Senin, 05 Februari 2018

Memaknai Ulang Pintu Belakang

Seorang anak menggamit bungkusan gula pasir. Ia menyembunyikan bungkusan itu di balik kaus oblong yang dipakainya. Ketika memasuki pintu rumah, ia mempercepat langkahnya. Lintang pukang ia tidak memedulikan keadaan, termasuk ruang tamu, tempatnya ayahnya menerima beberapa pelancong dari seberang kala itu.
Adegan itu termaktub dalam dalam buku Back Door Java karya Jan Newberry (2013). Etnograf dari Universitas Lethbridge, Alberta, Kanada, ini melakukan riset di Yogyakarta. Bidang perhatiannya menarik: pintu belakang. Ia mengurai dengan jeli akar sosiologis urgensi, signifikansi, dan fungsi pintu belakang bagi masyarakat Jawa. Dari hasil riset itu, ia sampai pada kesimpulan: pintu belakang, bagi orang Jawa, memiliki fungsi yang amat sentral. Ia adalah wahana untuk meruntuhkan formalitas. Ia lokus yang sangat efektif untuk memupuk hubungan-hubungan kekeluargaan.
Suasana yang cenderung formal, penuh ”kamuflase” sopan santun, rikuh, dan cenderung kaku sebagaimana biasanya terdapat ketika seseorang bertamu lewat pintu depan rumah. Semua itu tidak terdapat di pintu belakang. Orang yang datang dan masuk rumah lewat pintu belakang bukanlah tamu. Ia bagian dari keluarga itu sendiri. Demikian Newberry menarik benang merah.
Josef Priyotomo (2015) dalam Griya dan Omah: Penelusuran Makna dan Signifikasi di Arsitektur Jawa mengatakan bahwa bagi orang Jawa setiap bagian rumah memiliki filosofi, mulai dari bagian halaman, ruang tamu, dapur, sampai pintu belakang.
Khusus mengenai pintu belakang, Radhar Panca Dahana dalam sebuah kesempatan mengatakan, bisa jadi filosofi pintu belakang bagi masyarakat Jawa diilhami oleh adab bahari—terutama mereka yang tinggal di pesisir utara pantai Jawa. Masyarakat beradab maritim memiliki pola pikir khas masyarakat bahari yang egaliter, terbuka, dan kosmopolit. Masyarakat seperti ini tecermin dengan simbol horizon laut yang terbentang luas dan terbuka.
Adab maritim cenderung menolak kejumudan. Ia terus bergerak, tidak mandek, termasuk yang paling penting dalam hal ini adalah pandangannya soal rezeki. Orang beradab bahari cenderung memiliki pemahaman bahwa kehidupan harus terus bergerak. Ia tidak boleh berhenti. Maka, rezeki pun demikian, masuk lewat pintu depan dan keluar lewat pintu belakang.
Filosofi mulia pintu belakang bagi orang Jawa itu sayangnya dirusak oleh makna konotatif yang hadir lebih belakangan. Secara konotatif pintu belakang berarti jalan tidak resmi, wahana kasak-kusuk, tempat transaksi ilegal, dan sebagainya.
Seketika makna yang muncul kali pertama ketika disebutkan frasa pintu belakang adalah akses kemudahan, adanya orang dalam, dan urusan yang cepat beres. Makna filosofis pintu belakang runtuh seketika. Jika berbicara pintu belakang, hari ini, orang jarang sekali, atau bahkan sama sekali tidak ingat pintu belakang dalam wujud keasliannya (makna denotatif). Pintu belakang lebih diasosiasikan pada pemaknaan konotatif: tempat kemudahan, lobi-lobi, kasak-kusuk, dan ketidakjujuran mengemban amanah.

Pernah dimuat di Harian Kompas, 5 Februari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *