan maka kelak daftar ritual ibadah yang dilakukan di monas bisa diperpanjang termasuk manasik haji dan juga sunatan masal.

Barangkali di sudut akhirat, di tengah hiruk pikuk rencana Sholat tarawih di Monas, Fredrik Silaban dan Bung Karno menyepi bedua. Keduanya berbicara serius, saling tatap satu sama lain. Air mata jatuh. “Sudah ada gejala umat Islam mulai meninggalkan masjid. Mereka memilih untuk unjuk kuantitas, bukan kualitas. Mungkin ini yang disebut gejala membakar rumah Tuhan,” begitu kata Pak Karno memeluk Silaban.


Minggu, 13 Mei 2018

Adjektiva Seksis

09.19

Kita patut dan boleh berbangga sekaligus bergembira dengan kian menggemuknya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) meski kuantitas tak menjamin atau, bahkan, tak berkorelasi sama sekali dengan kualitas. Demikian yang dikeluhkan Eko Endarmoko dalam kolomnya "Jumlah Dahulu, Mutu Nanti Dulu", di Tempo edisi 19-25 Februari 2018. 


Penganggit Tesamoko tersebut mengatakan bahwa semangat mengejar jumlah merupakan cerminan kompleksitas kerendahdirian sekaligus, di saat bersamaan, menunjukkan degradasi kualitas tiap kata yang menjadi entri atau lema. Dengan pelbagai argumentasi, dia memperlihatkan satu lema dengan dua ejaan yang berbeda: cape dengan capai, konde dengan kundai, reak dengan riak, prei dengan perai.

Kondisi perkamusan kita memang masih jauh dari paripurna. Kita tahu bahwa Badan Bahasa terus berdalih, syarat dan ketentuan sebuah kata masuk ke dalam KBBI kian tahun kian diperketat dan diperbaiki. Badan Bahasa mengatakan bahwa ada setidaknya lima syarat fundamental yang ia tetapkan untuk menimbang bisa-tidaknya sebuah kata diakomodasi ke dalam KBBI.

Lima syarat tersebut: unik, sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, eufonik (sedap didengar), memiliki konotasi positif, dan berfrekuensi pemakaian yang tinggi. Lima syarat itu masih harus berhadapan dengan serangkaian pertimbangan, seperti apakah kata tersebut ditemukan di pelbagai sumber, apakah digunakan beragam kalangan, dan apakah kata itu diprediksi bertahan lama.

Tentu kita masih menghadapi banyak soal. Selain ihwal presisi dan akurasi menerjemahkan dan memberi makna kata, banyak problem yang masih menjadi pekerjaan rumah besar kita bersama. Sebut misalnya perihal seksisme dan politik penentuan contoh dalam KBBI. Kita dengan mudah akan menjumpai kata-kata yang secara stigmatif dikategorikan ke dalam kelamin tertentu.

Sebut saja, misalnya, kata cerewet. Untuk entri satu ini, KBBI memberikan arti dengan “suka mencela (mengomel, mengata-ngatai, dsb); banyak mulut; nyinyir; bawel” dengan contoh pemakaian pembantu rumah tangga biasanya tidak suka bekerja pada nyonya rumah yang– Sampai di sini kita sah bertanya dan mencurahkan amatan kita pada frasa nyonya rumah yang— yang secara langsung menggiring opini dan hendak mengatakan bahwa sifat cerewet lazimnya disematkan kepada seorang perempuan.

Demikian pula dengan lema ceriwis, KBBI mengartikan dengan suka “bercakap-cakap; banyak omong” dengan contoh pemakaian sudah umum setiap gadis itu–. Sebagaimana dalam lema cerewet, KBBI langsung menggiring pembaca pada pilihan makna yang bias gender, yakni makna yang cenderung menguarkan aroma seksisnya. Dari arti ceriwis tersebut, jika kita berpedoman pada kamus, sulit rasanya menyematkan adjektiva ceriwis untuk seorang laki-laki. Padahal, sifat cerewet dan juga ceriwis sah dimiliki dan melekat pada keduanya dalam kehidupan nyata. Perempuan bisa cerewet, laki-laki pun demikian.

/var/folders/ln/fh2vmj_5465079lhc6bt_5nm0000gn/T/com.microsoft.Word/WebArchiveCopyPasteTempFiles/Kompas.jpg-large.jpgSepenarikan napas, kita juga menemukan hal serupa pada lema nyinyir. KBBI mengatikannya sebagai “mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet” dengan contoh pemakaian nenekku kadang-kadang–, bosan aku mendengarkannya. Pemilihan contoh yang menempatkan nenek sebagai subjek kalimat untuk menjelaskan adjektiva nyinyir lagi-lagi mengurung kita pada sebuah aktivitas pemaknaan bahwa sifat nyinyir itu khas dimiliki oleh perempuan. Padahal, nyinyir ini laik dan cocok tersua pada laki-laki maupun perempuan selama yang bersangkutan memang nyenyeh.

Belum lagi kita berhadapan dengan sundal, jalang, dan juga lacur. Ketiga lema ini kerap dijadikan pintu masuk oleh kebanyakan kita untuk melancarkan kritik betapa KBBI masih memiliki sejumlah soal dan urusan yang belum beres dengan makna dan gender.

Sementara itu, jika kita periksa adjektiva seperti tampan, KBBI tindak memberikan kurungan makna sebagaimana yang diberikan pada adjektiva yang disebutkan di atas. Tampan diartikan sebagai “elok(rupanya, sikapnya, bentuknya, letaknya); gagah” dengan contoh pemakaian ia tampak – kalau memakai jas dan dasi. Pemilihan contoh dengan menjadikan kata ganti orang ketiga tuggal (ia) tentu saja dirasa lebih netral dan tidak bias gender. Pilihan ini sebetulnya sangat bisa dilakukan terutama dalam membuat contoh-contoh penerapan kata sifat.

Sifat sampai kapan pun bisa melekat pada siapa pun tanpa harus membeda-bedakan kelamin. Kitalah yang memahat, membentuk, dan kadangkala secara tidak tepat menyematkannya pada kategori dan persona tertentu. Apa yang dikatakan de Beauvoir bahwa gender adalah konstruksi sosial dengan megacu pada kasus-kasus pemaknaan dan politik penentuan contoh makna kamus benar-benar nyata. Padahal, Pramoedya Ananta Toer jauh-jauh hari mengingatkan bahwa seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran.

Catatan: artikel pernah diterbitkan dalam Rubrik 'Bahasa' Harian Kompas, Sabtu, 12 Mei 2018.  

Senin, 23 April 2018

Benalu dan Slilit

10.50


Sejak dulu barangkali ada sejenis manusia yang selalu membutuhkan penderitaan dan kesalahan pihak lain sebagai bahan bakar utama kebahagiaannya. Manusia semacam ini, anda tahu, sama belaka dengan benalu. 
Ia menjadi predator yang dingin, namun mematikan. Mengisap si empunya yang 'ditumpangi'. Kalau ia berada di tempat kerja misalnya, ia akan menggerutu saban hari, semacam mengkritik tapi waton njeplak dan nirsolusi. Ia bisa seenaknya sendiri omong ini dan itu, menyalahkan pihak anu dan anu, seolah tidak ada yang benar kecuali Tuhan, Nabi-nabi, dan dirinya. Barangkali begitu.
Celakanya, media sosial membuat pertumbuhan manusia jenis ini menjadi semakin cepat dan akseleratif. "Manusia-manusia nyinyir yang tidak bisa menempatkan diri memang selalu menjengkelkan. Ia seperti slilit. Menggangu dan menyusahkan," kata seorang kawan.
Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan kawan itu. Bagi saya, anda tahu, manusia nyinyir itu benalu, bukan slilit. 
Jika dibandingkan, Kadar bahaya slilit dengan benalu amatlah jauh. Baina sama' wa sumur minyak, barangkali. Slilit tidak mengisap, sementara benalu terus-terusan aktif mengisap dan membuat si empunya yang diisap menjadi kurus kering, meranggas, lalu kemudian mati.
Alah limau oleh benalu, demikian sebuah peribahasa. Artinya benalu selalu merugikan dan menyusahkan hidup orang yang dia tumpangi. Kita bisa mengganti 'orang' itu dengan apa saja: lembaga, instansi, perserikatan, perusahaan, dan seterusnya dan sebagainya.
Saya teringat sebuah cerpen milik Puthut EA bertajuk "Benalu di Tubuh Mirah". Begini kutipannya: 
"Dan di dunia mana pun, benalu tetaplah benalu. Di bidang apa pun, orang yang tidak mampu bekerja dan tidak sanggup berkarya, sama saja. Orang-orang seperti itu memiliki kecenderungan yang sama di bawah langit ini. Cerewet dan sok tahu. Segala sesuatu dikomentari, segala hal dinyinyiri, merasa tahu segala hal dan merasa ampuh dengan hanya berkomentar. Mereka selalu berusaha menyogok kesadaran orang-orang sekitar mereka untuk sekedar mendapatkan pengakuan sosial. Dan sialnya, orang-orang seperti itu selalu mengganggu dan menyatroni kerja orang lain. Eksistensi orang-orang seperti itu didirikan di atas kesalahan yang dicari-cari. Landasan hidup mereka hanya bertumpu pada kalimat kunci: pasti ada yang salah dan harus ada yang salah!.
Manusia seperti itu barangkali adalah manusia yang aroma komentarnya lebih diselimuti rasa benci ketimbang ingin berbagi. Sejenis komentar yang mbejudul dan lahir dari rasa kecewa. Atau sangat mungkin semacam komentar yang lahir dari bibir-bibir pribadi yang ‘tidak terlatih’ untuk kalah. Dan ini lebih berbahaya. 
Orang-orang kalah memang selalu menjengkelkan jika mereka tidak bisa berdamai dengan keadaan.

FOLLOW @ INSTAGRAM

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *