Kamis, 28 September 2017

Lupa dan Ingat


Setahu saya orang lupa itu memiliki hak istimewa di depan Tuhan. Mereka yang sedang lupa tidak dibebani syariat untuk menjalankan serangkaian kewajiban. Bahasa agamanya: mereka tidak kena 'taklif'. 

Perkara taklif ini, jika anda ingin mengkaji dan mengajinya dengan serius silakan tanyakan kepada agamawan dan rohaniawan kepercayaan anda masing-masing. 

Saran saya, jika agamawan dan rohaniawan kepercayaan anda itu cuek dan marah menerima pertanyaan soal 'taklif' itu, silakan anda tanya ke gugel juga ndak apa-apa. 

Bagi sebagian orang gugel memang sudah dicap jelek. Titik. Ada kaos tulisannya 'Guruku Kiai, bukan Mbah Gugel'. Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan kalimat itu. Perkaranya simpel saja, masak ndak ada sedikit pun yang bisa kita teladani dari gugel? Menurut saya kok ada. 

Begini, gugel itu sifatnya menjawab apa saja yang anda tanya. Pengetahuannya bersifat ensiklopedis. Gugel ndak pernah mbesungut, mrengut, kesal, dan ngambek kalau ditanya. Malah jika pertanyaan yang kita ajukan kepadanya dinilai keliru, maka ia akan sekonyong-konyong membenarkan. Biasanya kalimat yang digunakan seperti ini: 'mungkin yang anda maksud adalah......'. Ajaib gugel ndak pernah marah dan selalu berusaha memberikan menu jawaban atas pertanyaan kita. Ramah dan tidak mudah mbesungut dan marah adalah dua pelajaran yang bisa kita teladani dari gugel.

Kembali soal lupa. Yang penting untuk dicatat adalah lupa itu perkara alamiah, bukan rekayasa. Ia datang dan pergi begitu saja semau-maunya. Tentu saja di luar kuasa dan kehendak manusia.
Senyampang dengan hal itu, lupa tentu saja berbeda dengan melupakan. Melupakan itu sebuah--meminjam istilahnya Umberto Eco--rekayasa yang bersifat mekanik. Ia tidak alamiah. Ia rekaan. Orang yang belajar melupakan, sejatinya ia akan semakin ingat persoalan yang mati-matian berusaha untuk dilupakan itu.

Lupa bagi Tuhan memang memiliki tenpat tersendiri yang barangkali diistimewakan. Namun, bagaimana perlakuan manusia terhadap orang yang lupa?

Di dunia pendidikan misalnya, jika anda sedang ujian dan menghadapi bejibun pertanyaan dan anda lupa jawaban-jawaban yang sejatinya sudah anda pelajari untuk semestinya anda tuliskan di kertas ujian anda, apakah dunia pendidikan bisa memaafkan dan memberi pemakluman? Tentu saja tidak. 
Nilaimu jeblok, rapormu anjlok, angka-angka indeks prestasimu terjun bebas sampai kondor sekali pun--dalam dunia pendidikan--tak ada hubungannya sama sekali dengan lupa yang menerpamu saat mengerjakan soal ujian. Pendidikan kita tak punya tempat bagi orang-orang lupa.

Kalau dalam sidang skripsi, tesis, dan disertasi tiba-tiba kita lupa dengan apa yang seharusnya kita ingat, bagaimana kira-kira reaksi penguji? Anda bisa mensimulasikan jawabannya sendiri.

Segendang sepenarian, di jalanan kita juga dituntut untuk tidak boleh lupa. Polisi-polisi yang saban pagi hilir-mudik sembari nongkrong di perempatan jalan dengan menenteng kuitansi itu sampai mampus tidak akan pernah bisa menerima alasan kalau anda lupa membawa STNK.

Begaimana? Soal 65 pun demikian juga. Kita harus hati-hati dan teliti hanya sekedar untuk membedakan lupa dengan melupakan.

Setuju atau tidak, saya tetap setuju dengan pendapat saya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *