Sabtu, 30 Juni 2018

Arus Balik dan Arus Rantau


Tidak ada catatan pasti, sejak kapan tradisi arus balik muncul. Kemunculannya barangkali selaras dengan kemunculan tradisi pulang ke kampung halaman atau mudik.

Pertanyaan yang timbul kemudian adalah, jika mudik adalah lema yang ditujukan untuk makna kembali ke kampung halaman dalam arti pulang ke tempat muasal, maka sejatinya apa yang dimaksud dengan arus balik itu?

Uniknya, jika kita merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, makna arus balik yang lazim dipergunakan untuk merujuk aktivitas kembali ke kota perantauan tidaklah kita temukan. Alih-alih, KBBI V malah mengartikan arus balik sebagai: arus di bawah permukaan laut yang mengalir berlawanan arah dengan arus di permukaaan (istilah Geografi) dan arus permukaan laut yang berlawanan arahnya dengan arus permukaan tempat sekitarnya.

Pramodya Ananta Toer memberi judul epos dengan tajuk Arus Balik (1995). Arus balik yang dimaksud adalah berbalikarahnya arus dari utara menuju ke selatan. Arus yang dimaksud adalah penjajahan yang bersifat ekspansif dan segenap pirantinya: termasuk ideologi dan kebudayaan.

Begini Pram menulis: “Biar aku ceritai kalian. Dahulu, di zaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin. Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini. Kapal-kapalnya, muatannya, manusianya, amal dan perbuatannya, cita-citanya–semua, itulah arus selatan ke utara. Segala-galanya datang dari selatan. Majapahit jatuh. Sekarang orang tak mampu lagi membuat kapal besar. Kapal kita makin lama makin kecil seperti kerajaannya. Karena, ya, kapal besar hanya bisa dibikin oleh kerajaan besar. Kapal kecil dan kerajaan kecil menyebabkan arus tidak bergerak ke utara, sebaliknya, dari utara sekarang ke selatan, karena Atas Angin lebih unggul, membawa segala-galanya ke Jawa, termasuk penghancuran, penindasan dan penipuan. Makin lama kapal-kapal kita akan semakin kecil untuk kemudian tidak mempunyai sama sekali.”



Arus balik adalah “berpulangnya” arus dari utara ke selatan. Jelas, muasal arus sejatinya berasal dari selatan. Maka arus yang asalanya dari selatan bergerak ke utara, namun belakangan arus tersebut kembali atau balik dari utara ke selatan. Itulah arus balik.

Pertanyaan bagaimana dengan makna arus balik yang berkembang belakangan ini? Di sinilah letak keunikannya. Arus balik yang kerap kita dengar hari ini sejatinya memiliki kejanggalan—kalau tidak mau disebut memiliki cacat logika--.

Arus balik digunakan sebagai penanda aktivitas kembalinya manusia urban dari kampung halaman ke tempat kerja mereka (kota). Mereka beringsut meninggalkan kampung halaman untuk beradu nasib di perantauan. Kata Sujiwo Tedjo (2017) mestinya frasa yang tepat digunakan untuk merujuk aktivitas pergerakan manusia urban tersebut adalah arus rantau. Yakni sebuah arus yang mebawa manusia ke perantauan, bukan arus balik.

Frasa arus balik jika digunakan untuk merujuk aktivitas kembali ke kota tempat bekerja, pada gilirannya akan melahirkan sebuah pemahaman bahwa seolah-seolah asal muasal para perantau adalah kota. Padahal yang yang terjadi sebaliknya: asal mereka adalah kampung atau desa. Natijahnya, menamakan aktivitas kembali dari kampung halaman sebagai arus balik merupakan kekeliruan konsep yang sangat mendasar.

Frasa arus balik justru lebih tepat untuk digunakan sebagai penanda aktivitas pulang kampung. Sebab subjek bergerak dari kota tujuan ke kampung halaman ia berasal. Sementara pergi dari kampung halaman untuk mencari nafkah, penghidupan atau apapun saja disebut dengan arus rantau.

Mendadak saya teringat sebuah lagu Koes Plus berjudul “Kembali ke Jakarta”. Dalam sebuah liriknya, Koes bersaduara bersenandung “Ke Jakarta aku kan kembali….”. Lagu ini mengandaikan bahwa muasal subjek adalah dari Jakarta, padahal fenomena urbanisasi itu pergerakan penduduk dari kampung atau desa ke kota. Amboi nian betapa uniknya.

Pernah dimuat di Majalah Tempo Edisi 10-17 Juni 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *