Senin, 11 Juni 2018

Membakar Rumah Tuhan

21.59

Sebuah tautan berita meyembul dilayar ponsel. Saya membukanya. Kiriman seorang teman. Hulu beritanya berbunyi ‘Anies Baswedan Bantah DKI Gelar Buka Puasa di Monas, Tarawih Saja’. Selang beberapa detik kemudian di bawah tautan itu kawan tadi mengirim pesan singkat. ‘Mari tegakkan kalimat Allah. Islam harus tegak di Bumi Allah’.

Warna kalimat yang bisa membuat biji zakar siapapun akan mangkerut seketika. Ada rasa nyeri di ulu hati. Namun, sekaligus di saat yang bersamaan saya juga kepingin jungkir balik menertawakan logika kawan yang satu ini. Apa pasal? Nanti dulu, saya jelaskan pelan-pelan.

Pasca gerakan dua satu dua, memang kondisi kita menjadi sedemikian tidak karuan. Polarisasi menajam. Kebencian merebak. Kecurigaan membuncah. Akibatnya, kebanyakan kita kehilangan kejernihan melihat persoalan. Karena itu tadi, kebencian dan kecurigaan menjadi alas berpikir. Ini bahaya. Padahal kata Allah “janganlah rasa kebencian terhadap suatu kaum menjadikanmu berbuat tidak adil kepadanya”.

Beberapa saat yang lalu, seminggu setalah film dua satu dua the power of love dirilis, saya melakukan riset mini kepada mahasiswa di kelas saya. Mereka saya tanya dan begini rekaman kronologisnya:

Mula-mula saya menguarkan pertanyaan apakah mereka tahu tentang adanya film tentang fenomena 212? Nyaris semuanya menganggukkan kepala. Apa judulnya? tiga sampai empat dari anggota kelas memberikan jawaban dengan sangat tegas: ‘The Power of Love?” jawab mereka. 

Saya diam, mengambil jeda sambil memasukkan kedua tangan di saku celana jins saya. Lalu kemudian saya melanjutkan pertanyaan, ‘siapa di antara kalian yang memiliki hasrat untuk menontonnya?’ Kali ini semuanya mengacungkan tangan. Mengapa? Jawab mereka karena penasaran.

Secepat kilat saya menimpali "sebaiknya kalian urungkan niat itu. Tidak usah menonton film itu. Lebih baik uangnya belikan buku, atau simpan untuk tabungan umrah, atau masukkan kotal amal masjid. Itu lebih baik," begitu kata saya.
Mereka protes. Meronta. Merengek. Saya biarkan.
Saya menjulurkan pertanyaan lagi. "Menurut kalian apa yang menggerakkan berjuta orang untuk berkumpul di Monas dalam aksi nomor-nomor cantik 411 dan 212 itu?"
Mereka terdiam. Bingung. Saling bertatapan satu sama lainnya. Saya menunggu beberapa saat, masih juga belum ada jawaban.
"Oke. kalau begitu saya kasih pilihan. Mereka berkumpul karena cinta atau karena benci?"
Mereka terbelah. Sebagian bilang karena cinta, sebagain yang lain ngotot karena benci.
Kepada yang menjawab karena cinta saya bertanya "cinta kepada apa atau siapa?" Mereka menjawab kompak pada Al-Quran.
Saya diam. Lalu saya lanjutkan kepada mereka yang menjawab benci. pernyataan yang sama. "benci kepada siapa?" Mereka menjawab "Ahooook"
Kemudian saya bertanya kepada masing-masing kelompok "Apakah bisa rasa cinta terhadap sesuatu itu dibangun di atas kebencian terhadap sesuatu yang lain"
"Maksudnya bagaimana, Pak? Maksudnya 212 membangun rasa cinta kapada Al-Quran di atas bangunan megah kebencian kepada Ahok?" jawab seorang mahasiswa.
Saya diam.
"Itu bukan cinta, Pak. Kalau cinta mengapa harus membenci?"
Saya diam. Seisi kelas gaduh dan saya pamit pulang. Kelas berakhir dalam keadaan chaos, namun kami sempat berfoto bersama.

Penting untuk dicatat dan direnungkan jawabannya bersama bahwa ‘apakah bisa rasa cinta terhadap sesuatu itu dibangun di atas kebencian terhadap sesuatu yang lain?’. Ini problem pelik kita. Sikap cinta kita dibangun di atas bangunan megah kebencian teradap sesuatu yang lain. Ini absurd sekali. Pada titik inilah agama masuk sebagai pelecut, pemantik, dan juga peleigitimasi konflik dan polarisasi. Ndak usah mengutip Terry Rey yang secara tajam dalam bukunya Bourdieu On Religion: Imposing Faith and Legitimacy (2014) mengatakan bahwa agama adalah instrumen penting untuk mencegat kebebasan dan memaksakan keyakinan terhadap siapapun yang bersebarangan dengan mayoritas, kita bisa melihat dengan sangat gamblang bahwa agama bisa dijadikan pelumas sekaligus bahan bakar polarisasi dewasa ini.

Kata Ibnu Sina, bulainā biqaumin yadzunnūna annallāha lam yahdi siwāhum. Kita sedang diuji dengan suatu kondisi di mana ada sekawanan manusia yang menyangka bahwa Allah tidak memberikan petunjuk kepada selain mereka. Ini cocok sekali dengan kondisi kita saat ini. Termasuk soal yang kita perbincangkan tarawih berjamaah di monas. Gejala menonjolkan kelompok, show of force, unjuk jumlah massa adalah watak jahiliyah yang mulai didaur ulang.

Alasan tarawih di monas adalah untuk menjaga persatuan. Ini logika yang mahaaneh. Persatuan apa? Umat atau kepentingan politik? Tren seperti ini terus terang sangat menghawatirkan, karena alasan yang dibuat-buat, yakni menjaga persatuan maka kelak daftar ritual ibadah yang dilakukan di monas bisa diperpanjang termasuk manasik haji dan juga sunatan masal.

Barangkali di sudut akhirat, di tengah hiruk pikuk rencana Sholat tarawih di Monas, Fredrik Silaban dan Bung Karno menyepi bedua. Keduanya berbicara serius, saling tatap satu sama lain. Air mata jatuh. “Sudah ada gejala umat Islam mulai meninggalkan masjid. Mereka memilih untuk unjuk kuantitas, bukan kualitas. Mungkin ini yang disebut gejala membakar rumah Tuhan,” begitu kata Pak Karno memeluk Silaban.


Minggu, 13 Mei 2018

Adjektiva Seksis

09.19

Kita patut dan boleh berbangga sekaligus bergembira dengan kian menggemuknya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) meski kuantitas tak menjamin atau, bahkan, tak berkorelasi sama sekali dengan kualitas. Demikian yang dikeluhkan Eko Endarmoko dalam kolomnya "Jumlah Dahulu, Mutu Nanti Dulu", di Tempo edisi 19-25 Februari 2018. 


Penganggit Tesamoko tersebut mengatakan bahwa semangat mengejar jumlah merupakan cerminan kompleksitas kerendahdirian sekaligus, di saat bersamaan, menunjukkan degradasi kualitas tiap kata yang menjadi entri atau lema. Dengan pelbagai argumentasi, dia memperlihatkan satu lema dengan dua ejaan yang berbeda: cape dengan capai, konde dengan kundai, reak dengan riak, prei dengan perai.

Kondisi perkamusan kita memang masih jauh dari paripurna. Kita tahu bahwa Badan Bahasa terus berdalih, syarat dan ketentuan sebuah kata masuk ke dalam KBBI kian tahun kian diperketat dan diperbaiki. Badan Bahasa mengatakan bahwa ada setidaknya lima syarat fundamental yang ia tetapkan untuk menimbang bisa-tidaknya sebuah kata diakomodasi ke dalam KBBI.

Lima syarat tersebut: unik, sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, eufonik (sedap didengar), memiliki konotasi positif, dan berfrekuensi pemakaian yang tinggi. Lima syarat itu masih harus berhadapan dengan serangkaian pertimbangan, seperti apakah kata tersebut ditemukan di pelbagai sumber, apakah digunakan beragam kalangan, dan apakah kata itu diprediksi bertahan lama.

Tentu kita masih menghadapi banyak soal. Selain ihwal presisi dan akurasi menerjemahkan dan memberi makna kata, banyak problem yang masih menjadi pekerjaan rumah besar kita bersama. Sebut misalnya perihal seksisme dan politik penentuan contoh dalam KBBI. Kita dengan mudah akan menjumpai kata-kata yang secara stigmatif dikategorikan ke dalam kelamin tertentu.

Sebut saja, misalnya, kata cerewet. Untuk entri satu ini, KBBI memberikan arti dengan “suka mencela (mengomel, mengata-ngatai, dsb); banyak mulut; nyinyir; bawel” dengan contoh pemakaian pembantu rumah tangga biasanya tidak suka bekerja pada nyonya rumah yang– Sampai di sini kita sah bertanya dan mencurahkan amatan kita pada frasa nyonya rumah yang— yang secara langsung menggiring opini dan hendak mengatakan bahwa sifat cerewet lazimnya disematkan kepada seorang perempuan.

Demikian pula dengan lema ceriwis, KBBI mengartikan dengan suka “bercakap-cakap; banyak omong” dengan contoh pemakaian sudah umum setiap gadis itu–. Sebagaimana dalam lema cerewet, KBBI langsung menggiring pembaca pada pilihan makna yang bias gender, yakni makna yang cenderung menguarkan aroma seksisnya. Dari arti ceriwis tersebut, jika kita berpedoman pada kamus, sulit rasanya menyematkan adjektiva ceriwis untuk seorang laki-laki. Padahal, sifat cerewet dan juga ceriwis sah dimiliki dan melekat pada keduanya dalam kehidupan nyata. Perempuan bisa cerewet, laki-laki pun demikian.

/var/folders/ln/fh2vmj_5465079lhc6bt_5nm0000gn/T/com.microsoft.Word/WebArchiveCopyPasteTempFiles/Kompas.jpg-large.jpgSepenarikan napas, kita juga menemukan hal serupa pada lema nyinyir. KBBI mengatikannya sebagai “mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet” dengan contoh pemakaian nenekku kadang-kadang–, bosan aku mendengarkannya. Pemilihan contoh yang menempatkan nenek sebagai subjek kalimat untuk menjelaskan adjektiva nyinyir lagi-lagi mengurung kita pada sebuah aktivitas pemaknaan bahwa sifat nyinyir itu khas dimiliki oleh perempuan. Padahal, nyinyir ini laik dan cocok tersua pada laki-laki maupun perempuan selama yang bersangkutan memang nyenyeh.

Belum lagi kita berhadapan dengan sundal, jalang, dan juga lacur. Ketiga lema ini kerap dijadikan pintu masuk oleh kebanyakan kita untuk melancarkan kritik betapa KBBI masih memiliki sejumlah soal dan urusan yang belum beres dengan makna dan gender.

Sementara itu, jika kita periksa adjektiva seperti tampan, KBBI tindak memberikan kurungan makna sebagaimana yang diberikan pada adjektiva yang disebutkan di atas. Tampan diartikan sebagai “elok(rupanya, sikapnya, bentuknya, letaknya); gagah” dengan contoh pemakaian ia tampak – kalau memakai jas dan dasi. Pemilihan contoh dengan menjadikan kata ganti orang ketiga tuggal (ia) tentu saja dirasa lebih netral dan tidak bias gender. Pilihan ini sebetulnya sangat bisa dilakukan terutama dalam membuat contoh-contoh penerapan kata sifat.

Sifat sampai kapan pun bisa melekat pada siapa pun tanpa harus membeda-bedakan kelamin. Kitalah yang memahat, membentuk, dan kadangkala secara tidak tepat menyematkannya pada kategori dan persona tertentu. Apa yang dikatakan de Beauvoir bahwa gender adalah konstruksi sosial dengan megacu pada kasus-kasus pemaknaan dan politik penentuan contoh makna kamus benar-benar nyata. Padahal, Pramoedya Ananta Toer jauh-jauh hari mengingatkan bahwa seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran.

Catatan: artikel pernah diterbitkan dalam Rubrik 'Bahasa' Harian Kompas, Sabtu, 12 Mei 2018.  

Senin, 23 April 2018

Benalu dan Slilit

10.50


Sejak dulu barangkali ada sejenis manusia yang selalu membutuhkan penderitaan dan kesalahan pihak lain sebagai bahan bakar utama kebahagiaannya. Manusia semacam ini, anda tahu, sama belaka dengan benalu. 
Ia menjadi predator yang dingin, namun mematikan. Mengisap si empunya yang 'ditumpangi'. Kalau ia berada di tempat kerja misalnya, ia akan menggerutu saban hari, semacam mengkritik tapi waton njeplak dan nirsolusi. Ia bisa seenaknya sendiri omong ini dan itu, menyalahkan pihak anu dan anu, seolah tidak ada yang benar kecuali Tuhan, Nabi-nabi, dan dirinya. Barangkali begitu.
Celakanya, media sosial membuat pertumbuhan manusia jenis ini menjadi semakin cepat dan akseleratif. "Manusia-manusia nyinyir yang tidak bisa menempatkan diri memang selalu menjengkelkan. Ia seperti slilit. Menggangu dan menyusahkan," kata seorang kawan.
Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan kawan itu. Bagi saya, anda tahu, manusia nyinyir itu benalu, bukan slilit. 
Jika dibandingkan, Kadar bahaya slilit dengan benalu amatlah jauh. Baina sama' wa sumur minyak, barangkali. Slilit tidak mengisap, sementara benalu terus-terusan aktif mengisap dan membuat si empunya yang diisap menjadi kurus kering, meranggas, lalu kemudian mati.
Alah limau oleh benalu, demikian sebuah peribahasa. Artinya benalu selalu merugikan dan menyusahkan hidup orang yang dia tumpangi. Kita bisa mengganti 'orang' itu dengan apa saja: lembaga, instansi, perserikatan, perusahaan, dan seterusnya dan sebagainya.
Saya teringat sebuah cerpen milik Puthut EA bertajuk "Benalu di Tubuh Mirah". Begini kutipannya: 
"Dan di dunia mana pun, benalu tetaplah benalu. Di bidang apa pun, orang yang tidak mampu bekerja dan tidak sanggup berkarya, sama saja. Orang-orang seperti itu memiliki kecenderungan yang sama di bawah langit ini. Cerewet dan sok tahu. Segala sesuatu dikomentari, segala hal dinyinyiri, merasa tahu segala hal dan merasa ampuh dengan hanya berkomentar. Mereka selalu berusaha menyogok kesadaran orang-orang sekitar mereka untuk sekedar mendapatkan pengakuan sosial. Dan sialnya, orang-orang seperti itu selalu mengganggu dan menyatroni kerja orang lain. Eksistensi orang-orang seperti itu didirikan di atas kesalahan yang dicari-cari. Landasan hidup mereka hanya bertumpu pada kalimat kunci: pasti ada yang salah dan harus ada yang salah!.
Manusia seperti itu barangkali adalah manusia yang aroma komentarnya lebih diselimuti rasa benci ketimbang ingin berbagi. Sejenis komentar yang mbejudul dan lahir dari rasa kecewa. Atau sangat mungkin semacam komentar yang lahir dari bibir-bibir pribadi yang ‘tidak terlatih’ untuk kalah. Dan ini lebih berbahaya. 
Orang-orang kalah memang selalu menjengkelkan jika mereka tidak bisa berdamai dengan keadaan.

Minggu, 08 April 2018

Mahasiswi Itu

19.03

Di tengah semangat yang megap-megap dan mata yang masih byar-pet, saya berusaha memenuhi panggilan dering henpon di pagi tadi.
Sial memang, jauh sebelum ayam berkokok, henpon saya sudah berdering. "Siapa kira-kira yang menelponku semalam ini?" gumam dalam hati.
Dengan perasaan setengah hati saya mengangkat telepon itu. "Halo Pak, soal yang bapak berikan kok susah banget ya, Pak? Saya sampe semalaman belum kelar mengerjakan. Anu, boleh ndak Pak kalau saya minta keringanan. Semacam amnesti Pak,” terdengar suara nyaring di ujung henpon sana.
Dasar pikiran masih sempoyongan, mata belum jangkep, dan mulut masih ndoweh aras-arasen diajak ngobrol, maka akhirnya saya menjawab dengan sekenanya saja "oh iya.”
"Berarti boleh ya Pak? Terus jangan banyak-banyak Pak soalnya..." selidik dan pintanya.
"Oh No" sekali lagi saya menjawab dengan tingkat kemalasan bibir yang seolah menyangga beban berton-ton.
"Ah bapak, kok dikit banget jawabnya..." Nampaknya dia kesal.
"Sebentar, sampean mahasiswi saya? Namanya siapa?" Saya mak tratap.
"Lhoh, bagaimana sih Pak, saya ini mahasiswi bapak yang sudah kelar ujian kemarin. Masak lupa..." Ia menjawab dengan ketus.
"Mbak, urusan saya tidak hanya menghapal nama mahasiswa dan mahasiswi saja. Mohon maaf saya sering lupa, nampaknya karena terlalu sibuk isi kepala saya ini dengan aneka pasword yang harus saya hafal. Mulai akun Fesbuk, tuiter, pet, dan lain sebagainya. Jadi mohon maaf ya..." Saya berapologi.
“Bapak bagaimana sih? Saya yakin berarti bapak tak pernah mendoakan kami...mahasiswa-mahasiswi bapak. Mengingat nama saja ndak hapal apalagi mendoakan Pak Pak...padahal Kiai-Kiai dulu kan selalu hapal dan mendoakan santri-santrinya..." Saya merasa diberi kuliah gratis olehnya.
"Anu mbak... tut tut tut" Tetiba suara itu hilang dan nampaknya jaringannya terputus.
Dengan selo, saya tidur lagi. Melanjutkan mimpi basah yang tertunda.
Dan esoknya saya teringat, kemudian tersadar, lalu melacak nomor mahasiswi itu. Berhasil ketemu, tapi sudah ndak aktip.
Saya keluar kontrakan, menengadahkan wajah ke langit sedetik kemudian menunduk..."Ya Awwoh, maturnuwun saya sudah diperingatkan atas kelalaian hamba”

Rabu, 21 Maret 2018

Sugeng Tindak, Kedisiplinan..

13.38


Azan asar baru lekas dikumandangkan ketika sebuah mobil menyapu jalanan halaman pelataran pesantren Mambaul Ma’arif. Mobil itu dengan kecepatan perlahan menuju depan ndalem kesepuhan—rumah peninggalan Kiai Bisri Syansuri, Pendiri Pesantren Mambaul Ma’arif—. Sesaat setelah posisi mobil rapih dan mesinpun dimatikan oleh pengemudi, sesosok perempuan sepuh dengan sangat hati-hati keluar dari pintu mobil sebelah kiri.

“Mbah Nyai baru pulang dari Madura,” seorang santri berkata kepada saya.

“Sejak kapan, Mas?”

“Tadi pagi. Sore langsung kembali. Mbah Nyai tidak tega meninggalkan pondok dan santrinya terlalu lama”

“Di usia yang sudah sepuh, Mbah Nyai masih sering bepergian?”

“Iya, Mas.”

Percakapan kami berakhir ketika suara ikomah berkumandang. Tanda salat jamaah segera dimulai. Santri-santri berhamburan merapatkan barisan untuk menunaikan salat jemaah asar. Lamat-lamat saya saksikan Kiai Wazir Ali bertindak sebagai imam.

Hari itu memang saya hendak sowan kepada Mbah Nyai Nadhiroh. Saya hendak ngaturi ngayubagya memberi restu sekaligus mendoakan pernikahan saya dengan istri.

Hari itu, sekira habis zuhur saya sudah sampai di Denanyar, setelah bertanya sana-sini saya mendapat informasi bahwa Mbah Nyai masih tindakan ke Madura, sementara putra beliau—pengasuh pesantren Mambaul Ma’arif KH. Abdussalam Shohib nampak masih sangat serius memimpin rapat di ndalem kesepuhan.

Sembari menunggu kedatangan Gus Zidny Nuuro, cucu Mbah Nyai Nadhiroh dari jalur Almarhum Kiai Zaidan Hadi dan Almarhumah Nyai Zaenab Shohib, Saya masih sempat berdiri di depan kelas Madrasah Aliyah Muallimin (lama) yang terletak persisi di timur kantor Yayasan untuk bernostalgia saat-saat saya ditempa menjadi santri—saat-saat perut dicubit karena tidak menghafal Alfiyah, saat-saat mengharukan sebab aktivitas maknani kitab terkendala karena bopoint Hi-Tec yang tiba-tiba mblobor sehingga harus kami bakar dan panasi ujung bolpointnya pakai korek api dan bejibun kenangan-kenangan yang mengharukan sekaligus membahagiakan lainnya.

“Kita Ke Mbah Sholeh dulu, ngopi baru sowan Kiai Salam sambil nunggu Mbah (Nyai) Rawuh,” demikian Gus Zidny menguarkan rute perjalanan sowan hari ini.

Singkat hikayat setelah sowan Mbah Soleh di Banjardowo sembari ngopi sejenak lalu dilanjutkan sowan Kiai Abdussalam, sore itu saya diantarkan oleh Gus Zidny sowan Mbah Nyai Nadhiroh. Kami berdua duduk bersimpuh di ruang tamu, di sisi dipan besar yang terletak di pojok kanan ndalem. Mbah Nyai Nadhiroh berbaring mengistirahatkan diri di ruang tamu. Wajahnya bersih dan cerah. Sepuh tapi terlihat tetap semangat dan bersinar wajahnya. Sampai di sini saya menjadi teringat pada Novel “Harimau Harimau” gubahan Mochtar Lubis bahwa kekuatan manusia itu terletak pada jiwanya bukan fisik dan raganya.

Jiwa yang kuat itu tentu saja saya lihat dengan nyata tersemat pada sosok Mbah Nyai Nadhiroh. Persis, pada waktu saya sowan, beliau menapaki usia 80 tahun kurang 15 hari. Usianya yang sangat sepuh memang, namun sebagaimana saya ungkapkan, sepuhnya usia bukan berarti padamnya semangat dan energi untuk selalu berbagi dan mengabdikan diri menyebar ilmu, menjalin silaturrahim, melayani masyarakat juga umat.

“Sampean arep rabi?”

Injih, Mbah Nyai”

Yawis dungakno aku sehat,” demikian Mbah Nyai memungkasi percakapan kami.

Saya tidak menaruh hasrat yang menggebu agar Mbah Nyai Nadhiroh berkenan rawuh ke acara pernikahan saya. Baliau pirsa dan merestui saja rasanya sudah sangat menguntungkan saya. Tentu saja selain itu, melihat kalimat-kalimat dawuh beliau ketika saya aturkan undangan, saya tidak berharap dan mupus diri sekaligus sudah siap dan memaklumi kalau toh memang beliau kelak—karena satu dan lain hal—batal dan tidak jadi rawuh ke pernikahan saya. Toh lagi pula Mbah Nyai memang menanyakan di mana acara resepsi nikah dihelat, namun tanpa sama sekali menanyakan jam berapa acara resepsi dimulai. Saya semakin yakin kans Mbah Nyai untuk rawuh sangatlah sedikit. Namun malam itu saya pulang dengan bahagia, sangat bahagia malahan. Sebab saya sudah mengantongi restu dari Mbah Nyai Nadhiroh. Itu saja, selebihnya saya tidak berharap lebih.

Sampai kemudian di pagi yang cerah tanggal 14 Januari jam 8.15 pagi, di antara sosok lalu lalang yang sibuk mempersiapkan aneka perlengkapan acara respesi, di antara hilir mudik para peladen yang sibuk menyiapkan ini itu demi kelancaran acara, sosok sepuh yang turun dari sebuah mobil yang berhenti persis di depan rumah kami membuat mata saya berkaca-kaca seketika. Sosok sepuh itu—Mbah Nyai Nadhiroh—terlihat sangat cerah hari itu. Berjalan setapak demi setapak didampingi cucu beliau Neng Zufa Alhusna. Acara belum mulai, bahkan panitia masih sibuk mempersiapkan lokasi, sound system jangankan nyala, dicek saja belum.

Saya yang masih sibuk mencoba-coba baju pengantin—yang akhirnya tidak cocok juga karena ukurannya terlalu besar—mematung beberapa saat. Terharu, tentu saja. Air mata menetes tanda bahagia.

Mbah Nyai datang persis bahkan sebelum jadwal resmi acara yang tertera di undangan 8.30 Wib. Untungnya panitia cekatan, sembari menunggu acara dimulai, beliau transit di rumah keluarga. Sekitar jam 9.30 Wib acara resepsi belum dimulai juga. Sembari menunggu undangan datang, oleh protokoler dan panitia kami—penganten-- diminta foto bareng dengan segenap keluarga: bergantian. Banyak dan lama sampai saya tentu saja kehabisan gaya.

Foto sudah selesai namun acara tak kunjung dimulai juga. Mbah Nyai nampak berjalan dari sisi panggung keluar dari rumah transit yang kami sediakan. Berdasarkan musyawarah terbatas keluarga, menimbang kesehatan Mbah Nyai akhirnya diputuskan Mbah Nyai dimohon berkenan memberikan doa buat kami pagi itu sebelum acara resepsi dimulai. Saya yang masih berdiri di atas pelaminan segera menghamburkan diri dan sungkem pada Mbah Nyai. Pelan-pelan kami berdua—saya dan istri—memapah beliau untuk menaiki pelaminan. Mbah Nyai duduk di kursi pelaminan sementara saya dan istri bersimpuh di depan beliau. Doa demi doa Mbah Nyai panjatkan, sementara kami sibuk mengamininya. Berkali-kali Mbah Nyai berdoa “Allahumma Allif bainahuma kama allafta adam wa hawa…”

Sosok perempuan sepuh bernama kecil Siti Nadziroh Manshur itu begitu disiplin, tekun, dan ajek sekaligus iatikomah. Mbah Nyai Nadhiroh lahir pada Sabtu, 31 Desember 1938, saat usia Nahdlatul Ulama, organisasi yang kelak gigih diperjuangkannya, tepat memasuki usia 12 tahun. Nyai Nadhiroh tumbuh sebagai pribadi yang bukan saja berpengetahuan agama yang mumpuni, namun sekaligus teladan yang laik untuk diikuti.

Sosok sepuh itu, Mbah Nyai Nadhiroh Manshur, telah berpulang dengan tenang pada selasa, 20 Maret 2018. Masing-masing kami memiliki saldo kenangan yang boleh berbeda satu sama lainnya, namun sama-sama memiliki kesamaan bahwa saldo kenangan itu tidak pernah bisa terlupakan apalagi terhapuskan. Sugeng tindak Mbah Nyai Nadhiroh, sugeng tindak kedisiplinan…

Jakarta, 21 Maret 2018

Fariz Alniezar

FOLLOW @ INSTAGRAM

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *