Kamis, 16 Februari 2017

Beda Guru, Beda Ilmu, Satu Laku: Studi Komparatif Pepo SBY dan Ahmad Dhani



Jika ditanya, siapakah makhluk paling rajin membuat sensasi di dunia maya saat-saat ini? Jawabannya bukan Syahrini bukan pula Ashanty, apalagi Mpok Sylvi. Jawabannya adalah Pepo Susilo Bambang Yudhoyono dan Ahmad Dhani.

Dua hamba Allah inilah yang belakangan kerap muncul dengan lakunya masing-masing. Polanya memang beda, namun irisannya sama: keduanya mengundang reaksi netizen. Keduanya panen perhatian sakaligus hujatan. Singkatnya: keduanya memang sensasienel.

Ibarat cacing, barangkali Pepo SBY dan Ahmad Dhani adalah cacing yang sedang kepanasan. Kluget-kluget mueret-mulungker ndak karu-karuan.

Dari serangkaian tingkah-polah keduanya itu, saya mencoba merangkum persamaan yang sekaligus mengandung perbedaan di antara keduanya:

1. Doyan curhat
Beberapa waktu lalu, melalui kicauan di akun twitter resminya, Pepo Susilo Bambang Yudhoyono membuat geger dunia maya. Curhatan Pepo, menuai banyak cibiran.

Alih-alih memberi simpati dan solusi, netizen malah ramai-ramai merundung pria bercucu tiga ini. Banyak komentar yang malah kelewat nyinyir dan memandang bahwa Pepo SBY sudah frustrasi dengan keadaan.

Pepo memang tak kunjung belajar. Maksud saya, Pepo nampkanya salam hal ini bukanlah pembelajar yang baik. Pepo tidak pernah belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya saat menumpahkan curhatan di dunia maya. Ujungnya, Pepo masuk ke lobang yang sama berkali-kali. Padahal saya yakin bahwa Pepo hapal betul sanepo yang bilang keledai tidak akan pernah jatuh ke lubang yang sama kedua kali.

Kalau toh misalnya ada keledai yang jatuh ke lobang yang sama sebanyak dua kali, percayalah, itu pertanda bahwa bukan saja keledainya yang dongok, namun lobangnya juga capek. “Dia lagi, dia lagi,” begitu kira-kira keluhan si lubang.

Pepo SBY mendayu-dayu ala lakon film-film Bollywood. Pepo selalu ingin menampakan dirinya teraniaya.

Strategi Bollywood ini, ada tahu, adalah strategi yang sudah lama ia mainkan. Tercatat, strategi startegi ini, dimainkan sejak Pepo mencalonkan diri menjadi presiden untuk pertama kalinya pada tahun 2004.

Ahmad Dhani juga demikian. Di balik wataknya yang terkesan arogan, pria yang mengaku tidak menerima terjemahan Al-Quran versi Kemenag ini, tercatat gemar curhat di akun pribadinya.

Bedanya, jika Pepo SBY mendatyu-dayu, maka Ahmad Dhani curhatnya masih dengan pola arogansinya. Sebut misalnya: Malam ini di depan kamar di hotel Sari Pan Pasifik, orang mengaku dari Polda mencari saya. ‪#ADP. Nuansa kalimat itu meskipun dalam dalam keadaan ketakutan, namun masih kental aroma arogansinya.

2. Sama-sama Presiden
Kita boleh nyinyir pada dua makhluk ini. Namun yang penting untuk diingat oleh kita semua adalah fakta bahwa keduanya adalah sama-sama pernah manjabat sebagai Presiden. Malah Ahmad Dhani sampai sekarang kayaknya masih jadi Presiden.

Sebagai presiden keduanya berarti sama-sama pernah menjadi pemimpin tertinggi di ‘negara’-nya masing-masing. Pepo SBY memimpin Republik Indonesia dan Ahmad Dhani memimpin Republik Cinta Management.

3. Sama-sama Pengarang Lagu
Siapa yang meragukan dan mengingkari kemusisian Ahmad Dhani? Setiap orok yang terlahir di ibu pertiwi tahu bahwa Ahmad Dhani adalah pengarang lagu yang mumpuni. Puluhan album berhasil ia ciptakan. Banyak lagu hits ia hasilkan. Kemusisian Ahmad Dhani hanya akan redup jika dibandingkan dengan Bung Haji Oma Irama. Di hadapan Raja Dangdut, Presiden RCM hanya butiran debu.

Persis. Meskipun dengan skala yang berbeda, Pepo SBY juga pengarang lagu yang handal. Bahkan sastrawan cum kriktikus musik Remy Sylado repot-repot membuat buku Pak Presiden Menyanyi yang isinya secara lengkap membahas lagu-lagu dan sajak Pepo SBY.

Lagu-lagunya memang tidak ada yang hist sih, namun penting untuk dicatat bahwa lagu-lagu yang diciptakan oleh Pepo SBY itu lahir saat ia masih aktif menjabat sebagai Presiden. Bukan manusia biasa, kalau di tengah kesibukannya sebagai pemimpin negara, nyatanya masih bisa menciptakan lagu-lagu dan bersenansung ria.

4. Sama-sama mencetuskan Hari Raya
Ingat ketika ramai-ramai Jokowi bertandang ke Hambalang mengunjungi Prabowo? Ada adegan keduanya menunggang kuda. Jokowi tersenyum, Prabowo juga tersenyum, kuda yang ditungnggai Jokowi juga tersenyum. Semuanya nampaknya gembira. Media ramai memberitakannya. Sesaat setelah itu SBY melakukan konferensi pers. Di depan para wartawan SBY bilang “kalau tuntutannya (para pengunjuk rasa Jumat nanti) tidak didengar, sampai lebaran kuda bakal ada unjuk rasa.'' Catat: lebaran kuda.

Kalaulah Sastrawan Sitor Situmorang masih hidup, ia akan merevisi sajaknya yang bertajuk “Malam Lebaran” itu. Saya membayangkan sajak itu akan diubah menjadi:

Malam Lebaran

Kuda di atas kuburan

Ahmad Dhani juga sama. Hari ini dia menulis di akun twitter dan juga intragramnya begini: Seruan Abu Al Ghazali kepada Muslim DKI untuk Merayakan Hari Raya Al-Maidah 51 Pada Tanggal 15 Februari 2017.


Dahsyat. Kedua beliau ini sama-sama memiliki keahlian untuk membikin hari raya. Sayangnya, baik Pepo maupun Ahmad Dhani tidak pernah menjelaskan metode apa yang digunakan untuk menentukan jatuhnya hari raya tersebut: hisab ataukah rukyah? Padahal umat sering dibuat rebut oleh perdebatan beginian.

5. Sama-sama Bermunajat Cinta
Terakhir, jika Ahmad Dhani beberapa tahun lalu dengan grup band The Rock Indonesia bentukannya ngehits dengan lagu berjudul Munajat Cinta, maka Pepo SBY juga tidak mau kalah, di malam Dies Natalis ke-15 Partai Demokrat Pepo menyanyi Munajat Cinta dengan bagian referain yang diubah: “Tuhan kirimkanlah aku, gubernur yang baik hati yang mencintai rakyatnya apa adanya”. Pepo memang ayah yang baik. Seorang teman bilang bahwa menjadi Agus Yudhoyono barangkali cita-cita semua anak manusia. “Agus beruntung dan pintar memilih sosok ayah,” kata teman itu.

Demikianlah. Semakin keras kita menampik keduanya berbeda, semakin nyata pula persamaan dan irisan keduanya. Paling tidak keduanya nampaknya saling mempengaruhi satu sama lain. Dan antara laut dan langit, tidak jelas siapakah yang membirui. Langitkah yang membirui laut atau justru laut yang membirui langit.

Meminjam Shopia Latjuba, tak ada kebetulan di dunia ini. Sebab semua berjalan atas rencana Tuhan. Ya, rencana Tuhan untuk menghibur kita yang terancam pecah kepala gegara pilkada.


Fariz Alniezar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *