Kamis, 02 Februari 2017

Klotekan: Sebuah Manifesto Nadzaman



Sore itu, saya masih ingat betul, sembari tegopoh-gopoh, seorang kawan berlari menuju ruang kelas. Bel yang menandakan jam pelajaran sudah segera harus dimulai telah berbunyi dan lunas ditelan gendang telinga beberapa menit sebelumnya.

Seorang kawan itu, anda tahu, pakaiannya barangkali invalid: memakai sarung dan bersepatu. Pakaian yang kala itu jamak ditemukan, apalagi di pesantren. Bukan karena pilihan, memang karena keadaan yang memaksa sehingga lahirlah mode pakaian yang demikian.

Antrian mandi yang mengular panjang, waktu diniah yang sudah mepet, sandal pribadi yang sudah lenyap digasab santri yang lebih senior, maka terpaksa, tak ada pilihan lain selain mengenakan sepatu sebagai alas kaki.

Soal gasab-menggasap ini, barangkali tidak akan habis jika diceritakan di sini. Lika-liku jaringan dunia pergasaban ini sedemikian rumit dan canggihnya. Maka, ia butuh penjelasan maha panjang untuk sekedar menggambarkan jaringan pergasaban ini, kapan-kapan.

Ketika kawan itu masuk ke dalam kelas melalui bibir pintu, kami, anak-anak diniah, sudah mulai beratraksi menabuh bangku dan kursi sembari melantunkan nadzam. Aktivitas seperti ini karib disebut dengan nadzaman.

Nadzaman adalah satu tradisi santri yang tidak bisa diabaikan eksistensinya begitu saja. Ia adalah tradisi melantunkan bait-bait nadzam.

Dalam pelaksanannya, nadzaman selalu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya, mungkin saya rasa juga buat santri-santri lainnya. Ritual pembacaan nadzam yang dilatunkam dengan lagu-lagu tertentu, membuat kami--santri saat itu--menjadi sedemikian girangnya. Bahkan tidak jarang diselingi klotekan dan joget-joget ala harlem shake seadanya.

Saban hari. Saban sebelum pelajaran dimulai, kami selalu memulai ritus pelajaran diniah dengan melantunkan bait-bait nadzam. Sebagian kita ada yang hapal, sebagian yang lain ada yang tidak. Yang pasti, hapal atawa tidak, semua santri larut dalam riuhnya euforia bernadzam ria.

Saya ingat, saat kelas dua madrasah diniah, kewajiban kami adalah--salah satunya--menghapal nadzam Tuhfatul Athfal. Nadzam ini karangan Syaikh Sulaiman Al-Jamzuri.

Jumlahnya hanya puluhan bait saja dan isinya seputar ilmu tajwid. Semacam ilmu paling dasar untuk bisa membaca Al-Quran dengan benar. Baru ilmu untuk membaca ya, belum ilmu untuk mengartikan. Ini penting untuk saya ingatkan agar kita paham betapa berlikunya jalan untuk mempelajari Al-Quran.

Jauh setelah kita belajar tajwid, kelak kita akan diajari ulumul Qur'an, Ulumul tafsir, Ilmu Balagah: badi, bayan, ma'ani. Pokoknya untuk bisa membaca, mengartikan, apalagi menafsirkan Al-Quran itu jalannya berkelok-kelok. Lha sekarang? Baru hapal 1-10 ayat saja ucapan, perilaku, dan tindakannya kayak yang paling paham isi Al-Quran.

Tolong dicatat: kegagalan manusia modern adalah karena mereka terlalu sibuk mempelajari Al-Quran, bukan belajar dari Al-Quran.

Kalimat di atas agak kontroversial memang. Boleh dibantah, namun saran saya renungkan pelan-pelan sembari buang air besar. Semoga paham.
Kelas dua diniyah, saya ingat, di nadzam Tuhfatul Athfal itu ada sebait nadzam berbunyi seperti ini:
"Shif dzà tsanà kam jàda syakhsun qad samà * Dum thaiyyiban zid fi tuqan dza' dhàliman"

Bait ini kelihatannya hanya berbicara rumus huruf ikhfa'. Rangkaian huruf yang ada di depan setiap suku kata dalam nadzam tersebut adalah huruf ikhfa. Maka ketika huruf-huruf itu bertemu dengan nun mati, maka di sana terjadilah bacaan ikhfa'.

Jauh di balik yang kasat itu, anda tahu, sesungguhnya ada rumus bekal hidup yang ditawarkan pengarang:

Pertama: Shif dzà tsanà kam jàda syakhsun qad samà
Ikutilah jejak dan lelaku orang-orang terpuji. Betapa banyak orang-orang yang diangkat derajatnya.

Kedua: Dum thaiyyiban
Lestarikanlah berbuat baik. Lakukan yang terbaik.

Ketiga: zid fi tuqan
Tambah terus kualitas ketakwaan.

Terakhir: dza' dhàliman
Tundukkan kezaliman.


Dari sana kita belajar ada tiga tahap yang musti kita bereskan dulu dalam diri kita sebelum terburu-buru koar-koar melawan kezaliman. Pertama: bergumul dan meneladani pribadi-pribadi yang baik. Kedua, selalu berbuat baik. Ketiga, berusaha untuk selalu meningkatkan kualitas ketakwaan. Setelah itu semua rampung, barulah kita “boleh” berperang melawan kezaliman.

Di lain kesempatan, Syaikh Sulaiman Al-Jamzuri juga punya resep begini:

"Thib tsumma shil rahman tafuz dhif dzà ni'am * Da' su'adzannin zur syarīfan lil karam"


Arti bebasnya seperti ini: Perbaikilah sikapmu lalu perbanyaklah silaturrahim maka dirimu akan bahagia, hormatilah tamu dan pandai-pandailah bersyukur syukurilah atas nikmat, tinggalkan berburuk sangka dan rajin-rajinlah sowan kepada orang-orang yang baik karena kemuliaannya.

Sayang, sayang sekali, kebanyakan kita waktu itu hanya mengenal rumus dan resep itu sebatas deretan huruf tajwid semata. Namun, sebegaimana pepatah, lebih baik telat daripada telat sekali. Toh, kelak, setelah beberapa tahun kemudian sepasca beringsut dari pesantren, lambat laun beberapa teman saya sudah mulai memahami bahwa nadzam yang mereka lantunkan dulu kala itu bukan main-main artinya. Ia sangat serius dan dalam maknanya.

Demikianlah santri, demikianlah pesantren. Kita bisa mendendangkan hal-hal yang serius, bahkan kelewat serius dengan cara yang selo dan begejekan. Kami bisa asyik-masyuk dalam alunan klotekan bernada koplo sembari melantunkan nadzam-nadzam yang sesungguhnya sakral itu.

                                                                                                     Bersambung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *