Senin, 27 November 2017

Nama-nama di Era Migrasi Kemanusiaan

18.50

Nama, barangkali itu "harta" yang paling dasar sekaligus tinggi bagi sesiapa saja. Ia bahkan kerap lebih berharga dibandingkan manusianya itu sendiri. Banyak orang-orang tua yang sudah tersandera "citra" berpesan, ketika anaknya pamit merantau kuliah atau kerja, "jaga nama baik keluarga kita".
Ha laiya, wong nama saja kok disuruh njaga, kurang kerjaan po? njaga kelangsungan hidup, apalagi di ibu kota yang manusianya kerap berperilaku tidak manusiawi, susahnya masyaawwoh, lha kok lar-lar gawe mbuh- buhane njaga nama segala.
Nama, anda tahu, nampaknya bagi masyarakat kita melampaui sekat-sekat sembrono nan cuek ciptaan William Shakespheare yang dengan lantang berujar "apalah arti sebuah nama". Nama, selain sebagai penanda, bagi masyarakat kita harus bersifat estetik, nyeni dan nyenengne.
Pada titik inilah sodara-sodara sekalian harus tahu bahwa memberi nama bukanlah perkara sepele. Ia harus diritualkan, diresmikan, digebyarkan. Makanya di kampung-kampung itu, hampir selalu ada kenduren khusus dalam rangka memproklamirkan nama anak yang baru lahir. Tak peduli sepesek apapun anak itu, ia harus diberi nama yang terbaik dan disambut hangat kelahirannya.
Jadi jelas, nama itu penting.Titik.
Nah, ribut-ribut soal nama belakangan hari yang melanda saudara Tuhan yang berdomisili di mBanyuwangi dan Rekan Saiton yang berprofesi guru di embuh aku lali, saya kok kepingin urun rembuk begini: hari ini, percayalah, kita sedang memasuki apa yang disebut dengan era migrasi kemanusiaan. Buktinya adalah terdegradasinya nilai-nilai dan simbol-simbol kemanusiaan. 
Gampangnya begini saja, hari ini kita sedang memasuki era di mana nama kucing dan anjing peliharaan lebih keren dan bagus dibandingkan nama majikan. Ha lha iya, nama majikannya Agus, nama anjingnya gilbert, plecky, pinky. Ndak pernah saya menjumpai anjing yang namanya mukiyo, wagiman, dan juga rowiyah. Nama-nama yang aneh dan terlalu jelek untuk sebuah kucing dan anjing.
Nah, mungkin, sekali lagi hanya mungkin, Bapaknya Tuhan yang di mBayuwangi itu kepingin meng-counter hegemoni (wis opo meneh iki??) era dan budaya serta tanda-tanda zaman migrasi kemanusiaan itu. Caranya simpel, kasih nama bayi dengan sebutan yang paling sakral dan mulia atau sebaliknya kasih nama paling hina dina.
Nah, di sinilah nama Tuhan dan Saiton itu nampaknya menemukan alasan filosofisnya.
Supresnya, ternyata saya baru tahu bahwa agama Tuhan adalah Islam, sebagiman tertera di KTP nya. Saya semakin mantap dengan agama pilihan saya. Tiba-tiba say a merasa menjadi manusia yang paling beruntung bisa hidup sezaman dengan Tuhan.
Tapi tunggu dulu, jangan ge-er, lha wong Saiton itu yang profesinya jadi guru ternyata agama juga eslam je. Lha terus njur piye iki?
Ruwet to? Kandani kok. Begitulah, masalah ini seruwet hubungan percintaanmu, bukan?


Rabu, 22 November 2017

Pawang Hujan itu

18.53

Bapak saya menelpon beberapa hari lalu. Beliau cerita bahwa tebu kami sudah lunas dipanen. Alhamdulillah ndak kena hujan, jadi biaya panen ndak membengkak.
Perlu dimengerti bahwa bagi petani tebu, hujan di saat panen adalah mini bencana. Hujan di saat panen sama artinya belaka dengan harus mengeluarkan biaya ekstra. Biaya umbal (semacam angkut manual yang diperankan porter stasiun dan bandara) dari sawah ke jalan raya muahalnya minta kutuk. 
Nah, alhamdllah kata Bapak, panen berjalan lancar dan tak ada masyalah. Langit cerah dan tentu dengan angin khas kampung kami yang nggebesnya warbiyasah. Panas. Panas sekali, seperti lidah matahari hanya menjulur ke kampung kami.
Mendengar cerita Bapak, saya kok jadi kepikiran sama bencana asap beberapa tahun lalu dan juga kekeringan di negeri ini. Asap tak kunjung lenyap, kemarau mendesau dicampur panas, sungguh racikan cobaan yang pas.
Di banyak tempat, manusia berkumpul melakukan salat istisqa. Meminta Tuhan menurunkan hujan. 
Sabtu kemarin saya membaca sebuah harian di Bogor. Halaman mukanya tertulis "Minta Hujan, datang Badai". Saya diam-diam bersedih membaca berita itu. 
Ini bukan melankoli. Ini hanya semacam kesadaran diam-diam bahwa betapa sering kita mendikte keinginan Tuhan. Setengah mati kita minta hujan, tatkala Tuhan menurunkan hujan yg disertai sedikit angin pentil mungser kita sudah suudzon dan marah pada-Nya. 
Ah tapi ndak papa. Lha wong manusia, macem-macem praupannya.
Yang penting itu sekarang, saat ngobrolin hujan, saya jadi teringat Budi Darma, si sastrawan gaek yang batre bersastranya tahan lama sampai usianya yang hampir menjelang satu abad itu. Dia mengatakan bahwa ada dua macam pola pikir yang dianut bangsa-bangsa meutakhir sekarang. Pertama, pola pikir epistemik. Kedua, pola pikir hermeunetik.Pola pikir epistemik adalah pola pikir yang secara kronologis diawali oleh penelitian, penelitian, penelitian, baru kemudian ditarik sebuah kesimpulan. Biasanya yang biasa begini ini orang barat, termasuk jepang punya tradisi berpikiri seperti ini.
Adapun pola pikir hermeunetik adalah pola pikir yang lebih dilambari dan dialas kaki-i oleh intuisi. Ia mengendalkan mata hati dan kejernihan kalbu.
Pada pola pikir yang pertama, produknya jelas, lahir ribuan ilmuwan. Sementara pola pikir kedua melahirkan apa yang kita kenal hari ini semacam "orang pintar".
Di Indonesia "orang pintar" bukanlah mereka yang lunas mengenyam bangku kuliah. "Orang pintar" adalah mereka yang linuwih. Punya mata batin, tahu sebelum kejadian (weruh sak durunge winarah) dan tentu saja di samping itu harus rajin-rajin minum tolak angin.
Nah, pawang hujan adalah salah satu contoh orang pintar yang lahir dari masyarakat bertradisi pola pikir hermeunetik. Sebab saya yakin cara kerja pawang hujang sampai kapanpun tak akan pernah bisa dikuak secara ilmiah. 
Zaman sudah maju, android dan ios sudah begitu canggihnya hingga dilengkapi dengan ramalan cuaca. Tapi android dan ios tak punya intuisi, sebagaimana pawang hujan. Maka android dan ios itu rapuh dan tentu saja kalah dibandingkan pawang hujan.
Seperti hari ini, menurut android Jakarta hanya berwan. Tapi nyatanya? Mbelll dan preet saya terpaksa harus menunda jadwal ibadah kencan ke Gramedia saya akibat hujan yang begitu dahsyatnya.

Mahakeliru Android dengan segala prediksinya.


Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *