Minggu, 22 Januari 2017

Kampanye

Apa yang terpikir di benak kita ketika mendengar kata kampanye?. Tentu saja banyak, secara semantic habit hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Hayakawa bahwa perilaku otentik seseorang bisa dilihat dari reaksinya ketika pertama kali mendengar kata yang disodorkan padanya. Itulah ilmu semantic-habit, menilai perilaku orang ditinjau dari sisi semantic.
Ihwal kampanye, ketika kata tersebut disodorkan kepada kita, banyak bayangan berkelebat menggelayuti ruang imajinasi. Sebagian orang berfikir tentang orasi visi-misi, sebagian yang lain berfikir arak-arakan di jalan, sebagian yang lain malah ada yang berfkir ndangdutan. Ya, singkat kata bermacam-macam respon serta reaksi yang kita temukan.
Namun, di balik riuh rendahnya sebuah kampanye pernahkah terbesit dalam benak kita untuk bertanya secara mendalam epistemologik-filosofis apa sebenarnya makna kampanye?.
Kampanye adalah lema serapan dari bahasa Inggris campaign yang artinya menunjukkan diri. Lema kampanye dalam KBBI diartikan sebagai kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan di parlemen dan sebagainya untuk mendapatkan dukungan dari masa pemilih dalam suatu pemungutan suara. (KBBI: 2008: 613)
Berpijak dari apa yang didefinisikan oleh KBBI di atas, tentu kampanye adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk menarik massa dalam konstelasi perebutan kekuasaan. Artinya, kampanye adalah salah satu cara untuk menunjukkan diri siapa sejatinya ia kepada khalayak ramai dengan harapan khalayak tersebut bersimpati dan memilihnya di kemudian hari.
Namun persoalannya adalah, apakah kampanye hari ini memang demikaian kanyataannya? Sama sekali tidak. Kampanye hari ini adalah kampanye yang sama sekali tidak patut dinamakan kampanye jika kita berpegang teguh pada arti kampanye sebenarnya dalam KBBI. Kampanye hari ini adalah kampanye yang hanya sebatas euphoria, selebrasi orasi di depan massa sendiri lalu kemudian diakhiri dengan pertunjukan musik, biasanya dangdut.
Apa benar bisa disebut kampanye jika Partai Demokrat berkumpul di Senayan dengan massa Demokrat juga? Kemudian ketua umum menyampaikan orasi, visi-misi juga di depan massa yang sama yakni kader partai demokrat itu sendiri. Begitu juga dengan partai-partai lain di negeri ini, Golkar, PKB, PDI-P, PKS, PPP dan sebagainya dan seterusnya, semuanya melakukan hal yang demikian.
Pertanyaannya kemudian, jika memang yang terjadi demikian, yakni kampanye hari ini adalah kampanye di depan “diri” sendiri apa mungkin suara partai akan meningkat, apa mungkin kegiatan tersebut mendulang suara yang lebih? Jawabannya tentu tidak.
Kampanye yang sejati adalah petinggi Partai Golkar menyampaikan orasi serta visi misi di depan kader PDI-P. Pengurus Partai Gerindra menyampaikan program-program partainya di depan kader Partai Demokrat. Artinya dengan cara begitu kran kemungkinan untuk mendulang suara akan terbuka. Sangat mungkin kader Partai Demokrat pindah ke partai PDI-P dikarenakan kepincut visi-misi PDI-P, begitu juga terbuka lebar peluang setelah mendengarkan orasi kebangsaan pengurus Partai Gerindra, beberapa kader PKS memutuskan untuk hijrah ke partai tersebut.
Alangkah baiknya jika itu yang terjadi, namun syaratnya kampanye dibangun dalam iklim serta suasana yang bersifat dialogis. Tidak saling mengecam, menjelekkan, mengampanye hitamkan tanpa data dan bukti nyata. Singkat kata, kampanye partai politik di negara kita berbasis data dan fakta.
Tidak ada salahnya belajar kepada kesalahan kata sebuah adagium lama. Justru pelajaran paling berharga adalah pelajaran yang berakar dari kesalahan itu sendiri. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik? Pengalaman tidak saja disusun dari keberhasilan-keberhasilan namun ia juga dibangun di atas tumpukan-tumpukan kesalahan.
Demikianlah, hal itu juga terjadi pada kesadaran kolektif kita yang selama ini salah dalam mengartikan serta mempraktikkan kampanye. Ironisnya itu dipraktikkan pada tingkat perebutan kekuasaan tertinggi di negara ini. Perebutan presiden, perebutan legislatif.
Dan oh iya satu lagi, mumpung menyinggung kampanye legislatif. Salah satu hal yang layak dan patut untuk dicoba dalam pemilu-pemilu legilatif yang akan datang adalah penerapan kampanye di tempat ibadah dan tempat-tempat yang diyakini sakral lainnya.
Mengapa? Karena logika selama ini yang melarang kampanye di tempat ibadah sebagimana tertuang dalam Pasal 32 ayat 1 (h) Peraturan Komisi Pemilihan Umum no 15. Tahun 2013 secara filosofis mengandung kesalahan logika, sehingga yang terjadi akibat pelarangan menggunakan tempat ibadah sebagai lokus kampanye adalah menjamurnya praktik korupsi. Hal ini penting mengingat, jangan-jangan selama ini para koruptor di negeri ini tatkala menyampaikan visi misi maupun janji-janji politiknya tak pernah mengingat Tuhan. Hal yang berbeda mungkin akan terjadi jika kampanye itu dilakukan di tempat ibadah semacam masjid, gereja, vhihara maupun sinagog yang oleh pemeluk agama diyakini sebagai rumah tuhan.
Dari realitas di atas kita belajar bertanya, apa memang demikian arti kampanye? Lalu mengapa pula kampanye di tempat-tempat ibadah dilarang? Apa landasan filosofisnya?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *