Rabu, 29 Maret 2017

Fabelisasi dan Binatangisasi

         “Koruptor Hari Ini Semakin Menggerogoti Sendi-sendi Negara” demikian bunyi berita utama salah satu radio di Jakarta. Judul itu ditujukan untuk mengomentari pencalonan Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan sebagai kapolri yang belakangan telah ditetapkan sebagai tersangka pemilik rekening gendut dan kemudian hari memantik perseteruan dua instansi penegak hukum KPK dan juga Polri. Persetaruan keduanya kemudian karib kita sebut dengan Cicak vs Buaya.
Jika kita cermat, tentu kita sangat mafhum bahwa ada yang menarik dari fenomena kebahasaan kita akhir-akhir ini. Fenomena tersebut adalah fenomena yang memfabelisasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia politik dan kehidupan sehari-hari kita.
Fenomena fabelisasi atau acap disebut juga dengan binatangisasi adalah sebuah fenomena yang menjadikan binatang sebagai lakon atau tokoh utama dalam kehidupan sehari-hari. Dari fenomena ini lahir kemudian istilah-istilah yang kita kenal bahkan sangat populer semisal Cicak vs Buaya, Gurita Cikeas, politik dagang sapi, dan juga politik kambing hitam.
Dalam pada itu, entah mengapa kita selalu menjadikan binatang sebagai bulan-bulanan atau perlambang buruk bagi kehidupan sehari-hari. Tengok saja misalnya tentang koruptor yang melulu dilambangkan dengan tikus. Mengapa tikus? apakah benar ia sebagai perlambang kerakusan? Padahal sesungguhnya kalau kita bicara lebih jernih binatang tidak mengenal lema rakus. Tidak pernah kita melihat binatang yang makan melebihi kadar isi perutnya. Tidak pernah kita menjumpai tikus yang menyimpan serta menimbun bahan makanan melibihi batas sekedar pemenuhan perutnya semata. Ini aneh dan tentu saja keliru, bahkan salah.
Apa yang kita temui hari ini tetang fenomena fabelisasi atau binatangisasi terutama dalam hal politik ini dengan cara mengekspolitasi sisi buruk –lebih tepatnya yang kita sangkakan sebagai sisi buruk—dari binatang sesungguhnya berbalik 180 derajat secara diametral dengan apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita. Mereka memberi penghargaan yang teramat tinggi terhadap binatang-binatang sebagai sesama makhluk Tuhan. Sebagai rasa penghormatan itu, sering kali mereka menyematkan nama-nama binatang sebagi nama seseorang. Zaman perkembangan awal berdirinya kerajaan Majapahit misalnya kita mengenal nama-nama seperti Mahisa Mundarang, Lembu Kepetengan, Mahisa Anabrang, Kebo Kicak, Mahisa Wong Ateleng, Bango Sampar dan lain sebagainya.
Mahisa, Kebo dan juga Bango adalah nama hewan dan nenek moyang kita menyematkannya sebagai rasa penghormatan dan persahabatan terhadap sesama mahkluk Tuhan. Namun sebaliknya kini, yang kita alami, kita tidak saja merendahkan bintang dalam perlakukan sehari-hari namun jauh lebih dalam dari itu kita mengekploitasi keburukan-keburukannya.
Kita kerap mendengar bunyi berita “Koruptor Menggerogoti Uang Negara”. Jika kita cermat sesungguhnya lema menggerogoti ini dalam bawah sadar kita sudah terpatri bahwa lema tersebut identik dengan tikus yang pekerjaannya selalu menggerogoti.

Fenomena fabelisasi dan binatangisasi itu menyisakan sebuah pertanyaan besar bahwa apakah sedemikian hinanya manusia sehingga untuk menyebutnya harus menyematkan label atau sifat-sifat kebinatangan? Kalau memang demikian, maka gagasan kebun koruptor untuk disandingkan dengan kebun binatang mutlak harus direalisasikan secepatnya. Semoga!
Fariz Alniezar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *