Senin, 23 April 2018

Benalu dan Slilit



Sejak dulu barangkali ada sejenis manusia yang selalu membutuhkan penderitaan dan kesalahan pihak lain sebagai bahan bakar utama kebahagiaannya. Manusia semacam ini, anda tahu, sama belaka dengan benalu. 
Ia menjadi predator yang dingin, namun mematikan. Mengisap si empunya yang 'ditumpangi'. Kalau ia berada di tempat kerja misalnya, ia akan menggerutu saban hari, semacam mengkritik tapi waton njeplak dan nirsolusi. Ia bisa seenaknya sendiri omong ini dan itu, menyalahkan pihak anu dan anu, seolah tidak ada yang benar kecuali Tuhan, Nabi-nabi, dan dirinya. Barangkali begitu.
Celakanya, media sosial membuat pertumbuhan manusia jenis ini menjadi semakin cepat dan akseleratif. "Manusia-manusia nyinyir yang tidak bisa menempatkan diri memang selalu menjengkelkan. Ia seperti slilit. Menggangu dan menyusahkan," kata seorang kawan.
Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan kawan itu. Bagi saya, anda tahu, manusia nyinyir itu benalu, bukan slilit. 
Jika dibandingkan, Kadar bahaya slilit dengan benalu amatlah jauh. Baina sama' wa sumur minyak, barangkali. Slilit tidak mengisap, sementara benalu terus-terusan aktif mengisap dan membuat si empunya yang diisap menjadi kurus kering, meranggas, lalu kemudian mati.
Alah limau oleh benalu, demikian sebuah peribahasa. Artinya benalu selalu merugikan dan menyusahkan hidup orang yang dia tumpangi. Kita bisa mengganti 'orang' itu dengan apa saja: lembaga, instansi, perserikatan, perusahaan, dan seterusnya dan sebagainya.
Saya teringat sebuah cerpen milik Puthut EA bertajuk "Benalu di Tubuh Mirah". Begini kutipannya: 
"Dan di dunia mana pun, benalu tetaplah benalu. Di bidang apa pun, orang yang tidak mampu bekerja dan tidak sanggup berkarya, sama saja. Orang-orang seperti itu memiliki kecenderungan yang sama di bawah langit ini. Cerewet dan sok tahu. Segala sesuatu dikomentari, segala hal dinyinyiri, merasa tahu segala hal dan merasa ampuh dengan hanya berkomentar. Mereka selalu berusaha menyogok kesadaran orang-orang sekitar mereka untuk sekedar mendapatkan pengakuan sosial. Dan sialnya, orang-orang seperti itu selalu mengganggu dan menyatroni kerja orang lain. Eksistensi orang-orang seperti itu didirikan di atas kesalahan yang dicari-cari. Landasan hidup mereka hanya bertumpu pada kalimat kunci: pasti ada yang salah dan harus ada yang salah!.
Manusia seperti itu barangkali adalah manusia yang aroma komentarnya lebih diselimuti rasa benci ketimbang ingin berbagi. Sejenis komentar yang mbejudul dan lahir dari rasa kecewa. Atau sangat mungkin semacam komentar yang lahir dari bibir-bibir pribadi yang ‘tidak terlatih’ untuk kalah. Dan ini lebih berbahaya. 
Orang-orang kalah memang selalu menjengkelkan jika mereka tidak bisa berdamai dengan keadaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *