Senin, 17 Juli 2017

Pekerjaan Bapak

Hari minggu yang benar-benar berbahan baku rindu, saya teringat bapak yang sedang sibuk mengurusi tebang tebu dan juga Ibuk yang entah sedang memasakkan apa buat mereka, bapak dan preman-preman tebang tebu di sawah.

Bapak orang baik, setidaknya ini menurut catatan kepolisian. Buktinya, bapak tak pernah dipenjara, ditilang polisi pun jarang. Seingat saya, ia adalah orang yang paling rajin di dunia ini yang saya kenal. Kemana-mana harus sret-sret dan harus lengkap. 

Jika ia bepergian naik kendaraan pribadi, surat-surat dan kitab-kitab kendaraan termasuk faktur jual beli selalu ada di saku laci. Seingat saya yang tidak dibawa hanya BPKB...hehehe

Bapak orang baik, tentu saja Ibuk juga orang yang lebih baik. Ia sibuk menyiapkan bahan baku kegembiraan di keluarga kami. Ibuklah orang yang paling sibuk saat tahu anaknya akan pulang dari perantauan. Ia kerap kali gopoh mempersiapkan ini itu demi menyambut kedatangan anaknya sampai lupa bahwa anaknya datangnya masih tiga hari kemudian. Ah membahagiakan memang.

Nah, saya sedang kangen bapak. Kangen saat-saat ngobrol berdua sebagai sesama laki-laki ngobrol ngalor-ngidul tentang keadaan sawah dan stabilitas pulitik di kampung kami, termasuk juga soal pasang surut ekonomi keluarga. Hehehe

Lha, demi mengobati rasa kangen saya, akhirnya saya putuskan untuk menulis ulang tulisan Kang Maman Suherman soal ayah. Tulisan lengkapnya begini;

"Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng. Tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian? dan selalu mencium keningmu saat kau tertidur sambil bekata dalam hati nya " Tuhan Lindungilah putriku...

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil.. Cerita Sedih Tentang Cinta Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.

Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu… Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” , Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka…. Tapi sadarkah kamu? Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Cerita Ayah pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas:

“Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang". Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja.. Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat-sangat luar biasa berharga. Setelah itu kamu marah pada ayah , dan masuk ke kamar sambil membanting pintu… Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama…. Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi Ayah HARUS menjagamu.

Kisah sedih ketika kamu menjadi gadis dewasa….Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain… Ayah harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat- erat. Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT… kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Di saat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.. Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru,dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan… Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah :

“Tidak…. Tidak bisa!

”Padahal dalam batin Ayah., Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum? Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang." Sampai saat seorang teman lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya. Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin.. Karena Ayah tahu… Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya… Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia…. Apakah kamu mengetahui, Di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Ayah menangis karena Ayah sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa.. Dalam lirih doanya kepada Tuhan,

Ayah berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik…. Bahagia kanlah ia bersama suaminya…

”Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
[tak terasa air mata sudah satu ember]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *