Sabtu, 28 Januari 2017

Keseleo Lidah dan Cedera Otak: Belajar dari Arya Aditya

18.44



Semua pada akhirnya hanya lelucon semata. Demikain komedian Charlie Chaplin mengakhiri perenungannya di suatu sore yang sangat bersahaja. Di ujung kariernya, ia berlabuh pada sebuah kesimpulan paripurna: hidup adalah lelucon semata.

Apa yang disimpulkan oleh Chaplin muradif belaka dengan ajaran Al-Quran: bahwa kehidupan hanyalah senda gurau belaka. Chaplin bukan muslim, namun ia merangkak menggunakan segala kemampuannya untuk terus melakukan perenungan-perenungan aforistik sehingga di puncak kesadaran, hasil-hasil kesimpulannya acap ‘beririsan’ dan semakna dengan yang ada di Al-Quran.

Kehidupan memang hanya lelucon semata. Atau kehidupan tidak lebih hanya sekedar permainan dan senda gurau belaka. Anda boleh serius menyikapi permainan itu, atau bebas saja untuk memilih santai-santai menghadapinya. Kemerdekaan ada di tangan kita semua.

Hipup itu bukan soal apa yang kita hadapi dan kita jalani, tapi soal bagaimana cara kita menghadapi. Hidup itu bukan soal apa, tapi soal bagaimana.

Kita semua menyaksikan video amatir yang viral berisi adegan seorang anak kecil berseragam SD yang diberi tebakan oleh Presiden Jokowi. Anak kecil itu, anda tahu, namanya adalah Arya Aditya. Kanak yang masih duduk di bangku SD tersebut konon mengidap ‘freudian slip’ atau parapraxis. Semacam sering keseleo lidah.

Istilah ‘freudian slip’ dalam ilmu psikologi itu nampaknya semukabalah atau mirip-mirip teori kompetensi-performansi yang dipelopori oleh linguis kesohor Noam Chosmky. Dalam dunia linguistik, sesungguhnya kemampuan konsep bahasa sesorang yang ada di dalam batok kepala itu jauh lebih besar dibandingkan yang dikeluarkan via bibir. Yang keluar via bibir menurut sebuah penelitian bahkan tidak sampai 7% dari apa yang ada di dalam batok kepala.

Timbunan yang ada di batok kepala itu oleh Chomsky disebut sebagai kompetensi. Isinya ya muacem-macem: bisa berasal dari pengalaman, kemampuan menyerap bacaan, kemampuan meganalisis, dan seterusnya dan sebagainya. Sementara itu apa yang terucap dan keluar dari bibir disebut dalam istilah linguistik disebut sebagai performasi.

Yang keluar dari bibir tentu saja lebih sedikit. Bahkan kadang tidak singkron. Secerewet-cerewetnya manusia, sengomel-ngomelnya perempuan, sebawel-bawelnya pengamat politik, percayalah yang keluar dari bibirnya tidak sampai lebih dari 10% dari apa yang sebetulnya ada di batok kepalanya.

Mengapa? Sebabnya buanyak. Salah satunya karena dibatasi norma dan kesopanan sekaligus barangkali rasa tidak enak dan sungkan. Pernah kan kita mau ngomong tapi merasa ndak enak, ndak pantes, sungkan, takut dimarahi, takut salah, dan seterusnya dan sebagainya.

Yang terjadi pada Arya Aditya barangkali adalah ketidaksingkronan antara kompetensi dengan performansi. Ketidak cocokan antara pengetahuan dan ucapan. Yang begini ini lebih mudanya kita sebuh sebegai kepleset lisan. Yang begini ini sesungguhnya secara sumir sangat berbeda dengan misalnya keprucut dalam bahasa Jawa. Kelepasan dalam bahasa Betawi atau keceplosan dalam istilah sehari-hari. Kepleset adalah unsur kekeliruan sementara kelepasan adalah lepasnya sesuatu yang sesungguhnya ditutup-tutupi. Di sanalah letak perbedaannya.

Arya Aditya, anda tahu, dilihat dari cara dia mengucapkan macam-macam ikan, ia murni kepleset. Ia sedang megeja struktur bahasa dalam benaknya secara terbata-bata. Lamat-lamat ia mengeja pengetahunnya tentang ikan tongkol yang masih abstrak di pikirannya, namun sialnya lidahnya tidak kompak dengan otaknya sehingga ia ‘berkhianat’ kemudian keluarlah lema: ikan kontol.

Arya Aditya tidak salah. Pengambil video dan yang menyebarkannya juga tidak salah. Yang menonton juga tidak salah. Tidak ada kesalahan. Yang ada hanyalah kekeliruan dalam melafalkan dan cilaknya memang yang diucapkan itu lema yang menurut kita –secara kliru—berdasarkan takhayul konsensus norma kesopanan dianggap sebagai kata-kata yang jorok.

Apakah perkataan Arya Aditya jorok? Saya tegas menjawab tidak. Kejorokan sebuah kata atau kalimat, anda tahu, bukan murni ditentukan oleh kata dan kalimat itu sendiri, namun disebabkan oleh terutama nuansa ketika kata atau kalimat itu diucapkan.

Pertanyaannya, ketika Arya Aditya mengucapkan: Ikan Kontol, tanyakan kepada hati nurani anda lebih dominan mana rasa marah atau rasa terhibur? Mendengar ikan kontol anda merasa jijik, marah, sampai membanting perabotan rumah tangga dan memaki-maki Menteri Pendidikan dan Presiden atau justru sebaliknya terbahak, tergelak, menonton videonya berulang kali, memberitahu teman, menyebarkannya dan diam-diam menyimpannya untuk dilihat di lain hari?

Arya Aditya hanya salah ucap. Ia jauh lebih baik daripada jika ia misalnya salah konsep. Salah konsep ini fatal. Sebab jawaban yang keluar pasti berasal dari asupan pengetahuan yang jelas-jelas keliru.

Maksud saya begini, kalau misalnya Arya Aditya ketika ditanya macam-macam ikan tiba-tiba ia menjawab: Iwak Pitik, Iwak Peyek, Iwan Endok, maka inilah yang disebut kesalahan, bukan kekeliruan.

Mustinya, yang berhak mendapatkan kemarahan adalah Trio Macan, grup vokal dangdut yang secara getol lagi semangat menyanyikan lagu berjudul “Iwak Peyek | Iwak Peyek | Sego Jagung…..”. Merekalah yang menyebabkan anak-anak kita cedera otaknya.

Kita boleh bertaruh, kecuali di belahan bibir vokalis Trio Macan, di belahan ceruk bumi mana kita bisa menemukan Iwak Peyek? Salah konsep, sekali lagi, jauh lebih fatal dibandingkan sekedar salah ucap.

Fariz Alniezar



  

Rabu, 25 Januari 2017

Sadar tapi Telat

19.25


Pengantar:
Saya akan berusaha menulis rutin serial pengalaman-pengalaman saya saat menjalani kehidupan di Denanyar, Jombang. Di kota ‘transit’ itu saya menghabiskan masa-masa remaja. Banyak kenangan, meruah pengalaman, bejibun tetek-bengek mulai yang pahit, manis, sampai yang asam-asam.

Serial ini saya maksudkan hanya untuk sekedar berbagi dan bercerita saja. Dengan cerita, kata seorang sastrawan, pembaca mula-mula tidak akan pernah manaruh rasa curiga. Kekuatan cerita yang bisa memupus kecurigaan pembaca adalah kekuatan yang tidak dimiliki oleh jenis tulisan-tulisan dan karangan lainnya. Buku, diktat, modul, proposal pemikiran, proposal pembangunan, semuanya tidak bisa memasuki dunia pembaca dengan mulus sebagaimana cerita-cerita melenggang dengan sangat mulus di batok kepala pembaca. Boro-boro dibaca, yang ada belum-belum malah sudah dicurigai duluan. Dikatakan kiri lah, dikatakan kanan lah, dikatakan sesat lah, dikatakan komunis lah, dikatakan syiah lah, syibe lah, NU lah, Muhammadiyah lah, PERSIS lah, Persis NU lah, Persis Muhammadiyah lah, dan seterusnya dan sebagainya.

Untuk itu saya mulai bercerita saja. Kata kuncinya: Saya pernah tinggal di Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar-Jombang. Mukimnya di Asrama Az-Ziyadah.


Kecuali kedisiplinan, sejatinya tak ada yang bisa diandalkan dalam usaha-usaha untuk mencapai sebuah kesuksesan. Dan Az-Ziyadah adalah lembaga pendidikan yang berbahan baku, utamanya, kedisiplinan.

Bagi sebagian orang, kedisiplinan kerap dan acap diidentikkan dan diindikasikan dengan aneka sifat yang pejoratif: kaku, keras, kasar, dan lain sebagainya. Namun, sebagaimana lazimnya sebuah perubahan, kedisiplinan juga demikian, ia berjalan setahap demi setahap. Bahkan kerap kali sangat terlambat dirasakan efeknya. Kelak, kalau kita sudah benar-benar menua, kita akan tahu bahwa betapa besarnya manfaat kedisplinan itu.

Jika boleh diringkas diksi yang tepat untuk lembaga pendidikan yang didirikan oleh pasangan Almarhum KH. M. Zaidan Hadi dan Almarhumah Nyai Hj. Zaenab Shohib adalah lembaga kedisiplinan.

Mulanya saya setengah mati tidak begitu sreg dengan pelbagai aturan yang ada. Wajib ini itu, harus begini dan begitu. Dilarang anu dan anu. Ketat, kaku, dan ruwet. Menurut saya waktu itu, dan juga saya kira menurut hampir semua teman yang pernah merasakan model pendidikan asuhan Kiai yang oleh banyak pihak diakui sebagai “mercusuar” Lirboyo di zamannya itu, asrama kami tak ubahnya penjara suci. 

Namun, rasa sesal memang selalu datang terlambat. Sangat lambat malahan. Saya merasa apa yang saya lakukan hari ini, banyak kelambanan, lelet, dan lemot tidak karuan dalam menjalani hidup dikarenakan, besar kemungkinan, akibat kekurangdisiplinan saya saat itu, ketika nyantri.

Saya pernah melakukan jajak pendapat kecil-kecilan pada alumni tamatan Az-Ziyadah. Sembilan dari sepuluh orang menyatakan bahwa yang menonjol dari Az-Ziyadah adalah kedisiplinannya. Bagaimana ndak disiplin, di saat asrama lain, di bawah asuhan pengasuh lain, saat hari jumat tiba, santri bebas-bebasnya menendang bola min thuluil fajri ila ghurubis syamsi, mulai fajar menyingsing sampai gelap turun, sementara kita, hanya boleh main bola sampai menjelang jumatan. Sorenya, apa boleh dikalam karena memang sudah menjadi peraturan, kita harus khataman. Dan terus terang, diam-diam, saya dan beberapa teman yang tidak sanggup saya sebutkan namanya demi kelangsungan supremasi martabatnya dan agar aibnya tetap terjaga, merasa tidak “sreg” dan melakukan pemberontakan kecil dalam hati. Ihwal jenis pemberontakan ini, kapan-kapan saja saya ceritakan.

Ya, namanya juga anak-anak. Kami belum mengerti betul apa tujuan rangkaian kegiatan di asrama yang kepadatan jadwalnya melebihi kepadatan jumlah penduduk di pinggiran Jakarta itu.

Butuh waktu lama bagi kita, setidaknya bagi saya, untuk minimal sadar dan “ngeh” bahwa hidupmu, sepintar dan secerdas apapun kemampuan otakmu, itu semua tidak ada artinya sama sekali jika tidak dilandasi kedisiplinan dalam menjalankan hidup. Apapun. Betapa saya menjadi sadar sesadar-sadarnya dan menyesal sesesal-sesalnya suatu ketika dalam seklebatan renungan saya menyadari bahwa diperhatikan atau tidak, matahari selalu disiplin terbit persis di saat waktunya. Ia menjalaninya dengan disiplin. Bukan seperti saya, subuhan saja melulu telat dan jadi langganan takziran.

Kelak, buah ketidakdisiplinan saya itu membuat telinga saya saban pagi karib sekali dengan sapaan seperti ini:

“Bangun pagi untuk subuhan saja susah, bagaimana mau bangun rumah tangga???!!!”

Mendengar sapaan itu, tiba-tiba saya melihat Kak Jonru. Ia lewat di depan saya dan bilang: “Kelar Hidup Lo!”.


Bersambung

Selasa, 24 Januari 2017

Modin Soimun dan Hikadjat Singkat Lainnja

18.53


Judul                      Modin Soimun dan Hikadjat Singkat Lainnja  
Penulis                   Fariz Alniezar
Penerbit                 Indiebook 
Tanggal terbit         2015
Berat Baku             -
Jenis Cover           Soft Cover
Dimensi(L x P)       -
Kategori                 Cerpen
Bonus -
Text                       Bahasa Indonesia


Sinopsis:
Dengan kekuatan narasi penuh ironi dan sindiran, kisah-kisah yang cenderung satir di berbagai cerita pendek dalam kumcer ini tidal sedikit yang menusuk kesadaran kita sebagai seorang hamba Tuhan sekaligus seorang makhluk sosial. Sebuah kumcer yang layak jadi koleksi bagi anda precinta cerita-cerita ironi yang membenturkan berama konsep agama. ·





Akronim

17.03

Kementerian dalam Negeri yang lebih nyaman di lidah dan karib di telinga didengar dengan Kemendagri mengeluarkan surat edaran bernomor 100/449/SJ yang berisi tentang instruksi penyeragaman penyebutan nama Presiden Republik Indonesia. Melalui surat resmi yang ditujukan kepada seluruh Sekretaris daerah provinsi dan kabupaten/kota tersebut Kementerian dalam Negeri menyatakan bahwa nama resmi Presiden RI dalam acara formal kenegaraan adalah Jokowi.
Sesungguhnya tidak ada yang baru dengan penyebutan nama tersebut. Nama Jokowi sudah sangat karib di telinga rakyat Indonesia bahkan telah mendunia. Dalam pada itu, dengan “Jokowi” pulalah pengusaha mebel yang sekarang menjadi Presiden yang bernama lengkap Joko Widodo itu melenggang mulus dari balaikota ke Istana Negara. Singkatnya, nama Jokowi adalah label politik yang mampu mengisi ruang kosong gejala elitisme birokratis yang menempel pada para politikus dan presdien-presiden pendahulunya.
Kita tahu bahwa salah satu kegemaran masyarakat Indonesia yang sangat sulit untuk dibendung adalah kegemaran dalam membuat akronim. Kegemaran membuat akronim tersebut terjadi di semua lini dan segmen kehidupan. Mulai dari politik, pendidikan, sampai dunia hiburan.
Pertumbuhan akronim dalam waktu yang cepat, bahkan sangat singkat menjadi sedemikain rupa bahkan hampir menyaingi pertumbuhan singkatan yang masih menjadi primadona berbahasa masyarakat Indonesia. Dalam politik kita mengenal caleg (calon legislatif), balon (bakal calon),  pemilu (pemilihan umum) dan juga pilkada (pemilihan kepala daerah).
Dalam pendidikan lidah kita lebih ringan mengucapkan kurtilas daripada mengurainya menjadi kurikulum dua ribu tiga belas. Kita lebih semangat menyebut ristek daripada riset dan teknologi. Sementara itu dalam jagad hiburan telinga kita menjadi saksi lahirnya akronim gotik (goyang itik), jadul (jaman dulu), dan juga dugem (dunia gemerlap).
Berangkat dari kenyataan itulah ada baiknya jika kita menyetujui apa yang pernah dikatakan oleh Ajip Rosidi (2011) bahwa kegemaran membuat akronim sudah menjadi semacam hobi utama masyarakat Indonesia. Ia lebih jauh berpendapat bahwa kegemaran membuat akronim itu kemudian diikuti oleh para jurnalis. Alhasil dengan sekejap akronim-akronim itu mengecambah.
Persoalannya kemudian adalah kebiasaan masyarakat dalam membuat akronim yang sudah mencapai taraf “hobi” tersebut seakan mendapat “legitimasi kultural” dari sang Presiden dengan edaranya tentang penyebutan nama resminya yang diputuskan dengan Jokowi saja, bukan Joko Widodo apalagi Ir. H. Joko Widodo.
Kita sangat menghargai keputusan Presiden. Kita juga sangat meyakini bahwa pemilihan itu tentu didasari atas keinginanya untuk lebih mendekatkan diri kepada rakyat. Ini memang tak lazim, namun itulah keputusannya. Jokowi dalah merek politik sekaligus garansi kesederhanaan yang selama ini telah terbentuk dan mengiringi perjalanan poltik presiden Republik Indoensia ke tujuh ini.  Kita juga setuju dengan Tamam Hasan (2007) bahwa bahasa sesungguhya tidak berhenti pada tataran kata saja. Lebih dari itu, bahasa mengandung pesan. Dalam konteks ini, Presiden Jokowi besar kemungkinan ingin berpesan bahwa dalam memimpin negeri ini ia akan konsisten dengan blusukan dan kesederhanaan yang menjadi label politiknya. Semoga demikian.
Fariz Alniezar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *