Kamis, 01 Juni 2017

Surat Yang Kesekian Untukmu


Kekasih, kepulanganku kemarin adalah benar-benar kepulangan yang dalam arti sebenaranya: pulang ke dalam palung. Aku bertemu dengan Ibu. Ia menjadi sosok yang benar-benar berbeda ketika aku mulai bercerita pelan-demi pelan, tahap demi tahap, tentangmu, tentang dirimu, dan tentang kita.

Aku dengan hati-hati mengatakan bahwa aku sedang membangun percintaan dengan seorang wanita yang sangat mandiri. Ia bukan saja bisa bangun pagi, terampil menyetrika pakaian, prigel memijit pundak yang pegal, rapi menggunting kuku, lancar naik motor berporseneling tapi ia juga sangat terampil menyelesaikan segala urusannya sendiri.

Perlahan, tanpa sama sekali mengerdipkan mata, ibu menyeka rambut ikal yang menempel di kepalaku yang saat itu membaringkan badan di pangkuannya.

Ada mata berkaca-kaca di sana. Aku tahu. Aku tahu persis. Ia menatap jauh ke depan, mungkin membayangkan aku yang masih kanak dan sangat nakal, tiba-tiba  kemudian hari ini berusaha membangun percintaan dengan wanita, yang bukan main-main, mandirinya luar biasa.

Aku bercerita bahwa hatimu adalah hati musim yang sering berganti-ganti cuaca. Belum lunas aku menjelaskan pada Ibu, Ia segera menggunting perkataanku. “Semua yang ada di dunia ini berjalan di atas musim. Di hadapan musim yang berubah-ubah cuacanya, salah jika kau mengeluhkannya. Yang harus kau lakukan adalah menari indah atau berjalan lincah di musim yang kerap tiba-tiba berganti cuaca itu,” katanya padaku sembari satu dua butir air matanya menetes tepat di atas kepalaku.

“Pelaut tangguh, tak akan pernah terlahir dari lautan yang teduh,” katanya.

Aku terdiam. Di hadapan Ibu, tidak ada yang bisa kuandalkan. Pengalaman hidup, ufuk cakrawala pengetahuan, samudera kasih sayang, atau bahkan lautan kerinduan, semuanya ada di Ibu. Kepada sosok yang demikian itu, yang bisa aku lakukan hanyalah takzim dan diam.

“Perempuan adalah rumah bagimu. Jaga rumahmu dengan baik-baik. Perhatikan ia sebagaimana kau memerhatikan dirimu sendiri,” kata Ibu.

“Jangan sekali-kali meminta sebelum memberi. Jangan sekali-kali menuntut sebelum memenuhi kewajiban atasnya. Jangan sekali-kali menagih sebelum kau melunasi segala kebutuhannya,” di kalimat terakhir ini, sekali lagi dengan suara terbata-bata ibuk meneteskan air mata.

“Jaga perempuanmu itu. Perhatikan dia. Yang dibutuhkan perempuan adalah perhatian bukan pujian. Beri ia perhatian lebih. Menglahlah,” tukasnya.

Mendengar Ibu, aku jadi sangat merindukanmu. Dan setengah mati, meskipun berat, biar kutanggung kerinduan ini sendiri.

Aku ingat sebuah puisi indah milik Krisna Pabhicara. Judulnya Berumah di Negeri Angan. Puisi ini untukmu.
Rindu tumbuh di matamu, sebelum angin senja menegaskan kenangan
dan bunting sepi menetaskan harapan. Kita terpuruk, di sini, di negeri
yang kita bayangkan sebagai awan—kecemasan mengambang ringan.

Rencana rimbun di benakku dalam kegelisahan syair lagu, barangkali,
membusuk, di sini, di negeri yang kamu angankan sebagai awan—kita
makin sibuk menyuling senyap. Aih, matamu kunang-kunang, senantiasa.

Tidak ada, tidak ada yang melebihi matamu. Rembulan dan matahari
kawin di sana, melahirkan lebih dari sekadar gelembung kesia-siaan
yang lengas dan tandas. Lalu aku melulu mengecup kemustahilan ini.
Sebab kita sama-sama punya cinta, dan harapan, yang dikirimkan Tuhan
Melalui sesak senja dan benak malam. Maka, apalagi yang menghalangi
kita bergegas menguburkan masa silam, biar lindap segala yang lebih?

Di negeri angan—yang kamu kira awan—telah kubangun sebuah rumah,
tak berpintu tak berjendela, agar kita bisa berteras tiba-tiba. Kapan saja.

Kekasih, pagi ini aku harus bekerja untuk megumpulkan pundi-pundi angan agar berubah menjadi ingin yang bisa terwujudkan. Kelak aku yakin, segala ingin yang berasal dari angan kita, semuanya tak akan pernah kabur di bawah angin.

Salam
Yang sedang dan akan selalu mencintaimu,



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *