Rabu, 17 Mei 2017

Siapa Presiden Paling Perhatian ke Rakyat?


Setengah jam saya sendirian menikmati kopi di sebuah warung pinggir jalan. Saya sedang tidak tertarik untuk ngobrol tentang apa saja. Saya bersendiri dan hanya ditemani kopi.

Saya keluarkan buku yang ada di tas. Saya sedang membaca 'Seven Good Years' milik penulis kocak asal Israel Etgar Keret. Sesekali mata saya menyapu keadaan. Lamat-lamat di meja seberang saya mendengar riuh perbincangan soal kondisi negara. 

Diamati dari cara menguarkan pendapat dan argumentasi, saya punya kesimpulan sementara bahwa mereka pasti bukanlah anak kuliahan yang ndakik-ndakik dan berbusa-busa dalam berteori-ria. Argumen mereka yang terlibat silat pendapat di warung kopi ini jauh dari bahasa akademisi. Mereka polos, bersahaja, dan cenderung konyol, namun segar.

Buktinya, saya terkesiap saat salah satu dari mereka menyodorkan pertanyaan "menurut kalian, di antara Presiden-Presiden yang pernah kita miliki, siapa yang punya perhatian paling besar pada kita semua?" 

Suasana menjadi ramai. Ini pertanyaan pemantik yang dahsyat. Masing-masing menjawab dengan argumen atas dasar keyakinan dan apa yang diketahui serta telah dirasakan selama ini.

Sejurus setelah semua peserta diskusi menguarkan pendapat, di penanya--tepatnya si pemberi tebakan--menjawab dengan penuh wibawa dan muka yang kemampleng plus jumawa semi-semi cengengesan.
"Jawaban kalian tidak ada yang benar," ungkapnya ketus.
"Lha terus?" salah seorang menyahut.
"Pak Harto!" 
"Kok iso?"

"Lhaiyo je, beliaulah yang paling perhatian dan rajin menyapa kita dengan sapaan khas 'piye kabare?' apa itu kalau ndak namanya perhatian? Mana ada presiden sebaik itu? Yang selalu perhatian pada kita. Yang selalu menanyakan kabar kita. Yang selalu menanyakan harga beras dan membandingkannya dengan zaman ketika dia berkuasa,"

"Lho iya ya. Jebul Pak Harto ki dahsyat tur ampuh tenan ya. Wigati marang wong cilik," salah seorang manggut-manggut.

"He-em. Keluarga Candana ki ancen kweren dan hebat. Mestine simbol keluarga sakinah mawaddah wa rohmah kui Keluarga Cendana bukan Keluarga Cemara, apalagi Keluarga Beringin,"

"Golkar maksudmu?"

"Karuan pecah dadi Gerindra, Hanura, PKP dan Nasdem ngunu. Kui namanya ora sakinah,"

Tawa pecah dan saya bahagia. Murah dan sekaligus bukti bahwa bahagia dan tertawa itu bisa dilakukan di mana saja tanpa harus menonton Raditya Dika.

Top of Form

Bottom of Form

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *