Senin, 11 Juni 2018

Membakar Rumah Tuhan


Sebuah tautan berita meyembul dilayar ponsel. Saya membukanya. Kiriman seorang teman. Hulu beritanya berbunyi ‘Anies Baswedan Bantah DKI Gelar Buka Puasa di Monas, Tarawih Saja’. Selang beberapa detik kemudian di bawah tautan itu kawan tadi mengirim pesan singkat. ‘Mari tegakkan kalimat Allah. Islam harus tegak di Bumi Allah’.

Warna kalimat yang bisa membuat biji zakar siapapun akan mangkerut seketika. Ada rasa nyeri di ulu hati. Namun, sekaligus di saat yang bersamaan saya juga kepingin jungkir balik menertawakan logika kawan yang satu ini. Apa pasal? Nanti dulu, saya jelaskan pelan-pelan.

Pasca gerakan dua satu dua, memang kondisi kita menjadi sedemikian tidak karuan. Polarisasi menajam. Kebencian merebak. Kecurigaan membuncah. Akibatnya, kebanyakan kita kehilangan kejernihan melihat persoalan. Karena itu tadi, kebencian dan kecurigaan menjadi alas berpikir. Ini bahaya. Padahal kata Allah “janganlah rasa kebencian terhadap suatu kaum menjadikanmu berbuat tidak adil kepadanya”.

Beberapa saat yang lalu, seminggu setalah film dua satu dua the power of love dirilis, saya melakukan riset mini kepada mahasiswa di kelas saya. Mereka saya tanya dan begini rekaman kronologisnya:

Mula-mula saya menguarkan pertanyaan apakah mereka tahu tentang adanya film tentang fenomena 212? Nyaris semuanya menganggukkan kepala. Apa judulnya? tiga sampai empat dari anggota kelas memberikan jawaban dengan sangat tegas: ‘The Power of Love?” jawab mereka. 

Saya diam, mengambil jeda sambil memasukkan kedua tangan di saku celana jins saya. Lalu kemudian saya melanjutkan pertanyaan, ‘siapa di antara kalian yang memiliki hasrat untuk menontonnya?’ Kali ini semuanya mengacungkan tangan. Mengapa? Jawab mereka karena penasaran.

Secepat kilat saya menimpali "sebaiknya kalian urungkan niat itu. Tidak usah menonton film itu. Lebih baik uangnya belikan buku, atau simpan untuk tabungan umrah, atau masukkan kotal amal masjid. Itu lebih baik," begitu kata saya.
Mereka protes. Meronta. Merengek. Saya biarkan.
Saya menjulurkan pertanyaan lagi. "Menurut kalian apa yang menggerakkan berjuta orang untuk berkumpul di Monas dalam aksi nomor-nomor cantik 411 dan 212 itu?"
Mereka terdiam. Bingung. Saling bertatapan satu sama lainnya. Saya menunggu beberapa saat, masih juga belum ada jawaban.
"Oke. kalau begitu saya kasih pilihan. Mereka berkumpul karena cinta atau karena benci?"
Mereka terbelah. Sebagian bilang karena cinta, sebagain yang lain ngotot karena benci.
Kepada yang menjawab karena cinta saya bertanya "cinta kepada apa atau siapa?" Mereka menjawab kompak pada Al-Quran.
Saya diam. Lalu saya lanjutkan kepada mereka yang menjawab benci. pernyataan yang sama. "benci kepada siapa?" Mereka menjawab "Ahooook"
Kemudian saya bertanya kepada masing-masing kelompok "Apakah bisa rasa cinta terhadap sesuatu itu dibangun di atas kebencian terhadap sesuatu yang lain"
"Maksudnya bagaimana, Pak? Maksudnya 212 membangun rasa cinta kapada Al-Quran di atas bangunan megah kebencian kepada Ahok?" jawab seorang mahasiswa.
Saya diam.
"Itu bukan cinta, Pak. Kalau cinta mengapa harus membenci?"
Saya diam. Seisi kelas gaduh dan saya pamit pulang. Kelas berakhir dalam keadaan chaos, namun kami sempat berfoto bersama.

Penting untuk dicatat dan direnungkan jawabannya bersama bahwa ‘apakah bisa rasa cinta terhadap sesuatu itu dibangun di atas kebencian terhadap sesuatu yang lain?’. Ini problem pelik kita. Sikap cinta kita dibangun di atas bangunan megah kebencian teradap sesuatu yang lain. Ini absurd sekali. Pada titik inilah agama masuk sebagai pelecut, pemantik, dan juga peleigitimasi konflik dan polarisasi. Ndak usah mengutip Terry Rey yang secara tajam dalam bukunya Bourdieu On Religion: Imposing Faith and Legitimacy (2014) mengatakan bahwa agama adalah instrumen penting untuk mencegat kebebasan dan memaksakan keyakinan terhadap siapapun yang bersebarangan dengan mayoritas, kita bisa melihat dengan sangat gamblang bahwa agama bisa dijadikan pelumas sekaligus bahan bakar polarisasi dewasa ini.

Kata Ibnu Sina, bulainā biqaumin yadzunnūna annallāha lam yahdi siwāhum. Kita sedang diuji dengan suatu kondisi di mana ada sekawanan manusia yang menyangka bahwa Allah tidak memberikan petunjuk kepada selain mereka. Ini cocok sekali dengan kondisi kita saat ini. Termasuk soal yang kita perbincangkan tarawih berjamaah di monas. Gejala menonjolkan kelompok, show of force, unjuk jumlah massa adalah watak jahiliyah yang mulai didaur ulang.

Alasan tarawih di monas adalah untuk menjaga persatuan. Ini logika yang mahaaneh. Persatuan apa? Umat atau kepentingan politik? Tren seperti ini terus terang sangat menghawatirkan, karena alasan yang dibuat-buat, yakni menjaga persatuan maka kelak daftar ritual ibadah yang dilakukan di monas bisa diperpanjang termasuk manasik haji dan juga sunatan masal.

Barangkali di sudut akhirat, di tengah hiruk pikuk rencana Sholat tarawih di Monas, Fredrik Silaban dan Bung Karno menyepi bedua. Keduanya berbicara serius, saling tatap satu sama lain. Air mata jatuh. “Sudah ada gejala umat Islam mulai meninggalkan masjid. Mereka memilih untuk unjuk kuantitas, bukan kualitas. Mungkin ini yang disebut gejala membakar rumah Tuhan,” begitu kata Pak Karno memeluk Silaban.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *