Selasa, 06 Juni 2017

Lobang Jahanam dan Adrenalin yang Tak Bisa Dibeli


Zaman masih sekolah Muallimin (setingkat SMA) di Pesantren Denanyar, saya selalu memilih tempat duduk paling belakang dan pojok dekat tabir (sebagian menyebutnya sengan satir).
Tabir adalah penyekat siswa lelaki dan wanita. Terbuat dari triplek dengan tinggi kurang lebih dua meter. Tipis, namun agak tinggi. Tabir selalu dipasang di tengah-tengah sebagai garis demarkasi siswa pria dan siswa wanita. Santriwan dan santriwati.
Saya selalu memilih duduk di belakang dan mepet tabir. Apa tujuannya? Yap. Tidak lain tidak bukan adalah dalam rangka mempermudah akses untuk mengintip santriwati.
Saya tidak ingat, siapa mula-mula yang memiliki inisitif brilian dan niat mulia membuat lobang jahanam itu. Seingat saya, saya hanya meneruskan tradisi saja. Lobang sudah ada. jika pun perbuatan ini tergolong perbuatan dosa, maka saya meyakininya pasti masuk kategori dosa warisan. Sifatnya mengular dan turun-temurun.  
Saban kali maknani kitab, seban kali pula saya sempatkan untuk nginceng sastriwati yang ada di balik tabir sana. Saya setengah yakin mereka semua tahu bahwa mereka diinceng. Pasalnya lobang-lobang tabir itu mula-mula kecil, lalu membesar, dan akhirnya menjadi banyak dan berjilid-jilid. Jika terkena sinar dari cendela, lubang-lubang jahanam itu membiaskan cahaya. Cahaya kelap-kelip bertaburan laiknya lampu disko.
Saya mengintip kapan saja dengan gaya apa saja. Mereka yang saya intip juga muacem-macem: ada yang memang cantik, tapi kebanyakan jorok. 
Kerudung disingkap sampai menutupi batok kepala lah, kancing dibuka semua lah, kerah dibuka lebar karena kegerahan lah, resleting dibuka lah...resleting tas maksud saya. Dan buanyak lagi.
Sepuluh tahun paska saya lulus dari sekolah yang paling berpengaruh membentuk saya seperti saat ini itu, saya masih ingat betul bagaimana hari demi hari menjadi sedemikian indah dengan aktifitas ngeri-ngeri sedap itu.
Di Jakarta bejibun orang-orang yang rumahnya barangkali jauh dari tukang jahit. Mereka ini bajunya, roknya, dan cawetnya ndak pernah pepek dan jangkep. Minim. Cekak. 
Ada juga sih model brukut tapi nrawang. Mirip ibu-ibu pengajian. 
Ada juga brukut tapi belĂ©'an longdresnya sampai pangkal tenggorokan, eh paha ding. Mereka semua itu, percayalah, tiada lain tiada bukan karena rumahnya jauh dari tukang jahit. Mudahnya persoalan memang begitu. Biar kita ndak usah berdebat sampai tarik urat leher untuk sesuatu yang kita tidak bisa memberi solusi kongkrit kecuali menakbiri dan menceramahi mereka sembari mengajaknya untuk kembali kepada Al-Qur'an Hadist. 
Anehnya mendapati yang demikian itu naluri nginceng saya ndak kambuh. Saya biasa saja. Padahal sejauh mata memandang, sejauh itu pula terhampar pemandangan. Tanpa perjuangan, tanpa deg-degan, tanpa melobangi tabir.
Kesimpulan saya: memang benar kata sebagian orang bahwa adrenalin itu ndak bisa dibeli.
Jangan ditiru. Jangan ditiru. (Sambil nangis)
Bersambung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *