Rabu, 21 Maret 2018

Sugeng Tindak, Kedisiplinan..



Azan asar baru lekas dikumandangkan ketika sebuah mobil menyapu jalanan halaman pelataran pesantren Mambaul Ma’arif. Mobil itu dengan kecepatan perlahan menuju depan ndalem kesepuhan—rumah peninggalan Kiai Bisri Syansuri, Pendiri Pesantren Mambaul Ma’arif—. Sesaat setelah posisi mobil rapih dan mesinpun dimatikan oleh pengemudi, sesosok perempuan sepuh dengan sangat hati-hati keluar dari pintu mobil sebelah kiri.

“Mbah Nyai baru pulang dari Madura,” seorang santri berkata kepada saya.

“Sejak kapan, Mas?”

“Tadi pagi. Sore langsung kembali. Mbah Nyai tidak tega meninggalkan pondok dan santrinya terlalu lama”

“Di usia yang sudah sepuh, Mbah Nyai masih sering bepergian?”

“Iya, Mas.”

Percakapan kami berakhir ketika suara ikomah berkumandang. Tanda salat jamaah segera dimulai. Santri-santri berhamburan merapatkan barisan untuk menunaikan salat jemaah asar. Lamat-lamat saya saksikan Kiai Wazir Ali bertindak sebagai imam.

Hari itu memang saya hendak sowan kepada Mbah Nyai Nadhiroh. Saya hendak ngaturi ngayubagya memberi restu sekaligus mendoakan pernikahan saya dengan istri.

Hari itu, sekira habis zuhur saya sudah sampai di Denanyar, setelah bertanya sana-sini saya mendapat informasi bahwa Mbah Nyai masih tindakan ke Madura, sementara putra beliau—pengasuh pesantren Mambaul Ma’arif KH. Abdussalam Shohib nampak masih sangat serius memimpin rapat di ndalem kesepuhan.

Sembari menunggu kedatangan Gus Zidny Nuuro, cucu Mbah Nyai Nadhiroh dari jalur Almarhum Kiai Zaidan Hadi dan Almarhumah Nyai Zaenab Shohib, Saya masih sempat berdiri di depan kelas Madrasah Aliyah Muallimin (lama) yang terletak persisi di timur kantor Yayasan untuk bernostalgia saat-saat saya ditempa menjadi santri—saat-saat perut dicubit karena tidak menghafal Alfiyah, saat-saat mengharukan sebab aktivitas maknani kitab terkendala karena bopoint Hi-Tec yang tiba-tiba mblobor sehingga harus kami bakar dan panasi ujung bolpointnya pakai korek api dan bejibun kenangan-kenangan yang mengharukan sekaligus membahagiakan lainnya.

“Kita Ke Mbah Sholeh dulu, ngopi baru sowan Kiai Salam sambil nunggu Mbah (Nyai) Rawuh,” demikian Gus Zidny menguarkan rute perjalanan sowan hari ini.

Singkat hikayat setelah sowan Mbah Soleh di Banjardowo sembari ngopi sejenak lalu dilanjutkan sowan Kiai Abdussalam, sore itu saya diantarkan oleh Gus Zidny sowan Mbah Nyai Nadhiroh. Kami berdua duduk bersimpuh di ruang tamu, di sisi dipan besar yang terletak di pojok kanan ndalem. Mbah Nyai Nadhiroh berbaring mengistirahatkan diri di ruang tamu. Wajahnya bersih dan cerah. Sepuh tapi terlihat tetap semangat dan bersinar wajahnya. Sampai di sini saya menjadi teringat pada Novel “Harimau Harimau” gubahan Mochtar Lubis bahwa kekuatan manusia itu terletak pada jiwanya bukan fisik dan raganya.

Jiwa yang kuat itu tentu saja saya lihat dengan nyata tersemat pada sosok Mbah Nyai Nadhiroh. Persis, pada waktu saya sowan, beliau menapaki usia 80 tahun kurang 15 hari. Usianya yang sangat sepuh memang, namun sebagaimana saya ungkapkan, sepuhnya usia bukan berarti padamnya semangat dan energi untuk selalu berbagi dan mengabdikan diri menyebar ilmu, menjalin silaturrahim, melayani masyarakat juga umat.

“Sampean arep rabi?”

Injih, Mbah Nyai”

Yawis dungakno aku sehat,” demikian Mbah Nyai memungkasi percakapan kami.

Saya tidak menaruh hasrat yang menggebu agar Mbah Nyai Nadhiroh berkenan rawuh ke acara pernikahan saya. Baliau pirsa dan merestui saja rasanya sudah sangat menguntungkan saya. Tentu saja selain itu, melihat kalimat-kalimat dawuh beliau ketika saya aturkan undangan, saya tidak berharap dan mupus diri sekaligus sudah siap dan memaklumi kalau toh memang beliau kelak—karena satu dan lain hal—batal dan tidak jadi rawuh ke pernikahan saya. Toh lagi pula Mbah Nyai memang menanyakan di mana acara resepsi nikah dihelat, namun tanpa sama sekali menanyakan jam berapa acara resepsi dimulai. Saya semakin yakin kans Mbah Nyai untuk rawuh sangatlah sedikit. Namun malam itu saya pulang dengan bahagia, sangat bahagia malahan. Sebab saya sudah mengantongi restu dari Mbah Nyai Nadhiroh. Itu saja, selebihnya saya tidak berharap lebih.

Sampai kemudian di pagi yang cerah tanggal 14 Januari jam 8.15 pagi, di antara sosok lalu lalang yang sibuk mempersiapkan aneka perlengkapan acara respesi, di antara hilir mudik para peladen yang sibuk menyiapkan ini itu demi kelancaran acara, sosok sepuh yang turun dari sebuah mobil yang berhenti persis di depan rumah kami membuat mata saya berkaca-kaca seketika. Sosok sepuh itu—Mbah Nyai Nadhiroh—terlihat sangat cerah hari itu. Berjalan setapak demi setapak didampingi cucu beliau Neng Zufa Alhusna. Acara belum mulai, bahkan panitia masih sibuk mempersiapkan lokasi, sound system jangankan nyala, dicek saja belum.

Saya yang masih sibuk mencoba-coba baju pengantin—yang akhirnya tidak cocok juga karena ukurannya terlalu besar—mematung beberapa saat. Terharu, tentu saja. Air mata menetes tanda bahagia.

Mbah Nyai datang persis bahkan sebelum jadwal resmi acara yang tertera di undangan 8.30 Wib. Untungnya panitia cekatan, sembari menunggu acara dimulai, beliau transit di rumah keluarga. Sekitar jam 9.30 Wib acara resepsi belum dimulai juga. Sembari menunggu undangan datang, oleh protokoler dan panitia kami—penganten-- diminta foto bareng dengan segenap keluarga: bergantian. Banyak dan lama sampai saya tentu saja kehabisan gaya.

Foto sudah selesai namun acara tak kunjung dimulai juga. Mbah Nyai nampak berjalan dari sisi panggung keluar dari rumah transit yang kami sediakan. Berdasarkan musyawarah terbatas keluarga, menimbang kesehatan Mbah Nyai akhirnya diputuskan Mbah Nyai dimohon berkenan memberikan doa buat kami pagi itu sebelum acara resepsi dimulai. Saya yang masih berdiri di atas pelaminan segera menghamburkan diri dan sungkem pada Mbah Nyai. Pelan-pelan kami berdua—saya dan istri—memapah beliau untuk menaiki pelaminan. Mbah Nyai duduk di kursi pelaminan sementara saya dan istri bersimpuh di depan beliau. Doa demi doa Mbah Nyai panjatkan, sementara kami sibuk mengamininya. Berkali-kali Mbah Nyai berdoa “Allahumma Allif bainahuma kama allafta adam wa hawa…”

Sosok perempuan sepuh bernama kecil Siti Nadziroh Manshur itu begitu disiplin, tekun, dan ajek sekaligus iatikomah. Mbah Nyai Nadhiroh lahir pada Sabtu, 31 Desember 1938, saat usia Nahdlatul Ulama, organisasi yang kelak gigih diperjuangkannya, tepat memasuki usia 12 tahun. Nyai Nadhiroh tumbuh sebagai pribadi yang bukan saja berpengetahuan agama yang mumpuni, namun sekaligus teladan yang laik untuk diikuti.

Sosok sepuh itu, Mbah Nyai Nadhiroh Manshur, telah berpulang dengan tenang pada selasa, 20 Maret 2018. Masing-masing kami memiliki saldo kenangan yang boleh berbeda satu sama lainnya, namun sama-sama memiliki kesamaan bahwa saldo kenangan itu tidak pernah bisa terlupakan apalagi terhapuskan. Sugeng tindak Mbah Nyai Nadhiroh, sugeng tindak kedisiplinan…

Jakarta, 21 Maret 2018

Fariz Alniezar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *