Sabtu, 28 Januari 2017

Keseleo Lidah dan Cedera Otak: Belajar dari Arya Aditya




Semua pada akhirnya hanya lelucon semata. Demikain komedian Charlie Chaplin mengakhiri perenungannya di suatu sore yang sangat bersahaja. Di ujung kariernya, ia berlabuh pada sebuah kesimpulan paripurna: hidup adalah lelucon semata.

Apa yang disimpulkan oleh Chaplin muradif belaka dengan ajaran Al-Quran: bahwa kehidupan hanyalah senda gurau belaka. Chaplin bukan muslim, namun ia merangkak menggunakan segala kemampuannya untuk terus melakukan perenungan-perenungan aforistik sehingga di puncak kesadaran, hasil-hasil kesimpulannya acap ‘beririsan’ dan semakna dengan yang ada di Al-Quran.

Kehidupan memang hanya lelucon semata. Atau kehidupan tidak lebih hanya sekedar permainan dan senda gurau belaka. Anda boleh serius menyikapi permainan itu, atau bebas saja untuk memilih santai-santai menghadapinya. Kemerdekaan ada di tangan kita semua.

Hipup itu bukan soal apa yang kita hadapi dan kita jalani, tapi soal bagaimana cara kita menghadapi. Hidup itu bukan soal apa, tapi soal bagaimana.

Kita semua menyaksikan video amatir yang viral berisi adegan seorang anak kecil berseragam SD yang diberi tebakan oleh Presiden Jokowi. Anak kecil itu, anda tahu, namanya adalah Arya Aditya. Kanak yang masih duduk di bangku SD tersebut konon mengidap ‘freudian slip’ atau parapraxis. Semacam sering keseleo lidah.

Istilah ‘freudian slip’ dalam ilmu psikologi itu nampaknya semukabalah atau mirip-mirip teori kompetensi-performansi yang dipelopori oleh linguis kesohor Noam Chosmky. Dalam dunia linguistik, sesungguhnya kemampuan konsep bahasa sesorang yang ada di dalam batok kepala itu jauh lebih besar dibandingkan yang dikeluarkan via bibir. Yang keluar via bibir menurut sebuah penelitian bahkan tidak sampai 7% dari apa yang ada di dalam batok kepala.

Timbunan yang ada di batok kepala itu oleh Chomsky disebut sebagai kompetensi. Isinya ya muacem-macem: bisa berasal dari pengalaman, kemampuan menyerap bacaan, kemampuan meganalisis, dan seterusnya dan sebagainya. Sementara itu apa yang terucap dan keluar dari bibir disebut dalam istilah linguistik disebut sebagai performasi.

Yang keluar dari bibir tentu saja lebih sedikit. Bahkan kadang tidak singkron. Secerewet-cerewetnya manusia, sengomel-ngomelnya perempuan, sebawel-bawelnya pengamat politik, percayalah yang keluar dari bibirnya tidak sampai lebih dari 10% dari apa yang sebetulnya ada di batok kepalanya.

Mengapa? Sebabnya buanyak. Salah satunya karena dibatasi norma dan kesopanan sekaligus barangkali rasa tidak enak dan sungkan. Pernah kan kita mau ngomong tapi merasa ndak enak, ndak pantes, sungkan, takut dimarahi, takut salah, dan seterusnya dan sebagainya.

Yang terjadi pada Arya Aditya barangkali adalah ketidaksingkronan antara kompetensi dengan performansi. Ketidak cocokan antara pengetahuan dan ucapan. Yang begini ini lebih mudanya kita sebuh sebegai kepleset lisan. Yang begini ini sesungguhnya secara sumir sangat berbeda dengan misalnya keprucut dalam bahasa Jawa. Kelepasan dalam bahasa Betawi atau keceplosan dalam istilah sehari-hari. Kepleset adalah unsur kekeliruan sementara kelepasan adalah lepasnya sesuatu yang sesungguhnya ditutup-tutupi. Di sanalah letak perbedaannya.

Arya Aditya, anda tahu, dilihat dari cara dia mengucapkan macam-macam ikan, ia murni kepleset. Ia sedang megeja struktur bahasa dalam benaknya secara terbata-bata. Lamat-lamat ia mengeja pengetahunnya tentang ikan tongkol yang masih abstrak di pikirannya, namun sialnya lidahnya tidak kompak dengan otaknya sehingga ia ‘berkhianat’ kemudian keluarlah lema: ikan kontol.

Arya Aditya tidak salah. Pengambil video dan yang menyebarkannya juga tidak salah. Yang menonton juga tidak salah. Tidak ada kesalahan. Yang ada hanyalah kekeliruan dalam melafalkan dan cilaknya memang yang diucapkan itu lema yang menurut kita –secara kliru—berdasarkan takhayul konsensus norma kesopanan dianggap sebagai kata-kata yang jorok.

Apakah perkataan Arya Aditya jorok? Saya tegas menjawab tidak. Kejorokan sebuah kata atau kalimat, anda tahu, bukan murni ditentukan oleh kata dan kalimat itu sendiri, namun disebabkan oleh terutama nuansa ketika kata atau kalimat itu diucapkan.

Pertanyaannya, ketika Arya Aditya mengucapkan: Ikan Kontol, tanyakan kepada hati nurani anda lebih dominan mana rasa marah atau rasa terhibur? Mendengar ikan kontol anda merasa jijik, marah, sampai membanting perabotan rumah tangga dan memaki-maki Menteri Pendidikan dan Presiden atau justru sebaliknya terbahak, tergelak, menonton videonya berulang kali, memberitahu teman, menyebarkannya dan diam-diam menyimpannya untuk dilihat di lain hari?

Arya Aditya hanya salah ucap. Ia jauh lebih baik daripada jika ia misalnya salah konsep. Salah konsep ini fatal. Sebab jawaban yang keluar pasti berasal dari asupan pengetahuan yang jelas-jelas keliru.

Maksud saya begini, kalau misalnya Arya Aditya ketika ditanya macam-macam ikan tiba-tiba ia menjawab: Iwak Pitik, Iwak Peyek, Iwan Endok, maka inilah yang disebut kesalahan, bukan kekeliruan.

Mustinya, yang berhak mendapatkan kemarahan adalah Trio Macan, grup vokal dangdut yang secara getol lagi semangat menyanyikan lagu berjudul “Iwak Peyek | Iwak Peyek | Sego Jagung…..”. Merekalah yang menyebabkan anak-anak kita cedera otaknya.

Kita boleh bertaruh, kecuali di belahan bibir vokalis Trio Macan, di belahan ceruk bumi mana kita bisa menemukan Iwak Peyek? Salah konsep, sekali lagi, jauh lebih fatal dibandingkan sekedar salah ucap.

Fariz Alniezar



  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *