Rabu, 14 Maret 2018

Nonya Meneer


“Dalam urusan budaya, sepertinya ada tekanan kuat—bagi kita—untuk mengadopsi budaya Barat. Istilah budaya Barat, untuk sekarang ini, cukuplah kita artikan sebagai sistem di mana fungsi sosial semakin terdiferensiasi akibat tekanan kompetisi. Semakin maju tingkat diferensiasi, semakin banyak fungsi sosial. Semakin banyak fungsi sosialnya, semakin bergabunglah individu pada individu lain. Misalnya, kita tidak sulit menemukan sebuah keluarga kelas menengah ke atas yang kelancaran hidupnya bergantung pada asisten rumah tangga, pengurus anak, supir, penasihat keuangan, konsultan pajak, hingga make-up artist. Semakin orang saling bergantung, semakin kehidupannya harus diatur seakurat dan sedetail mungkin, agar setiap orang bisa menjalankan fungsi sosialnya. Tak heran jika dalam kehidupan sehari-hari, kita didorong untuk selalu membuat perencanaan dan bertindak rasional.”

Paragraf di atas saya nukil dengan sedikit adaptasi dari Roby Muhamad. Dalam tulisan bertajuk Nostalgia Masa Depan Manusia itu ia berbagi kegelisahan juga sekaligus optimisme tentang kemungkinan-kemungkinan kehidupan manusia di masa yang akan datang.

Betul Demikiankah pemahaman soal definisi manusia modern yang bersemayam di tempurung otak kita? Saya tidak bisa menjawab. Riset-riset terakhir yang saya baca menunjukkan resonansi yang sama dan cenderung sekalam seperkataan. Bahwa manusia-manusia semakin hari hidup dalam sekat-sekat fungsi yang tentu saja semakin rigid dan menyempit. Pada posisi seperti ini, manusia memiliki segalanya, kecuali waktu.

Untuk hajatan mantenan misalnya, betapa kita sekarang ini hampir tidak akan menemukan kerepotan sama sekali. Segala persiapan mulai konsep acara, gedung, katering, tata rias, dan juga pawang hujan sudah ada ‘ahlinya’. Merekalah yang sibuk Ini dan itu. Memepesiapkan segala sesuatu. Kita yang punya hajat tinggal ongkang-ongkang kaki.

Demkianlah. Kita memang punya segalanya. Barangkali satu-satunya yang tidak kita punyai adalah waktu. 

Waktu memang misteri. Seperti Jamu Nyonya Meneer yang sampai sekarang diperdebatkan kapan mulai berdiri. Sebagian menjawab 1974, sebagian yang lain 1975. Dan saya memilih untuk keluar dari polemik dua kubu itu. Saya punya jawaban tersendiri soal misteri waktu kapan Jamu Nyonya Meneer berdiri. Menurut saya Nyonya Meneer berdiri sejak tidak kebagian tempat duduk.
Seperti itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *