Selasa, 08 Agustus 2017

Muslim Pentol Korek

16.36

Judul Buku            : Muslim Pentol Korek
Terbit                     : Agustus 2017
Pengantar Wacana : Emha Ainun Nadjib

Fenomena keberagaman di Indonesia saat ini cenderung menghasilkan muslim-muslim yang berkepribadian pentol korek. Apa itu? Kepribadian yang digesek sedikit saja maka ia akan cepat menyala dan marah. Inilah fenomena keberagamaan paling mutakhir kita. Pribadi-pribadi semacam ini kian hari jumlahnya kian mengecambah, bak cendawan di musim hujan. Mereka gemar mengoreksi pola keberagamaan orang lain, bukan sebaliknya mengoreksi cara beragamanya sendiri.

Buku ini hadir sebagai buah permenungan yang reflektif dan intens atas apa yang barangkali terjadi pada fenomena keberagamaan kita. Laiknya cermin, tulisan-tulisan di buku ini merupakan pantulan dari realitas yang sesungguhnya. Meskipun tidak seratus persen persis, namun cermin setidaknya tidak pernah berbohong. Ia apa adanya memaparkan objek yang dibidiknya.


Buku “Muslim Pentol Korek” ini berisi esai-esai reflektif-argumentatif ihwal pola beragama yang lebih mengedepankan akal ketimbang okol. Buku ini mengupas hal-hal yang berkaitan fenomena keberagamaan mutakhir dengan pendekatan cara berpikir yang sehat, cenderung sarkas dan kental sentuhan nuansa humor.

Melalui "Muslim Pentol Korek" ini, sang penulis memosisikan buku ini sebagai rute yang menuntun pembaca untuk bertamasya ide. Melihat-lihat gagasan, meloncat dari satu pemikiran ke pemikiran lain, beranjak dari satu sudut pandang ke sudut pandang yang lain. Dengan demikian pembaca punya modal untuk merenung, kontemplasi, dan bercermin.







Senin, 07 Agustus 2017

Pesantren dan Pendidikan Mutakhir Kita

15.01



Sebagaimana kita pahami, pesantren adalah salah satu wahana pendidikan (Islam) yang diakui sejak dulu, baik secara formal maupun informal). Manfred Ziemek (1984) mengatakan, pesantren bukan sekadar wahana pendidikan, melainkan juga menjadi garansi terpeliharanya ajaran-ajaran Islam yang ramah dan transformatif.

Meminjam bahasa Gus Dur, pesantren merupakan subkultur karena ia memiliki struktur tersendiri di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Artinya, pesantren adalah miniatur kehidupan dalam bermasyarakat itu sendiri. Di dalamnya tidak hanya ada kegiatan ajar-mengajar, tetapi juga pelbagai program sosial-kultural-spiritual, hingga kewarganegaraan, misalnya pembentukan tradisi ro’an atau kerja bakti dan takzir (hukuman) bagi siapa saja yang melanggar peraturan.

Ciri khas utama dalam dunia pesantren adalah (me)ngaji kitab, yakni mempelajari kitab-kitab peninggalan ulama-ulama terdahulu. Madrasah diniyah, salah satu bagian dari pesantren, adalah salah satu lembaga yang memiliki tugas menyelenggarakan proses ajar-mengajar kitab kuning tersebut.

Dengan demikian, sekolah yang diselenggarakan Nahdlatul Ulama (NU) sesungguhnya bukanlah seperti dikatakan Asmaji AS Muchtar dalam tulisannya di media ini, 3 Juni 2015, di mana dia sebut madrasah diniyah diselenggarakan di luar pesantren dan dilakukan sore hari selepas anak-anak pulang sekolah umum. Sesungguhnya, tetapi lebih dari itu, sekolah NU adalah pondok pesantren itu sendiri.

Menarik untuk dicatat bahwa pesantren, lagi-lagi meminjam Ziemek, kerap disebut sebagai “wiraswasta” dalam sektor pendidikan keagamaan. Karena luas dan variasi bentuk-bentuk usahanya dibatasi bukan oleh peraturan-peraturan pemerintah, melainkan peraturan-peraturan keagamaan. Dalam kedudukannya yang otonom itu, kekuatan pesantren sebetulnya didominasi peran serta karisma seorang kiai, pemimpin, dan juga biasanya pendiri pondok pesantren. Kealiman serta kedalaman ilmu seorang kiai memiliki pengaruh menentukan keberlangsungan lembaga pendidikan itu.

Model sama
Sesungguhnya model lembaga pendidikan yang demikian itu ada di hampir semua agama yang pernah masuk di Nusantara. Kita mengenal sistem pendidikan ashram bagi tunas-tunas pemeluk Hindu-Buddha, atau kita juga mengenal sistem seminari sebagai model pendidikan ahli-ahli agama di kalangan Katolik.

Lembaga-lembaga yang memiliki tatanan sosio-kultural kuat seperti itu sesungguhnya adalah lembaga pendidikan khas yang telah ada sebelum sistem pendidikan kolonial (Barat/Kontinental) mewabah dan “menjajah”. Ketika Belanda datang dengan menawarkan sekolah “modern” tersebut, sesungguhnya kita, yang menerima begitu saja tawaran itu, sedang menapaki jalan makin menjauh dari jati diri sendiri, dalam soal pengajaran sekurangnya.

Perdebatan riuh pernah terjadi mengenai sistem pendidikan bagaimana yang cocok diterapkan untuk manusia-manusia Indonesia. Perdebatan itu terekam dalam “Polemik Kebudayaan” tahun 1930-an. Dalam perdebatan yang sangat dikenal, itu, dr Soetomo, seorang yang lulus dan terdidik dengan sistem pendidikan Belanda, justru memandang dan meyakini bahwa sistem pesantrenlah akar pendidikan yang harus dipertahankan sebagai sistem pendidikan nasional.

Menurut Dawam Rahardjo, pendapat Soetomo tersebut didasarkan pada, pertama, sistem pemondokan di pesantren. Sebab, dengan sistem pemodokan tersebut, pendidik bisa memberikan pengawasan langsung secara intensif peserta didiknya.

Kedua, hubungan intim yang terjalin antara kiai dan santri, tidak saja di tingkatan lahiriah, tetapi hingga di tingkat batin. Seorang kiai diketahui sering menyebut santri-santrinya setiap berdoa. Satu tradisi yang membuat kiai selalu berada dalam hati santrinya, begitu juga sebaliknya.

Ketiga, pesantren bisa mencetak manusia-manusia yang bisa masuk ke lapangan kerja macam bagaimanapun. Keempat, dr Soetomo tertarik dengan pola hidup kiai yang mengedepankan sikap kesederhanaan dalam hidup sehari-harinya. Dan kelima, pesantren merupakan pendidikan dengan biaya penyelenggaraan murah.

Tetap teguhkan diri
Bentuk atau model pendidikan berbasis kenyataan sosial-kultural-spiritual di atas harus diakui semakin jauh dari jiwa sistem pendidikan nasional kita. Kedudukan, fungsi, dan perannya kian banyak dinafikan, bahkan terasa kurang diperhatikan oleh pemerintah, setidaknya dibandingkan dengan lembaga pendidikan formal berbasis sistem kontinental.

Pada momentum seperti ini sesungguhnya gerakan #ayomondok yang diinisiasi Rabitah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU yang dilakukan beberapa tahun terakhir patut diapresiasi. Selain itu, lahirnya Keppres No 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri juga merupakan momentum bagi kaum sarungan untuk kian meneguhkan diri dalam peran dan kontribusinya yang signifikan, bahkan vital. Tidak hanya dalam pewarisan ilmu, tapi juga pembentukan kepribadian, termasuk “revolusi mental” yang diharapkan Presiden RI saat ini.

*Artikel ini pernah diterbitkan di rubrik Teroka Harian Kompas, Senin 7 Agustus 2017


Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *