Senin, 13 Februari 2017

Kebudayaan Waktu Kita



Edward T. Hall dalam opusnya the Dance of Life membagi karakter serta corak kebudayaan masyarakat menjadi dua tipologi: polikronik dan monokronik. Dua pembagian yang sesungguhnya sampai saat ini masih menyisakan aneka perdebatan. Sikap Hall yang seolah membagi corak masyarakat sebagai corak yang “oposisif” dan saling berhadapan “hitam putih” antara yang polikronik dengan yang monokronik, pada gilrannya menyulut perdebatan hebat dan mewariskan banyak polemik bahkan sepasca kematiannya.
Dalam pandangan Hall, masyarakat polikronik adalah masyarakat yang memiliki pandangan luwes soal waktu. Waktu dipandang secara eklektis dan longgar. Ia bukan dimaknai sebagai satuan presisi, namun justru sebagai satuan ‘kompromi’.
Sebaliknya pada masyarakat monokronik, waktu dipandang sebagai satuan yang saklek dan pas. Biasanya corak masyarakat seperti ini adalah corak masyarakat yang mencitrakan diri sebagai masyarakat yang disiplin dan tepat waktu. Waktu dimaknai sebagai sesuatu yang jika kita melewatkannya maka kita akan rugi secara material. Diktum yang biasa digunakan oleh masyarakat seperti ini adalah time is money. Waktu adalah uang. Jika kita kehilangan waktu maka berarti hal itu muradif belaka bahwa kita kehilangan uang. Kesimpulannya barang siapa kehilangan watu maka ia sama dengan kehilangan uang, dan barang siapa kehilangan uang maka ia masuk pada kaetgori menanggung kerugian.
Cara pandang terhadap waktu adalah cara pendang untung-rugi materi. Ciri seperti ini sangat mudah kita temukan pada masyarakat-masyarakat bercorak industrial yang aktifitasnya sudah diatur dalam satuan presisi yang pas dan tepat. Kita bisa menyaksikan kondisi masyarakat yang demkian misalnya terdapat pada masyarakat yang hidup di negara-negara berlatar belakang industri.
Inggris adalah contoh terbaik untuk menggambarkan masyarakat berpaham monokrnik. Pasca Revolusi Industri yang terjadi dalam kurun rentan 1750-1850, terjadi perubahan secara gigantic di hampir seluruh bidang kehidupan: pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Revolusi Industri juga memiliki dampak yang dahsyat terhadap perubahan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di Inggris atau bahkan di dunia pada umunya.
Pola kerja diatur sedemikian rupa berdasarkan presisi dan satuan jam yang harus ditaati. Pelbagai aturan tekait jam kerja ditelorkan. Dari sanalah muncul istilah jam kerja atau jam kantor.
Pada masyarakat yang demikian itu, kehidupan menjadi sedemikian mekanik dan robotik. Manusia tunduk dan diatur oleh satuan waktu dan jadwal yang ketat dan cenderung kaku.
Tapi di sisi lain, masyarakat monokronik cenderung memiliki tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi. Satuan waktu dalam membuat janji daitur sedemikian rigid. Tidak ada kata terlambat. Tidak ada acara molor. Jika membuat janji patokannya adalah jam, bukan satuan waktu apalagi masa: siang, sore, malam, sekarang, atau nanti.
Sementara itu, masyarakat polikronik adalah masyarakat yang laku lampah dan sikap hidup--utamanya sikap dan pemaknaan terhadap entitas waktu—bersifat lebih luwes dan eklektis. Masyarakat semacam ini biasanya memaknai waktu sebagai sebuah satuan yang tidak harus kaku, ketat, dan presisi.
Ciri masyarakat polikronik biasanya tidak tertekan dan terkungkung oleh presisi waktu. Sikap seperti ini sangat dipengaruhi oleh iklim dan cuaca tempat hidupnya. Kita bisa menemukan corak hidup seperti ini pada masyarakat yang mayoritas mata pencahariannya adalah nelayan dan petani. Dua bidang kerja tersebut memiliki andil besar dalam membentuk pola pikir dan dunia waktu masyarakatnya.
Masyarakat polikronik memaknai waktu sebagai satuan komprimis yang bisa didialogkan. Artinya tidak ada perjanjian yang bersifat kaku.Semuanya bisa didialogkan.
Dalam masyarakat polikronik acara tiba-tiba menjadi berantakan atau batal begitu saja susunannya ketika tiba-tiba pejabat penting yang notabene tidak diungan acara memutuskan untuk hadir. Kadaulatan tertinggi masyarakat polikronik bukan terletak pada aturan yang kaku, namun justru pada keluwesaannya dan komprominya terhadap keadaan.
Satuan yang digunakan untuk menandai janji bisasnya bukan satuan jam namun satuan masa. Pada masyarakat polikronik acap kita menemukan kalimat seperti: “kita bertemu habis isya’” “bakda zuhur saya tunggu di rumah makan”, “kita rapat besok agak sorean”. Semuanya adalah dalil sahih bahwa cara pandang masyarakat polikronik terdadap sebuah waktu adalah cara pandang yang bersifat luwes dan kompromis.
Dari cara pandang terhadap waktu yang demikian longgar tersebut kemudian hari muncullah istilah jam karet. Dalam tradisi pesantren dikenal istilah WIB yang berarti waktu insyaAllah berubah.
Keduanya, baik monokronik ataupun polikronik, dalam hemat saya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Pada kenyatannya, akan sulit kita temukan masyarakat yang sepanjang kebudayaannya mendekap tradisi monokronik yang kaku dan ketat itu. Sepanggang seperapian dengan hal itu, kita juga akan kesulitan setengah mati untuk mencari masyarakat yang kebudayaannya selalu bersetia pada tradisi polikronik.
Indonesia pada titik ini—dalam hemat saya-- adalah sebuah bangsa yang berdiri di dua kaki. Corak industri yang tersebar di perkotaan menggiring masyarakat menjadi pribadi yang monokronik, sementara kultur pendesaan yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan, mayoritas pendudukan sudah pasti berbudaya polikronik serta lentur dalam memandang waktu.
Alakulli hal, mempertentangkan kebudayaan polikornik dengan monokronik dengan ara hitam putih dan oposisi biner adalah tindakan yang kurang tepat, jika tidak mau dikatakan salah. Sebab batas antara keduanya dalam parktik kehidupan nyata sangat sumir adanya.

Fariz Alniezar
Artikel ini diterbitkan di Kompas, Senin 13 Februari 2017 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *