Rabu, 01 Maret 2017

Bidah


Kamus Besar Bahasa Indonesia V baru saja diluncurkan oleh Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy beberapa waktu lalu. Kita patut bersyukur sebab KBBI V ini menampilkan lema dan sublema baru sebanyak 16.841 serta makna baru sebanyak 17.240. Jumlah yang sangat luar biasa.

Dalam versi cetak, KBBI ini bukan main tebalnya: 2.040 halaman. Jauh lebih banyak dibandingkan dengan KBBI IV yang tebalnya hanya 1.400-an halaman saja. Ini bukti sahih, meminjam tesis Ayatroheadi (2007), bahwa bahasa selalu berbiak. Bahasa tidak jumud dan statis. Ia selalu segar, baru, dan bertambah.

Namun ketebalan, dengan sangat berat hati kita harus berani mengatakan, ia bukanlah jaminan kesahihan. Kesahihan sebuah kamus mula-mula ditentukan oleh kesahihan serta akurasinya dalam mengartikan sebuah kata. Ini yang kerap dan acap alpa dilakukan dalam menyusun kamus. Faktor akurasi mengartikan sebuah kata, nyatanya masih lemah. Termasuk di KBBI V.

Ketidakakurasian dalam mengartikan kata tersebut paling banyak terjadi terutama pada lema-lema yang diserap dari bahasa asing. Untuk lema bidah misalnya, KBBI V mengartikannya sebagai 1. n isl ki kebohongan; dusta 2. n isl pembaruan ajaran Islam tanpa berpedoman pada Al-Quran dan Hadis 3. n isl perbuatan atau cara yang tidak pernah dikatakan atau dicontohkan Rasulullah atau sahabatnya, kemudian dilakukan seolah-olah menjadi ajaran Islam.

Tiga makna tersebut tidak memiliki akurasi yang tepat dan bisa dipertanggungjawabkan kesahihannya. Menggebuk bidah dengan makna kebohongan dan dusta itu adalah sesuatu yang ceroboh.

Tim penulis KBBI V nampaknya tidak sempat mengecek referensi secara mendalam, utamanya yang menyangkut literatur agama Islam yang berbicara tentang bidah, termasuk menjabarkannya secara definitif. Padahal hal tersebut sangat mudah, asal tidak dikuasai rasa malas saja.

Abdullah Al-Ghimmary (2006) dalam opusnya Itaqanus Shin’ah fi Tahqiqil Ma’nal Bidah mengutip pakar bahasa Raghib Al-Ashfahani mengatakan bahwa yang disebut bidah adalah kreatifitas. Dalam bidang agama, kreatifitas yang dimaksud tentu saja menyasar pada hal-hal yang positif selama tidak bertentangan dengan aturan dan syariat yang sudah dibakukan.

Kaidahnya jelas, bahwa selama kreatifitas tersebut tidak bertabrakan dengan syariat yang ditentukan oleh agama maka diperbolehkan. Sebaliknya, bidah akan dilarang jika ia melanggar rambu-rambu agama.

Membincang lema bidah dalam nomenklatur agama, tentu saja sangat erat kaitannya dua aspek dalam beragama: kutub statis (jãnibus tsãbit) dan kutub dinamis (jãnibul mutaghayyir). Wilayah statis berisi hal-hal prinsip dan pokok dalam beragama. Sementara wilayah dinamis berisi tentang hal-ihwal yang bersifat teknis dan lebih banyak jumlahnya.

Dalam pada itu, wilayah yang boleh dikreatifitasi dalam beragama adalah wilayah-wilayah dinamis bukan wilayah statis. Agama tidak menolerir kreatifitas yang dilakukan untuk “memperbarui” atau “memodifikasi” ajaran-ajaran statisnya.

Ambil contoh misalnya agama Islam mewajibkan pemeluknya untuk menutup aurat. Ini adalah prinsip yang tidak boleh ditawar lagi. Batasan aurat pun diatur, dan itu merupakan bagian prinsip. Namun persoalan teknis dan cara menutup auratnya tidak diatur dan ditentukan oleh Agama. Teknisnya diserahkan sepenuhnya kepada manusia. Boleh menggunakan dedaunan, triplek, taplak meja, plastik, dan seterusnya dan sebagainya.

Prinsipnya menutup aurat, pelaksanannya terserah mode yang diikuti. Wilayah bidah dalam contoh di atas soal pakaian adalah wilayah mode dan fesyen, bukan wilayah prinsip menutup aurat. Mode dan fesyen, tentu saja ia dinamis dan berubah sesuai dengan tren dan kecenderungan masyarakat yang selalu berkembang dan dinamis.

Maka meringkus bidah dengan mula-mula mengartikannya sebagai kebohongan dan dusta sebagaimana dilakukan oleh tim penulis KBBI V adalah, meminjam bahasa Pierre Bourdieu (1990), kekerasan lingustik yang fatal akibatnya.

Demikian pula dengan makna kedua dan ketiga: bidah diartikan secara serampangan dan tidak mendasar. Terlebih dalam makna ketiga KBBI V mengartikan dengan menggunakan kalimat perbuatan atau cara yang tidak pernah dikatakan atau dicontohkan Rasulullah atau sahabatnya, kemudian dilakukan seolah-olah menjadi ajaran Islam.

Kalimat seolah-olah menjadi ajaran Islam tersebut sungguh sangat bias dan tidak mendasar sama sekali dan patut kita pertanyakan dari mana referensi rujukan yang sahih sehingga didapat konklusi seperti itu.

Uniknya, jika diteliti lebih dalam bahwa sesungguhnya tidak ada perubahan secara signifikan terhadap tiga arti lema bidah dari KBBI IV ke KBBI V. Perubahan hanya terjadi pada sebatas urutan makna saja. Uniknya lagi arti kebohongan dan dusta yang dijadikan arti pertama lema bidah di KBBI V, pada KBBI IV menempati urutan nomor tiga. Kita tentunya pantas bertanya mengapa dan atas dasar apa itu dilakukan.

Pada akhirnya, benar kata Seno Gumira Ajidarma (2013) bahwa persoalan bahasa adalah persoalan kuasa. Lalu siapakah yang berkuasa soal bidah?


Fariz Alniezar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *