Selasa, 13 Juni 2017

Surat Pendek Untukmu

Kekasih, aku mencintaimu dengan sunyi.
Aku mencintaimu bukan saja dengan kata-kataku tapi lebih dari itu aku mencintaimu dengan segenap gerak-gerikku.
Lama, lama sekali aku menunggu. Tentu saja kerap disertai rasa tidak sabar, geram, dan juga sedih yang mengharu-biru.
Masih ingatkah kau ketika aku mengajakmu monoton film yang sebetulnya aku gagal memilihkannya untukmu?
Film yang menurutku kau, terlebih aku, menjadi merasa bosan entah oleh apa. Aku juga tak tahu.
Tapi setidaknya aku mengerti kebosanananmu, aku merasakannya. Air mukamu tak terlalu sumringah sesaat keluar dari bioskop.
Aku kecewa, namun sekuat tenaga aku berusaha melawan diriku sendiri. 
Kekasih, aku tahu kau tak yakin pada diriku. Aku juga begitu. Aku juga kerap kali merasa tak yakin dengan diriku. Sedangkan kepada diriku saja aku tidak yakin, bagaimana mungkin aku bisa meyakinkkan dirimu? Ah PR besar bagiku.
Tapi bagitulah cara semesta dan alam bekerja. Aku tak peduli. Nyatanya aku tetap tegar dan tabah menanti. 
Saya jadi teringat Pak Sapardi. Lelaki sepuh yang diilhami kata-kata indah di setiap yang keluar dari bibirnya itu. Ia, dalam puisinya yang terkenal mengatakan, tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Tapi kepada Pak Sapardi, aku berani bertaruh, akan kukatakan bahwa ada yang lebih tabah dibandingkan hujan bulan Juni, yakni aku yang melulu setia menunggumu.
Ah, perihal keyakinan ku ini, biar kusampaikan kepadamu. Hanya kepadamu saja bahwa aku memercayai Paolo Chelho dalam Alkemisnya yang mengatakan bahwa jika niat kita sungguh maka alam semesta akan mendukung penuh.
Ya, senjataku menunggu adalah kekuatan Itu. Aku yakin, meskipun kadang tertatih, bahwa alam akan mendukungku. Itu saja.
Dan dalam kegelapan, aku tetap memilih untuk menunggumu.
Perihal cinta? Kau ingin tahu? Baiklah. Harus kukatakan kepadamu bahwa aku benci jatuh cinta. Aku sangat membencinya.
Bukan kerana apa. Sebab aku tak pernah mengerti apa itu arti jatuh cinta. Ia mungkin terjemahan bahasa Inggris falling in love
Ah, jatuh cinta. Sakit bukan? Jelaskan kepadaku adakah peristiwa jatuh di dunia ini yang tak dibarengi rasa sakita? Jatuh cinta apalagi jatuh jati. Frasa yang aneh dan menyakitkan.
Sejak saat itu kekasih, aku memilih untuk tidak jatuh cinta dan jatuh hati, apalagi padamu. Aku lebih memilih untuk mbangun katresnan, membangun cinta.
Cinta yang kuat adalah cinta yang pondasinya dibangun dengan kokoh, bukan dijatuhi. 
Aku menunggumu. Di sela-sela aku menunggumu, yang aku lakukan adalah terus berusaha membangun dan menambal kekurangan cintaku. Itu saja.
Oh iya, jemuahan dulu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *