Minggu, 28 Mei 2017

Benalu dan Slilit

21.42

Sejak dulu barangkali ada sejenis manusia yang selalu membutuhkan penderitaan dan kesalahan pihak lain sebagai bahan bakar utama kebahagiaannya. Manusia semacam ini, anda tahu, sama belaka dengan benalu. 

Ia menjadi predator yang dingin, namun mematikan. Mengisap si empunya yang 'ditumpangi'. Kalau ia berada di tempat kerja misalnya, ia akan menggerutu saban hari, semacam mengkritik tapi waton njeplak dan nirsolusi. Ia bisa seenaknya sendiri omong ini dan itu, menyalahkan pihak anu dan anu, seolah tidak ada yang benar kecuali Tuhan, Nabi-nabi, dan dirinya. Barangkali begitu.

Celakanya, media sosial membuat pertumbuhan manusia jenis ini menjadi semakin cepat dan akseleratif. "Manusia-manusia nyinyir yang tidak bisa menempatkan diri memang selalu menjengkelkan. Ia seperti slilit. Menggangu dan menyusahkan," kata seorang kawan.

Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan kawan itu. Bagi saya, anda tahu, manusia nyinyir itu benalu, bukan slilit. 

Jika dibandingkan, Kadar bahaya slilit dengan benalu amatlah jauh. Baina sama' wa sumur minyak, barangkali. Slilit tidak mengisap, sementara benalu terus-terusan aktif mengisap dan membuat si empunya yang diisap menjadi kurus kering, meranggas, lalu kemudian mati.

Alah limau oleh benalu, demikian sebuah peribahasa. Artinya benalu selalu merugikan dan menyusahkan hidup orang yang dia tumpangi. Kita bisa mengganti 'orang' itu dengan apa saja: lembaga, instansi, perserikatan, perusahaan, dan seterusnya dan sebagainya.

Saya teringat sebuah cerpen bertajuk "Benalu di Tubuh Mirah". Begini kutipannya: 
"Dan di dunia mana pun, benalu tetaplah benalu. Di bidang apa pun, orang yang tidak mampu bekerja dan tidak sanggup berkarya, sama saja. Orang-orang seperti itu memiliki kecenderungan yang sama di bawah langit ini. Cerewet dan sok tahu. Segala sesuatu dikomentari, segala hal dinyinyiri, merasa tahu segala hal dan merasa ampuh dengan hanya berkomentar. Mereka selalu berusaha menyogok kesadaran orang-orang sekitar mereka untuk sekedar mendapatkan pengakuan sosial. Dan sialnya, orang-orang seperti itu selalu mengganggu dan menyatroni kerja orang lain. Eksistensi orang-orang seperti itu didirikan di atas kesalahan yang dicari-cari. Landasan hidup mereka hanya bertumpu pada kalimat kunci: pasti ada yang salah dan harus ada yang salah!.

Manusia seperti itu barangkali adalah manusia yang aroma komentarnya lebih diselimuti rasa benci ketimbang ingin berbagi. Sejenis komentar yang mbejudul dan lahir dari rasa kecewa. Dan ini lebih berbahaya. Sebab benar kata Encik Samsudin Berlian bahwa cercaan orang kecewa cinta biasanya jauh lebih menusuk daripada kecaman musuh paling benci.

Begitu.

Senin, 22 Mei 2017

Simbol Perlawanan

11.31



Seorang kawan dengan muka ditekuk dan mbesungut mendatangi saya. Dia sudah tahu kalau saya banyak berseberangan pandangan dengan dia. Utamanya soal bela-membela agama. 

Mukanya semakin mbesungut saat dia tahu bahwa saya tidak setuju dengan isu kriminalisasi ulama. Saya bilang kepadanya, mendapati fenomena yang ramai diperbincangkan belakangan soal isu kriminalisasi ulama, saya kepingkel-kepingkel ndak karu-karuan. Lucu. Ironis. Miris. Absurd.

Kawan saya itu tidak tinggal diam. Dia bilang kepada saya bahwa idola dan panutannya itu adalah simbol perlawanan. "Di hadapan rezim yang memuja sistem dajjal seperti saat ini, beliau adalah tokoh utama yang lantang meneriakkan kebenaran. Beliau suara jernih jelmaan suara Tuhan. Beliau simbol perlawanan," demikian kawan saya berapi-api.

Saya diam saja. Tidak menyahut sama sekali. Saya memerhatikan dengan seksama.
"Menurutmu bagaimana?" dia menyodorkan pertanyaan.
"Anu, kalau misalnya beliau itu simbol perlawanan, mengapa beliau malah lari dan ndak pulang-pulang? Kok beliau ndak milih untuk balik dan mengobarkan api perlawanan? Simbol perlawanan kok malah lari. Aneh," tanya dan gugat saya.

Dia melotot. Saya senyum. Kami sama-sama diam. 
Perbincangan usai dan selebihnya sepi. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

Saya jadi ingat kata Pram, keberanian itu seperti otot manusia. Kalau tidak dilatih, dia akan jadi lemah. Cara latihannya dengan bertungkus-lumus menghadapi persoalan. Besar-kecil, tebal-tipis diameter persoalan itu bukanlah masalah.

Semakin minim latihan, semakin kendur pula otot-otot keberanian. Semakin jarang menghadapi persoalan, semakin ciut diameter nyali yang kita miliki. 

Senyampang dengan Pram, Muchtar Lubis dalam Novelnya Harimau, Harimau bilang kekuatan manusia itu terletak di jiwanya, bukan di fisik dan raganya, apalagi jumlah massanya.
Nyali memang tak bisa dibeli, Encik Habib.






Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *