Kamis, 16 Februari 2017

Beda Guru, Beda Ilmu, Satu Laku: Studi Komparatif Pepo SBY dan Ahmad Dhani

16.34


Jika ditanya, siapakah makhluk paling rajin membuat sensasi di dunia maya saat-saat ini? Jawabannya bukan Syahrini bukan pula Ashanty, apalagi Mpok Sylvi. Jawabannya adalah Pepo Susilo Bambang Yudhoyono dan Ahmad Dhani.

Dua hamba Allah inilah yang belakangan kerap muncul dengan lakunya masing-masing. Polanya memang beda, namun irisannya sama: keduanya mengundang reaksi netizen. Keduanya panen perhatian sakaligus hujatan. Singkatnya: keduanya memang sensasienel.

Ibarat cacing, barangkali Pepo SBY dan Ahmad Dhani adalah cacing yang sedang kepanasan. Kluget-kluget mueret-mulungker ndak karu-karuan.

Dari serangkaian tingkah-polah keduanya itu, saya mencoba merangkum persamaan yang sekaligus mengandung perbedaan di antara keduanya:

1. Doyan curhat
Beberapa waktu lalu, melalui kicauan di akun twitter resminya, Pepo Susilo Bambang Yudhoyono membuat geger dunia maya. Curhatan Pepo, menuai banyak cibiran.

Alih-alih memberi simpati dan solusi, netizen malah ramai-ramai merundung pria bercucu tiga ini. Banyak komentar yang malah kelewat nyinyir dan memandang bahwa Pepo SBY sudah frustrasi dengan keadaan.

Pepo memang tak kunjung belajar. Maksud saya, Pepo nampkanya salam hal ini bukanlah pembelajar yang baik. Pepo tidak pernah belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya saat menumpahkan curhatan di dunia maya. Ujungnya, Pepo masuk ke lobang yang sama berkali-kali. Padahal saya yakin bahwa Pepo hapal betul sanepo yang bilang keledai tidak akan pernah jatuh ke lubang yang sama kedua kali.

Kalau toh misalnya ada keledai yang jatuh ke lobang yang sama sebanyak dua kali, percayalah, itu pertanda bahwa bukan saja keledainya yang dongok, namun lobangnya juga capek. “Dia lagi, dia lagi,” begitu kira-kira keluhan si lubang.

Pepo SBY mendayu-dayu ala lakon film-film Bollywood. Pepo selalu ingin menampakan dirinya teraniaya.

Strategi Bollywood ini, ada tahu, adalah strategi yang sudah lama ia mainkan. Tercatat, strategi startegi ini, dimainkan sejak Pepo mencalonkan diri menjadi presiden untuk pertama kalinya pada tahun 2004.

Ahmad Dhani juga demikian. Di balik wataknya yang terkesan arogan, pria yang mengaku tidak menerima terjemahan Al-Quran versi Kemenag ini, tercatat gemar curhat di akun pribadinya.

Bedanya, jika Pepo SBY mendatyu-dayu, maka Ahmad Dhani curhatnya masih dengan pola arogansinya. Sebut misalnya: Malam ini di depan kamar di hotel Sari Pan Pasifik, orang mengaku dari Polda mencari saya. ‪#ADP. Nuansa kalimat itu meskipun dalam dalam keadaan ketakutan, namun masih kental aroma arogansinya.

2. Sama-sama Presiden
Kita boleh nyinyir pada dua makhluk ini. Namun yang penting untuk diingat oleh kita semua adalah fakta bahwa keduanya adalah sama-sama pernah manjabat sebagai Presiden. Malah Ahmad Dhani sampai sekarang kayaknya masih jadi Presiden.

Sebagai presiden keduanya berarti sama-sama pernah menjadi pemimpin tertinggi di ‘negara’-nya masing-masing. Pepo SBY memimpin Republik Indonesia dan Ahmad Dhani memimpin Republik Cinta Management.

3. Sama-sama Pengarang Lagu
Siapa yang meragukan dan mengingkari kemusisian Ahmad Dhani? Setiap orok yang terlahir di ibu pertiwi tahu bahwa Ahmad Dhani adalah pengarang lagu yang mumpuni. Puluhan album berhasil ia ciptakan. Banyak lagu hits ia hasilkan. Kemusisian Ahmad Dhani hanya akan redup jika dibandingkan dengan Bung Haji Oma Irama. Di hadapan Raja Dangdut, Presiden RCM hanya butiran debu.

Persis. Meskipun dengan skala yang berbeda, Pepo SBY juga pengarang lagu yang handal. Bahkan sastrawan cum kriktikus musik Remy Sylado repot-repot membuat buku Pak Presiden Menyanyi yang isinya secara lengkap membahas lagu-lagu dan sajak Pepo SBY.

Lagu-lagunya memang tidak ada yang hist sih, namun penting untuk dicatat bahwa lagu-lagu yang diciptakan oleh Pepo SBY itu lahir saat ia masih aktif menjabat sebagai Presiden. Bukan manusia biasa, kalau di tengah kesibukannya sebagai pemimpin negara, nyatanya masih bisa menciptakan lagu-lagu dan bersenansung ria.

4. Sama-sama mencetuskan Hari Raya
Ingat ketika ramai-ramai Jokowi bertandang ke Hambalang mengunjungi Prabowo? Ada adegan keduanya menunggang kuda. Jokowi tersenyum, Prabowo juga tersenyum, kuda yang ditungnggai Jokowi juga tersenyum. Semuanya nampaknya gembira. Media ramai memberitakannya. Sesaat setelah itu SBY melakukan konferensi pers. Di depan para wartawan SBY bilang “kalau tuntutannya (para pengunjuk rasa Jumat nanti) tidak didengar, sampai lebaran kuda bakal ada unjuk rasa.'' Catat: lebaran kuda.

Kalaulah Sastrawan Sitor Situmorang masih hidup, ia akan merevisi sajaknya yang bertajuk “Malam Lebaran” itu. Saya membayangkan sajak itu akan diubah menjadi:

Malam Lebaran

Kuda di atas kuburan

Ahmad Dhani juga sama. Hari ini dia menulis di akun twitter dan juga intragramnya begini: Seruan Abu Al Ghazali kepada Muslim DKI untuk Merayakan Hari Raya Al-Maidah 51 Pada Tanggal 15 Februari 2017.


Dahsyat. Kedua beliau ini sama-sama memiliki keahlian untuk membikin hari raya. Sayangnya, baik Pepo maupun Ahmad Dhani tidak pernah menjelaskan metode apa yang digunakan untuk menentukan jatuhnya hari raya tersebut: hisab ataukah rukyah? Padahal umat sering dibuat rebut oleh perdebatan beginian.

5. Sama-sama Bermunajat Cinta
Terakhir, jika Ahmad Dhani beberapa tahun lalu dengan grup band The Rock Indonesia bentukannya ngehits dengan lagu berjudul Munajat Cinta, maka Pepo SBY juga tidak mau kalah, di malam Dies Natalis ke-15 Partai Demokrat Pepo menyanyi Munajat Cinta dengan bagian referain yang diubah: “Tuhan kirimkanlah aku, gubernur yang baik hati yang mencintai rakyatnya apa adanya”. Pepo memang ayah yang baik. Seorang teman bilang bahwa menjadi Agus Yudhoyono barangkali cita-cita semua anak manusia. “Agus beruntung dan pintar memilih sosok ayah,” kata teman itu.

Demikianlah. Semakin keras kita menampik keduanya berbeda, semakin nyata pula persamaan dan irisan keduanya. Paling tidak keduanya nampaknya saling mempengaruhi satu sama lain. Dan antara laut dan langit, tidak jelas siapakah yang membirui. Langitkah yang membirui laut atau justru laut yang membirui langit.

Meminjam Shopia Latjuba, tak ada kebetulan di dunia ini. Sebab semua berjalan atas rencana Tuhan. Ya, rencana Tuhan untuk menghibur kita yang terancam pecah kepala gegara pilkada.


Fariz Alniezar

Senin, 13 Februari 2017

Kebudayaan Waktu Kita

09.24


Edward T. Hall dalam opusnya the Dance of Life membagi karakter serta corak kebudayaan masyarakat menjadi dua tipologi: polikronik dan monokronik. Dua pembagian yang sesungguhnya sampai saat ini masih menyisakan aneka perdebatan. Sikap Hall yang seolah membagi corak masyarakat sebagai corak yang “oposisif” dan saling berhadapan “hitam putih” antara yang polikronik dengan yang monokronik, pada gilrannya menyulut perdebatan hebat dan mewariskan banyak polemik bahkan sepasca kematiannya.
Dalam pandangan Hall, masyarakat polikronik adalah masyarakat yang memiliki pandangan luwes soal waktu. Waktu dipandang secara eklektis dan longgar. Ia bukan dimaknai sebagai satuan presisi, namun justru sebagai satuan ‘kompromi’.
Sebaliknya pada masyarakat monokronik, waktu dipandang sebagai satuan yang saklek dan pas. Biasanya corak masyarakat seperti ini adalah corak masyarakat yang mencitrakan diri sebagai masyarakat yang disiplin dan tepat waktu. Waktu dimaknai sebagai sesuatu yang jika kita melewatkannya maka kita akan rugi secara material. Diktum yang biasa digunakan oleh masyarakat seperti ini adalah time is money. Waktu adalah uang. Jika kita kehilangan waktu maka berarti hal itu muradif belaka bahwa kita kehilangan uang. Kesimpulannya barang siapa kehilangan watu maka ia sama dengan kehilangan uang, dan barang siapa kehilangan uang maka ia masuk pada kaetgori menanggung kerugian.
Cara pandang terhadap waktu adalah cara pendang untung-rugi materi. Ciri seperti ini sangat mudah kita temukan pada masyarakat-masyarakat bercorak industrial yang aktifitasnya sudah diatur dalam satuan presisi yang pas dan tepat. Kita bisa menyaksikan kondisi masyarakat yang demkian misalnya terdapat pada masyarakat yang hidup di negara-negara berlatar belakang industri.
Inggris adalah contoh terbaik untuk menggambarkan masyarakat berpaham monokrnik. Pasca Revolusi Industri yang terjadi dalam kurun rentan 1750-1850, terjadi perubahan secara gigantic di hampir seluruh bidang kehidupan: pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Revolusi Industri juga memiliki dampak yang dahsyat terhadap perubahan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di Inggris atau bahkan di dunia pada umunya.
Pola kerja diatur sedemikian rupa berdasarkan presisi dan satuan jam yang harus ditaati. Pelbagai aturan tekait jam kerja ditelorkan. Dari sanalah muncul istilah jam kerja atau jam kantor.
Pada masyarakat yang demikian itu, kehidupan menjadi sedemikian mekanik dan robotik. Manusia tunduk dan diatur oleh satuan waktu dan jadwal yang ketat dan cenderung kaku.
Tapi di sisi lain, masyarakat monokronik cenderung memiliki tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi. Satuan waktu dalam membuat janji daitur sedemikian rigid. Tidak ada kata terlambat. Tidak ada acara molor. Jika membuat janji patokannya adalah jam, bukan satuan waktu apalagi masa: siang, sore, malam, sekarang, atau nanti.
Sementara itu, masyarakat polikronik adalah masyarakat yang laku lampah dan sikap hidup--utamanya sikap dan pemaknaan terhadap entitas waktu—bersifat lebih luwes dan eklektis. Masyarakat semacam ini biasanya memaknai waktu sebagai sebuah satuan yang tidak harus kaku, ketat, dan presisi.
Ciri masyarakat polikronik biasanya tidak tertekan dan terkungkung oleh presisi waktu. Sikap seperti ini sangat dipengaruhi oleh iklim dan cuaca tempat hidupnya. Kita bisa menemukan corak hidup seperti ini pada masyarakat yang mayoritas mata pencahariannya adalah nelayan dan petani. Dua bidang kerja tersebut memiliki andil besar dalam membentuk pola pikir dan dunia waktu masyarakatnya.
Masyarakat polikronik memaknai waktu sebagai satuan komprimis yang bisa didialogkan. Artinya tidak ada perjanjian yang bersifat kaku.Semuanya bisa didialogkan.
Dalam masyarakat polikronik acara tiba-tiba menjadi berantakan atau batal begitu saja susunannya ketika tiba-tiba pejabat penting yang notabene tidak diungan acara memutuskan untuk hadir. Kadaulatan tertinggi masyarakat polikronik bukan terletak pada aturan yang kaku, namun justru pada keluwesaannya dan komprominya terhadap keadaan.
Satuan yang digunakan untuk menandai janji bisasnya bukan satuan jam namun satuan masa. Pada masyarakat polikronik acap kita menemukan kalimat seperti: “kita bertemu habis isya’” “bakda zuhur saya tunggu di rumah makan”, “kita rapat besok agak sorean”. Semuanya adalah dalil sahih bahwa cara pandang masyarakat polikronik terdadap sebuah waktu adalah cara pandang yang bersifat luwes dan kompromis.
Dari cara pandang terhadap waktu yang demikian longgar tersebut kemudian hari muncullah istilah jam karet. Dalam tradisi pesantren dikenal istilah WIB yang berarti waktu insyaAllah berubah.
Keduanya, baik monokronik ataupun polikronik, dalam hemat saya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Pada kenyatannya, akan sulit kita temukan masyarakat yang sepanjang kebudayaannya mendekap tradisi monokronik yang kaku dan ketat itu. Sepanggang seperapian dengan hal itu, kita juga akan kesulitan setengah mati untuk mencari masyarakat yang kebudayaannya selalu bersetia pada tradisi polikronik.
Indonesia pada titik ini—dalam hemat saya-- adalah sebuah bangsa yang berdiri di dua kaki. Corak industri yang tersebar di perkotaan menggiring masyarakat menjadi pribadi yang monokronik, sementara kultur pendesaan yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan, mayoritas pendudukan sudah pasti berbudaya polikronik serta lentur dalam memandang waktu.
Alakulli hal, mempertentangkan kebudayaan polikornik dengan monokronik dengan ara hitam putih dan oposisi biner adalah tindakan yang kurang tepat, jika tidak mau dikatakan salah. Sebab batas antara keduanya dalam parktik kehidupan nyata sangat sumir adanya.

Fariz Alniezar
Artikel ini diterbitkan di Kompas, Senin 13 Februari 2017 




Kamis, 02 Februari 2017

Klotekan: Sebuah Manifesto Nadzaman

18.25


Sore itu, saya masih ingat betul, sembari tegopoh-gopoh, seorang kawan berlari menuju ruang kelas. Bel yang menandakan jam pelajaran sudah segera harus dimulai telah berbunyi dan lunas ditelan gendang telinga beberapa menit sebelumnya.

Seorang kawan itu, anda tahu, pakaiannya barangkali invalid: memakai sarung dan bersepatu. Pakaian yang kala itu jamak ditemukan, apalagi di pesantren. Bukan karena pilihan, memang karena keadaan yang memaksa sehingga lahirlah mode pakaian yang demikian.

Antrian mandi yang mengular panjang, waktu diniah yang sudah mepet, sandal pribadi yang sudah lenyap digasab santri yang lebih senior, maka terpaksa, tak ada pilihan lain selain mengenakan sepatu sebagai alas kaki.

Soal gasab-menggasap ini, barangkali tidak akan habis jika diceritakan di sini. Lika-liku jaringan dunia pergasaban ini sedemikian rumit dan canggihnya. Maka, ia butuh penjelasan maha panjang untuk sekedar menggambarkan jaringan pergasaban ini, kapan-kapan.

Ketika kawan itu masuk ke dalam kelas melalui bibir pintu, kami, anak-anak diniah, sudah mulai beratraksi menabuh bangku dan kursi sembari melantunkan nadzam. Aktivitas seperti ini karib disebut dengan nadzaman.

Nadzaman adalah satu tradisi santri yang tidak bisa diabaikan eksistensinya begitu saja. Ia adalah tradisi melantunkan bait-bait nadzam.

Dalam pelaksanannya, nadzaman selalu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya, mungkin saya rasa juga buat santri-santri lainnya. Ritual pembacaan nadzam yang dilatunkam dengan lagu-lagu tertentu, membuat kami--santri saat itu--menjadi sedemikian girangnya. Bahkan tidak jarang diselingi klotekan dan joget-joget ala harlem shake seadanya.

Saban hari. Saban sebelum pelajaran dimulai, kami selalu memulai ritus pelajaran diniah dengan melantunkan bait-bait nadzam. Sebagian kita ada yang hapal, sebagian yang lain ada yang tidak. Yang pasti, hapal atawa tidak, semua santri larut dalam riuhnya euforia bernadzam ria.

Saya ingat, saat kelas dua madrasah diniah, kewajiban kami adalah--salah satunya--menghapal nadzam Tuhfatul Athfal. Nadzam ini karangan Syaikh Sulaiman Al-Jamzuri.

Jumlahnya hanya puluhan bait saja dan isinya seputar ilmu tajwid. Semacam ilmu paling dasar untuk bisa membaca Al-Quran dengan benar. Baru ilmu untuk membaca ya, belum ilmu untuk mengartikan. Ini penting untuk saya ingatkan agar kita paham betapa berlikunya jalan untuk mempelajari Al-Quran.

Jauh setelah kita belajar tajwid, kelak kita akan diajari ulumul Qur'an, Ulumul tafsir, Ilmu Balagah: badi, bayan, ma'ani. Pokoknya untuk bisa membaca, mengartikan, apalagi menafsirkan Al-Quran itu jalannya berkelok-kelok. Lha sekarang? Baru hapal 1-10 ayat saja ucapan, perilaku, dan tindakannya kayak yang paling paham isi Al-Quran.

Tolong dicatat: kegagalan manusia modern adalah karena mereka terlalu sibuk mempelajari Al-Quran, bukan belajar dari Al-Quran.

Kalimat di atas agak kontroversial memang. Boleh dibantah, namun saran saya renungkan pelan-pelan sembari buang air besar. Semoga paham.
Kelas dua diniyah, saya ingat, di nadzam Tuhfatul Athfal itu ada sebait nadzam berbunyi seperti ini:
"Shif dzà tsanà kam jàda syakhsun qad samà * Dum thaiyyiban zid fi tuqan dza' dhàliman"

Bait ini kelihatannya hanya berbicara rumus huruf ikhfa'. Rangkaian huruf yang ada di depan setiap suku kata dalam nadzam tersebut adalah huruf ikhfa. Maka ketika huruf-huruf itu bertemu dengan nun mati, maka di sana terjadilah bacaan ikhfa'.

Jauh di balik yang kasat itu, anda tahu, sesungguhnya ada rumus bekal hidup yang ditawarkan pengarang:

Pertama: Shif dzà tsanà kam jàda syakhsun qad samà
Ikutilah jejak dan lelaku orang-orang terpuji. Betapa banyak orang-orang yang diangkat derajatnya.

Kedua: Dum thaiyyiban
Lestarikanlah berbuat baik. Lakukan yang terbaik.

Ketiga: zid fi tuqan
Tambah terus kualitas ketakwaan.

Terakhir: dza' dhàliman
Tundukkan kezaliman.


Dari sana kita belajar ada tiga tahap yang musti kita bereskan dulu dalam diri kita sebelum terburu-buru koar-koar melawan kezaliman. Pertama: bergumul dan meneladani pribadi-pribadi yang baik. Kedua, selalu berbuat baik. Ketiga, berusaha untuk selalu meningkatkan kualitas ketakwaan. Setelah itu semua rampung, barulah kita “boleh” berperang melawan kezaliman.

Di lain kesempatan, Syaikh Sulaiman Al-Jamzuri juga punya resep begini:

"Thib tsumma shil rahman tafuz dhif dzà ni'am * Da' su'adzannin zur syarīfan lil karam"


Arti bebasnya seperti ini: Perbaikilah sikapmu lalu perbanyaklah silaturrahim maka dirimu akan bahagia, hormatilah tamu dan pandai-pandailah bersyukur syukurilah atas nikmat, tinggalkan berburuk sangka dan rajin-rajinlah sowan kepada orang-orang yang baik karena kemuliaannya.

Sayang, sayang sekali, kebanyakan kita waktu itu hanya mengenal rumus dan resep itu sebatas deretan huruf tajwid semata. Namun, sebegaimana pepatah, lebih baik telat daripada telat sekali. Toh, kelak, setelah beberapa tahun kemudian sepasca beringsut dari pesantren, lambat laun beberapa teman saya sudah mulai memahami bahwa nadzam yang mereka lantunkan dulu kala itu bukan main-main artinya. Ia sangat serius dan dalam maknanya.

Demikianlah santri, demikianlah pesantren. Kita bisa mendendangkan hal-hal yang serius, bahkan kelewat serius dengan cara yang selo dan begejekan. Kami bisa asyik-masyuk dalam alunan klotekan bernada koplo sembari melantunkan nadzam-nadzam yang sesungguhnya sakral itu.

                                                                                                     Bersambung


Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *