Senin, 31 Juli 2017

Romo Masbuq Mengeja Zaman

17.57

Pagi-pagi sekali saya sowan ke Romo Masbuq di kediamannya. Dengan memakai kaos kutang bermerek "Swan" beliau menemui saya sembari metingkrang mengangkat satu kaki di atas kursi.

"Barangkali jihad paling nyata di zaman seperti sekarang ini adalah menahan diri untuk tidak keburu komentar pada hal-hal yang belum kita ketahui kejelasannya," Romo Masbuq membuka percakapan.
Saya diam dan menyimak sembari sesekali mencomot gorengan kripik sukun yang dihidangkan di meja. 

"Masing-masing kita tiba-tiba menjadi pribadi yang rajin berkomentar. Sangat rajin malahan. Surplus komentar, defisit analisis. Barangkali begitu jika kita meminjam bahasa J. Sumardianta."

"Saya jadi teringat salah satu novel anggitan Arswendo Atmowiloto. Saya sudah lupa judul dan nama tokohnya. Hanya saya ingat jelas kalimat tokoh utamanya seperti ini "Musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan, melainkan kepura-puraan"

"Pura-pura dalam bahasa agama disebut dengan munafik. Kadar bahayanya lebih dahsyat dibandingkan dengan musuh sejati. Sebabnya jelas, karena ketidakjelasannya itulah yang menyebabkan kita akan kelimpungan dihajarnya."

"Orang munafik susah diidentifikasi. Idiom Jawanya isuk dele sore tempe."

"Nah, pada titik tertentu, saya menemukan irisan antara munafik dengan kesubhatan. Sama-sama tidak jelas. Di sinilah akar persoalan kita itu bermula. Ketidakjelasan atau kesubhatan informasi membuat kita diombang-ambingkan keadaan. Bahkan pada tingkat yang paling ekstrem ditipu mentah-mentah oleh kenyataan."

"Di zaman seperti saat ini, kita sudah sangat gagap untuk sekadar membedakan apa itu data, apa itu berita, apa itu informasi. Semuanya kita campuradukkan dan ndak kita sinaoni sama sekali."

"Akibatnya, ketika ada isu, kecepatan mulut kita menjadi sedemikian kencang melebihi kecepatan otak dalam berpkir. Beginilah kita. Apalagi ketika ada orang yang salah, yang kita lakukan justru memviralkan, menggunjing, mencibir, memaki. Dan itu semua dilakukan di muka umum. Di ketahui banyak orang melalui media sosial."

"Anak muda, sampean harus berpikir lagi. Sesungguhnya sampean ini menguasai informasi atau dikuasai informasi?"

Saya hanya diam dan menunduk di depan Romo Masbuq.

"Lebih baik gunakan waktumu untuk meneliti hal-hal yang menarik dan menantang," Romo Masbuq melanjutkan.

"Penelitian yang menarik dan menantang itu contohnya soal apa, Romo?" Saya penasaran.

"Buanyak. Salah satunya misalnya apakah benar setelah makan sosis so-nice, atlet-atlet kita akan semakin berprestasi. Dan juga opo yo benar setelah rajin mengkonsumsi Biskuat setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, anak-anak kita bisa berubah jadi macan?"

"Romo Masbuq cen Asu banget," gumam saya dalam hati.

Senin, 17 Juli 2017

Pekerjaan Bapak

13.37
Hari minggu yang benar-benar berbahan baku rindu, saya teringat bapak yang sedang sibuk mengurusi tebang tebu dan juga Ibuk yang entah sedang memasakkan apa buat mereka, bapak dan preman-preman tebang tebu di sawah.

Bapak orang baik, setidaknya ini menurut catatan kepolisian. Buktinya, bapak tak pernah dipenjara, ditilang polisi pun jarang. Seingat saya, ia adalah orang yang paling rajin di dunia ini yang saya kenal. Kemana-mana harus sret-sret dan harus lengkap. 

Jika ia bepergian naik kendaraan pribadi, surat-surat dan kitab-kitab kendaraan termasuk faktur jual beli selalu ada di saku laci. Seingat saya yang tidak dibawa hanya BPKB...hehehe

Bapak orang baik, tentu saja Ibuk juga orang yang lebih baik. Ia sibuk menyiapkan bahan baku kegembiraan di keluarga kami. Ibuklah orang yang paling sibuk saat tahu anaknya akan pulang dari perantauan. Ia kerap kali gopoh mempersiapkan ini itu demi menyambut kedatangan anaknya sampai lupa bahwa anaknya datangnya masih tiga hari kemudian. Ah membahagiakan memang.

Nah, saya sedang kangen bapak. Kangen saat-saat ngobrol berdua sebagai sesama laki-laki ngobrol ngalor-ngidul tentang keadaan sawah dan stabilitas pulitik di kampung kami, termasuk juga soal pasang surut ekonomi keluarga. Hehehe

Lha, demi mengobati rasa kangen saya, akhirnya saya putuskan untuk menulis ulang tulisan Kang Maman Suherman soal ayah. Tulisan lengkapnya begini;

"Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng. Tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian? dan selalu mencium keningmu saat kau tertidur sambil bekata dalam hati nya " Tuhan Lindungilah putriku...

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil.. Cerita Sedih Tentang Cinta Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.

Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu… Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” , Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka…. Tapi sadarkah kamu? Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Cerita Ayah pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas:

“Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang". Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja.. Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat-sangat luar biasa berharga. Setelah itu kamu marah pada ayah , dan masuk ke kamar sambil membanting pintu… Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama…. Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi Ayah HARUS menjagamu.

Kisah sedih ketika kamu menjadi gadis dewasa….Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain… Ayah harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat- erat. Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT… kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Di saat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.. Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru,dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan… Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah :

“Tidak…. Tidak bisa!

”Padahal dalam batin Ayah., Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum? Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang." Sampai saat seorang teman lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya. Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin.. Karena Ayah tahu… Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya… Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia…. Apakah kamu mengetahui, Di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Ayah menangis karena Ayah sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa.. Dalam lirih doanya kepada Tuhan,

Ayah berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik…. Bahagia kanlah ia bersama suaminya…

”Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
[tak terasa air mata sudah satu ember]

Rabu, 12 Juli 2017

Nasib Huruf Qaf dalam Bahasa Indonesia

12.20

Sastrawan dan munsyi kesohor Remy Sylado berpendapat bahwa ada dua problem yang kerap dihadapi oleh bahasa Indonesia ketika menyerap bahasa asing. Dua problem itu adalah salah konsepsi dan salah transkripsi.

Salah konsepsi merupakan jenis kesalahan yang bertalian dengan konsep berbahasa. Biasanya hal ini berkaitan dengan bagaimana akal kita mengonsepsikan sebuah benda atau sebuah fenomena. Faktanya, sering kali bahasa Indonesia menyerap kata yang tidak sesuai dengan konsep arti kata tersebut di bahasa asalnya. Contohnya adalah meriam. Alat tempur ini sesungguhnya berasal dari teriakan pasukan Portugis ketika meletupkan senjata berukuran raksasanya. O, Maria, O, Maria, begitu teriak mereka sembari melepaskan tembakan. Masyarakat kita mendengarnya dan entah bagaimana, tiba-tiba saja kita menyebut senjata raksasa itu dengan sebutan meriam. Ini adalah contoh salah konsepsi. Orang bicara apa, kita menangkapnya apa.

Jenis kesalahan seperti ini cukup banyak jumlahnya, namun yang lebih banyak adalah kesalahan jenis kedua yakni kesalahan transkripsi. Kesalahan yang disebabkan oleh ketidakaurakatan dalam membaca sebuah teks.

Jika kesalahan konspsi bertalian dengan konsep yang sumber utamanya merupakan indra pendengaran, maka untuk kesalahan jenis kedua ini kaitannya adalah dengan kompetensi dalam membaca sebuah teks asing. Dalam urusan transkripsi ini yang paling dominan adalah indra penglihatan tentunya.

Kesalahan dalam membaca atau mentraskripsi sebuah kata tergolong acap terjadi di dalam bahasa Indonesia. Utamanya dari aksara Arab atau huruf hijaiyah. Baik dari bahasa Arab langsung atau dari bahasa melayu pegon.

Dalam hemat saya, salah satu faktor utamanya barangkali terletak pada masih belum padunya pedoman transliterasi antar pengguna bahasa Indonesia. Memang Kementerian P&K telah bekerjasama dengan Kementerian Agama mengeluarkan pedoman transliterasi pada tahun 1985, namun faktanya kita masih kerap menemukan karya-karya yang cenderung memeilih untuk menggunakan pendoman transliterasi sendiri.

Dari kesalahan-kesalahan trensliterasi tersebut, saya mencatat, yang paling unik adalah yang menimpak huruf qaf (ق) dalam bahasa Arab. Huruf ini kerap kali hilang, atau paling bagus ia akan disamakan dengan huruf kaf (ك). Padahal keduanya memiliki perbedan yang sangat jauh.

Bahasa Indonesia nampaknya tidak ramah dengan huruf qaf. Lema-lema yang semestinya menggunakan huruf qaf ditranskripsi menggunakan huruf kaf. Yang menstinya menggunakan abjad ‘q’ diganti menjadi abjad ‘k’. Padahal makna yang ditimbulkan tentu jelas akan sangat jauh berbeda, sebagaimana contoh berikut:

Kalbu
Titi DJ memunyai lagu yang sangat hits pada eranya. Judunya Bahasa Kalbu. Lema kalbu sebagimana termaktub dalam KBBI diartikan sebagai pangkal perasaan batin dan hati yang suci atau murni. Ringkasnya, kalbu berarti hati. Bahasa kalbu berarti bahasa hati.

Lema kalbu ini sejatinya ditranskripsi dalam bahasa Arab (قلب). Huruf qaf ditranskripsi menjadi huruf kaf. Padahal pergantian itu sesungguhnya berakibat peruabahan pada arti. Sebab kalbu (كلب) dalam bahasa Arab artinya adalah anjing. Bahasa kalbu sama saja dengan bahasa anjing.

Akal
Entri ini oleh KBBI diatrikan sebagai daya pikir, pikiran, dan ingatan. Entri ini diserap dari bahasa Arab (عقل). Kita mentrasliterasinya menjadi akal. Padahal lema akal dalam bahasa Arab penulisannya seperti ini (أكل) yang artinya makan. Antara pikiran dengan makan tentu sangat jauh maknanya, bahkan cenderung tidak ada hubungannya sama sekali.

Halakah
Lema halakah juga demikian, ia diserap dari bahasa Arab (حلقة) yang artinya jamuan atau pertemuan. Bisa juga diartikan sebagai diskusi. Artinya bisa berubah ketika ia ditranskripsi menjadi (هلكة). Memang dalam KBBI halakah diartikan sebagai diskusi yang pesertanya duduk memberntuk lingkaran untuk membahas masalah keislaman, namun jika kita periksa ke dalam bahasa aslinya maka halakah yang dimaksud mestinya memggunakan huruf qaf bukan kaf. Sebab halakah yang notebene menggunakan huruf kaf (هلكة) dalam bahasa Arab artinya kehancuran. Makanya kita mengenal tokoh superhero yang berbadan besar yang bisa menghancurkan apa saja diberi nama hulk. Akar katanya sama yakni halaka.

Kunut
Entri ini diserap dari bahasa Arab (قنوت). KBBI artinya doa yang dibaca setelah melakukan iktidal rakaat kedua pada salat subuh. Entri ini ditransliterasi menjadi kunut bukan qunut. Padahal arti قنوت dengan كنوت  pasti berbeda.

Sampai saat ini saya belum menemukan penelitian serius ihwal mengapa transliterasi bahasa Indonesia tidak ramah terhadap huruf qaf. Huruf qaf disamakan dan didudukkan sama persisi dengan huruf kaf. Padahal sebagaimana saya ungkapkan di atas, pergatian di antara keduanya bisa berakibat pada perubahan makna yang sangat signifikan.


Saya mencatat ada ketidakkonsitenan dalam mentrasliterasi atau mentranskripsi lema-lema Arab yang mengandung unsur huruf qaf. Sebut misalnya Al-Quran, qari, qariah, dan qasar. Keadaan ini membuat kita pantas bertanya-tanya mengapa ketidakkonsistenan itu bisa terjadi. Apa yang menjadi landasannya dan bagaimana proses pembentukannya? Tugas kita bersama untuk menguak dan menelisknya lebih dalam.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik "Laras Bahasa" Lampung Post, 3 Juli 2017

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *