Minggu, 08 April 2018

Mahasiswi Itu


Di tengah semangat yang megap-megap dan mata yang masih byar-pet, saya berusaha memenuhi panggilan dering henpon di pagi tadi.
Sial memang, jauh sebelum ayam berkokok, henpon saya sudah berdering. "Siapa kira-kira yang menelponku semalam ini?" gumam dalam hati.
Dengan perasaan setengah hati saya mengangkat telepon itu. "Halo Pak, soal yang bapak berikan kok susah banget ya, Pak? Saya sampe semalaman belum kelar mengerjakan. Anu, boleh ndak Pak kalau saya minta keringanan. Semacam amnesti Pak,” terdengar suara nyaring di ujung henpon sana.
Dasar pikiran masih sempoyongan, mata belum jangkep, dan mulut masih ndoweh aras-arasen diajak ngobrol, maka akhirnya saya menjawab dengan sekenanya saja "oh iya.”
"Berarti boleh ya Pak? Terus jangan banyak-banyak Pak soalnya..." selidik dan pintanya.
"Oh No" sekali lagi saya menjawab dengan tingkat kemalasan bibir yang seolah menyangga beban berton-ton.
"Ah bapak, kok dikit banget jawabnya..." Nampaknya dia kesal.
"Sebentar, sampean mahasiswi saya? Namanya siapa?" Saya mak tratap.
"Lhoh, bagaimana sih Pak, saya ini mahasiswi bapak yang sudah kelar ujian kemarin. Masak lupa..." Ia menjawab dengan ketus.
"Mbak, urusan saya tidak hanya menghapal nama mahasiswa dan mahasiswi saja. Mohon maaf saya sering lupa, nampaknya karena terlalu sibuk isi kepala saya ini dengan aneka pasword yang harus saya hafal. Mulai akun Fesbuk, tuiter, pet, dan lain sebagainya. Jadi mohon maaf ya..." Saya berapologi.
“Bapak bagaimana sih? Saya yakin berarti bapak tak pernah mendoakan kami...mahasiswa-mahasiswi bapak. Mengingat nama saja ndak hapal apalagi mendoakan Pak Pak...padahal Kiai-Kiai dulu kan selalu hapal dan mendoakan santri-santrinya..." Saya merasa diberi kuliah gratis olehnya.
"Anu mbak... tut tut tut" Tetiba suara itu hilang dan nampaknya jaringannya terputus.
Dengan selo, saya tidur lagi. Melanjutkan mimpi basah yang tertunda.
Dan esoknya saya teringat, kemudian tersadar, lalu melacak nomor mahasiswi itu. Berhasil ketemu, tapi sudah ndak aktip.
Saya keluar kontrakan, menengadahkan wajah ke langit sedetik kemudian menunduk..."Ya Awwoh, maturnuwun saya sudah diperingatkan atas kelalaian hamba”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *