Rabu, 25 Januari 2017

Sadar tapi Telat



Pengantar:
Saya akan berusaha menulis rutin serial pengalaman-pengalaman saya saat menjalani kehidupan di Denanyar, Jombang. Di kota ‘transit’ itu saya menghabiskan masa-masa remaja. Banyak kenangan, meruah pengalaman, bejibun tetek-bengek mulai yang pahit, manis, sampai yang asam-asam.

Serial ini saya maksudkan hanya untuk sekedar berbagi dan bercerita saja. Dengan cerita, kata seorang sastrawan, pembaca mula-mula tidak akan pernah manaruh rasa curiga. Kekuatan cerita yang bisa memupus kecurigaan pembaca adalah kekuatan yang tidak dimiliki oleh jenis tulisan-tulisan dan karangan lainnya. Buku, diktat, modul, proposal pemikiran, proposal pembangunan, semuanya tidak bisa memasuki dunia pembaca dengan mulus sebagaimana cerita-cerita melenggang dengan sangat mulus di batok kepala pembaca. Boro-boro dibaca, yang ada belum-belum malah sudah dicurigai duluan. Dikatakan kiri lah, dikatakan kanan lah, dikatakan sesat lah, dikatakan komunis lah, dikatakan syiah lah, syibe lah, NU lah, Muhammadiyah lah, PERSIS lah, Persis NU lah, Persis Muhammadiyah lah, dan seterusnya dan sebagainya.

Untuk itu saya mulai bercerita saja. Kata kuncinya: Saya pernah tinggal di Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar-Jombang. Mukimnya di Asrama Az-Ziyadah.


Kecuali kedisiplinan, sejatinya tak ada yang bisa diandalkan dalam usaha-usaha untuk mencapai sebuah kesuksesan. Dan Az-Ziyadah adalah lembaga pendidikan yang berbahan baku, utamanya, kedisiplinan.

Bagi sebagian orang, kedisiplinan kerap dan acap diidentikkan dan diindikasikan dengan aneka sifat yang pejoratif: kaku, keras, kasar, dan lain sebagainya. Namun, sebagaimana lazimnya sebuah perubahan, kedisiplinan juga demikian, ia berjalan setahap demi setahap. Bahkan kerap kali sangat terlambat dirasakan efeknya. Kelak, kalau kita sudah benar-benar menua, kita akan tahu bahwa betapa besarnya manfaat kedisplinan itu.

Jika boleh diringkas diksi yang tepat untuk lembaga pendidikan yang didirikan oleh pasangan Almarhum KH. M. Zaidan Hadi dan Almarhumah Nyai Hj. Zaenab Shohib adalah lembaga kedisiplinan.

Mulanya saya setengah mati tidak begitu sreg dengan pelbagai aturan yang ada. Wajib ini itu, harus begini dan begitu. Dilarang anu dan anu. Ketat, kaku, dan ruwet. Menurut saya waktu itu, dan juga saya kira menurut hampir semua teman yang pernah merasakan model pendidikan asuhan Kiai yang oleh banyak pihak diakui sebagai “mercusuar” Lirboyo di zamannya itu, asrama kami tak ubahnya penjara suci. 

Namun, rasa sesal memang selalu datang terlambat. Sangat lambat malahan. Saya merasa apa yang saya lakukan hari ini, banyak kelambanan, lelet, dan lemot tidak karuan dalam menjalani hidup dikarenakan, besar kemungkinan, akibat kekurangdisiplinan saya saat itu, ketika nyantri.

Saya pernah melakukan jajak pendapat kecil-kecilan pada alumni tamatan Az-Ziyadah. Sembilan dari sepuluh orang menyatakan bahwa yang menonjol dari Az-Ziyadah adalah kedisiplinannya. Bagaimana ndak disiplin, di saat asrama lain, di bawah asuhan pengasuh lain, saat hari jumat tiba, santri bebas-bebasnya menendang bola min thuluil fajri ila ghurubis syamsi, mulai fajar menyingsing sampai gelap turun, sementara kita, hanya boleh main bola sampai menjelang jumatan. Sorenya, apa boleh dikalam karena memang sudah menjadi peraturan, kita harus khataman. Dan terus terang, diam-diam, saya dan beberapa teman yang tidak sanggup saya sebutkan namanya demi kelangsungan supremasi martabatnya dan agar aibnya tetap terjaga, merasa tidak “sreg” dan melakukan pemberontakan kecil dalam hati. Ihwal jenis pemberontakan ini, kapan-kapan saja saya ceritakan.

Ya, namanya juga anak-anak. Kami belum mengerti betul apa tujuan rangkaian kegiatan di asrama yang kepadatan jadwalnya melebihi kepadatan jumlah penduduk di pinggiran Jakarta itu.

Butuh waktu lama bagi kita, setidaknya bagi saya, untuk minimal sadar dan “ngeh” bahwa hidupmu, sepintar dan secerdas apapun kemampuan otakmu, itu semua tidak ada artinya sama sekali jika tidak dilandasi kedisiplinan dalam menjalankan hidup. Apapun. Betapa saya menjadi sadar sesadar-sadarnya dan menyesal sesesal-sesalnya suatu ketika dalam seklebatan renungan saya menyadari bahwa diperhatikan atau tidak, matahari selalu disiplin terbit persis di saat waktunya. Ia menjalaninya dengan disiplin. Bukan seperti saya, subuhan saja melulu telat dan jadi langganan takziran.

Kelak, buah ketidakdisiplinan saya itu membuat telinga saya saban pagi karib sekali dengan sapaan seperti ini:

“Bangun pagi untuk subuhan saja susah, bagaimana mau bangun rumah tangga???!!!”

Mendengar sapaan itu, tiba-tiba saya melihat Kak Jonru. Ia lewat di depan saya dan bilang: “Kelar Hidup Lo!”.


Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *