Rabu, 12 Juli 2017

Nasib Huruf Qaf dalam Bahasa Indonesia


Sastrawan dan munsyi kesohor Remy Sylado berpendapat bahwa ada dua problem yang kerap dihadapi oleh bahasa Indonesia ketika menyerap bahasa asing. Dua problem itu adalah salah konsepsi dan salah transkripsi.

Salah konsepsi merupakan jenis kesalahan yang bertalian dengan konsep berbahasa. Biasanya hal ini berkaitan dengan bagaimana akal kita mengonsepsikan sebuah benda atau sebuah fenomena. Faktanya, sering kali bahasa Indonesia menyerap kata yang tidak sesuai dengan konsep arti kata tersebut di bahasa asalnya. Contohnya adalah meriam. Alat tempur ini sesungguhnya berasal dari teriakan pasukan Portugis ketika meletupkan senjata berukuran raksasanya. O, Maria, O, Maria, begitu teriak mereka sembari melepaskan tembakan. Masyarakat kita mendengarnya dan entah bagaimana, tiba-tiba saja kita menyebut senjata raksasa itu dengan sebutan meriam. Ini adalah contoh salah konsepsi. Orang bicara apa, kita menangkapnya apa.

Jenis kesalahan seperti ini cukup banyak jumlahnya, namun yang lebih banyak adalah kesalahan jenis kedua yakni kesalahan transkripsi. Kesalahan yang disebabkan oleh ketidakaurakatan dalam membaca sebuah teks.

Jika kesalahan konspsi bertalian dengan konsep yang sumber utamanya merupakan indra pendengaran, maka untuk kesalahan jenis kedua ini kaitannya adalah dengan kompetensi dalam membaca sebuah teks asing. Dalam urusan transkripsi ini yang paling dominan adalah indra penglihatan tentunya.

Kesalahan dalam membaca atau mentraskripsi sebuah kata tergolong acap terjadi di dalam bahasa Indonesia. Utamanya dari aksara Arab atau huruf hijaiyah. Baik dari bahasa Arab langsung atau dari bahasa melayu pegon.

Dalam hemat saya, salah satu faktor utamanya barangkali terletak pada masih belum padunya pedoman transliterasi antar pengguna bahasa Indonesia. Memang Kementerian P&K telah bekerjasama dengan Kementerian Agama mengeluarkan pedoman transliterasi pada tahun 1985, namun faktanya kita masih kerap menemukan karya-karya yang cenderung memeilih untuk menggunakan pendoman transliterasi sendiri.

Dari kesalahan-kesalahan trensliterasi tersebut, saya mencatat, yang paling unik adalah yang menimpak huruf qaf (ق) dalam bahasa Arab. Huruf ini kerap kali hilang, atau paling bagus ia akan disamakan dengan huruf kaf (ك). Padahal keduanya memiliki perbedan yang sangat jauh.

Bahasa Indonesia nampaknya tidak ramah dengan huruf qaf. Lema-lema yang semestinya menggunakan huruf qaf ditranskripsi menggunakan huruf kaf. Yang menstinya menggunakan abjad ‘q’ diganti menjadi abjad ‘k’. Padahal makna yang ditimbulkan tentu jelas akan sangat jauh berbeda, sebagaimana contoh berikut:

Kalbu
Titi DJ memunyai lagu yang sangat hits pada eranya. Judunya Bahasa Kalbu. Lema kalbu sebagimana termaktub dalam KBBI diartikan sebagai pangkal perasaan batin dan hati yang suci atau murni. Ringkasnya, kalbu berarti hati. Bahasa kalbu berarti bahasa hati.

Lema kalbu ini sejatinya ditranskripsi dalam bahasa Arab (قلب). Huruf qaf ditranskripsi menjadi huruf kaf. Padahal pergantian itu sesungguhnya berakibat peruabahan pada arti. Sebab kalbu (كلب) dalam bahasa Arab artinya adalah anjing. Bahasa kalbu sama saja dengan bahasa anjing.

Akal
Entri ini oleh KBBI diatrikan sebagai daya pikir, pikiran, dan ingatan. Entri ini diserap dari bahasa Arab (عقل). Kita mentrasliterasinya menjadi akal. Padahal lema akal dalam bahasa Arab penulisannya seperti ini (أكل) yang artinya makan. Antara pikiran dengan makan tentu sangat jauh maknanya, bahkan cenderung tidak ada hubungannya sama sekali.

Halakah
Lema halakah juga demikian, ia diserap dari bahasa Arab (حلقة) yang artinya jamuan atau pertemuan. Bisa juga diartikan sebagai diskusi. Artinya bisa berubah ketika ia ditranskripsi menjadi (هلكة). Memang dalam KBBI halakah diartikan sebagai diskusi yang pesertanya duduk memberntuk lingkaran untuk membahas masalah keislaman, namun jika kita periksa ke dalam bahasa aslinya maka halakah yang dimaksud mestinya memggunakan huruf qaf bukan kaf. Sebab halakah yang notebene menggunakan huruf kaf (هلكة) dalam bahasa Arab artinya kehancuran. Makanya kita mengenal tokoh superhero yang berbadan besar yang bisa menghancurkan apa saja diberi nama hulk. Akar katanya sama yakni halaka.

Kunut
Entri ini diserap dari bahasa Arab (قنوت). KBBI artinya doa yang dibaca setelah melakukan iktidal rakaat kedua pada salat subuh. Entri ini ditransliterasi menjadi kunut bukan qunut. Padahal arti قنوت dengan كنوت  pasti berbeda.

Sampai saat ini saya belum menemukan penelitian serius ihwal mengapa transliterasi bahasa Indonesia tidak ramah terhadap huruf qaf. Huruf qaf disamakan dan didudukkan sama persisi dengan huruf kaf. Padahal sebagaimana saya ungkapkan di atas, pergatian di antara keduanya bisa berakibat pada perubahan makna yang sangat signifikan.


Saya mencatat ada ketidakkonsitenan dalam mentrasliterasi atau mentranskripsi lema-lema Arab yang mengandung unsur huruf qaf. Sebut misalnya Al-Quran, qari, qariah, dan qasar. Keadaan ini membuat kita pantas bertanya-tanya mengapa ketidakkonsistenan itu bisa terjadi. Apa yang menjadi landasannya dan bagaimana proses pembentukannya? Tugas kita bersama untuk menguak dan menelisknya lebih dalam.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik "Laras Bahasa" Lampung Post, 3 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *