Senin, 20 Agustus 2018

Mbah Sholeh

11.27


Ketika saya kelas satu aliyah muallimin, pria berperawakan tambun berjenggot lebat itu selalu mengayuh sepeda mininya ke sekolah kami. Jarak tempat tinggal dengan lokasi tempatnya mengajar memang nanggung. Dekat enggak, jauh juga tidak.

Kami memanggilnya Mbah Sholeh. Lelaki kelahiran Sedan, Rembang itu adalah ikon di sekolah kami. Bagi kami, sosok Mbah Sholeh adalah santri paripurna dan kami harus berlomba--diam-diam atau terang-terangan--untuk bisa paling tidak menyamai kemonceran intelektualitasnya.

Kalau hanya sekedar hafal alfiah, nazam seribu bait yang bicara ndakik-ndakik soal ilmu nahwu itu, barangkali masing-masing kami--siswa muallimin--bisa menyamainya. Namun persoalannya, Mbah Sholeh juga hafal puluhan kitab yang dinazamkan lainnya: salah duanya Maknun dan Faraidul Bahiyyah

Bagi kami rekor itu sulit ditandingi. Ibarat tinju, Mbah Sholeh sudah berada di kelas berat sementara kami baru menginjak kelas bulu. 

"Bekal pinter kui cuma satu: disiplin," demikian kalimat yang diulang-ulang sampai kami hafal dan bisa menirukannya bahkan lengkap persis dengan intonasinya.

Maka, demi menerjemahkan kedisiplinan itu, Mbak Sholeh selalu mewajibkan kami untuk saban kali jadwal mata pelajaran Alfiah, saban kali pula kami harus setoran hafalan lima bait. Itu kami lalukan dua kali seminggu.

Praktiknya, kami maju barang satu persatu atau dua perdua. Kami berdiri persis di samping Mbah Sholeh yang sedang sibuk duduk di kursi guru sembari membolak-balik kitab yang akan diajarkannya.

Senyatanya, belakangan saya baru tahu, berdasarkan pengakuan dosa teman-teman sekelas bahwa masing-masing mereka pernah berlaku curang. Berlagak hafal, padahal tidak. Tetep maju, ning mung eksen tur apus-apus. Mereka hanya maju saja. Sembari nggremeng dan umik-umik. Jika beruntung mereka akan selamat.

Perbuatan yang demikian bukan tanpa risiko. Pernah salah seorang dari kita ketahuan. Dan sebagaimana tradisinya, jiwit sampai abang biru di bagian sisi perut adalah ganjaran yang setimpal.

Sekali waktu, saya ingat betul. Saat ujian semester kebetulan saya tidak begitu menguasi nazamnya. Waktu itu bab istighal. Konon mitosnya, bab istighal ini paling susah dihafalkan. Dan saya adalah salah satu yang termakan mitos itu.

Semalaman saya menyiapkan contekan. Bahasa Jombangnya kerpe'an. Taqrirat alfiah saya foto kopi di kios Mbak Nanik. Warung legendaris di seberang pesantren. Saya gunting kopian taqrirat itu persis seukuran kertas soal. 



Pagi jahanam itu pun tiba. Mula-mula saya lancar menyalin contekan itu ke kertas jawaban. Namun dasar sial. Mata Mbah Sholeh ternyata telah membidik gelagat mencurigakan saya. 
Mbah Sholeh tenang. Tetap duduk di meja pengawas. Saya merapikan keadaan. Napas dan adrenalin saya mulai normal kembali.

Saya pikir keadaan akan baik-baik saja dan saya selamat dan nilai ujian alfiah saya bagus. Nyatanya tidak seperti yang saya bayangkan. Mbah Sholeh keliling kelas. Dua putaran. Putaran pertama berjalan landai. Begitu sampai di samping meja saja, langkahnya semakin dilandaikan, seolah memberi kode.

Meskipun kondisi paru-paru saya sehat, namun keadaan yang demikian itu membuat jantung saya berdegub lebih kencang seperti genderang mau perang.
Demikianlah, lolos di putaran pertama, nyatanya tidak menjamin saya mulus dari bidikan Mbah Sholeh. Nasib sial. Kerpe'an saya ketahuan.

Berlembar-lembar foto kopian taqrirat alfiah itu disita sebagai barang bukti. 
Bukan itu semua yang jadi soal. Justru perkataan Mbah Sholeh-lah yang membuat saya terteror sampai sekarang. Begini "Iki opo, Cah.....? (Sambil membolak-balik foto copian taqrirat). Arep curang kok gak profesional blas..."

Modyar!



Ikhwan Akhwat

11.03


Tampaknya gelombang arabisasi kembali menyeruak. Gejala ini setidaknya bisa kita amati dari bangkitnya istilah-istilah yang berasal dari bahasa Arab masuk ke dalam hidup sehari-hari kita, termasuk di ruang publik.
Bahasa Arab memang bersejarah panjang dengan bahasa Indonesia. Banyak lema dan entri bahasa Indonesia, bahkan konsep, diserap dari bahasa Arab. Ini harus diakui secara terbuka. Bahkan, pada hal vital dan prinsipal dalam bernegara, kita sangat dibantu bahasa Arab. Setidaknya kita pinjam lima konsep darinya untuk dasar negara kita: adil, musyawarah, rakyat, adab, dan hikmat.
Bahasa Arab memang warna tersendiri bagi pembentukan bahasa Indonesia. Bukan saja dalam keagamaan; lebih dari itu, dalam sosial politik ternyata sumbangsih bahasa Arab tak bisa dipandang sebelah mata. Makmur, misalnya, konsep yang selalu disandingkan dengan adilyang hilir mudik saat musim kampanye tiba–keduanya bersumber dari bahasa Arab.
Dalam ekonomi kita kenal kurs, yang diasumsikan berasal dari bahasa Arab qursy (nama sebuah kabilah: Quraisy). Historis-arkais kata ini sangat berhubungan dengan aktivitas dan mobilisasi suku Quraisy yang rata-rata berprofesi sebagai pedagang. Mereka berkelana dan bertemu dengan orang-orang baru guna menjajakan dagangannya. Alat tukarnya kelak di kemudian hari dikenal dengan istilah kurs. Masih banyak kata serapan di wilayah selain keagamaan seperti budaya, hiburan, bahkan elektronik. Untuk yang terakhir, ambil contoh kabel. Ia berasal dari bahasa Arab hablun yang berarti ‘tali’.
Argumen ini secara tak langsung membantah tesis Dendy Sugono (2007) yang menyatakan bahwa, karena pintu masuk bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia melalui medium agama Islam, serapannya berkisar soal-soal istilah agama. Pandangan ini cenderung menyederhanakan soal sebab, meskipun bahasa Arab masuk melalui ajaran agama, faktanya nilai-nilai agama itu diterjemahkan melalui piranti budaya. Maka, tak mengherankan apabila bahasa Arab meruyak masuk ke segala sendi hidup.

Novriantoni dalam rubrik Bahasa ini, edisi 8 Januari 2005, mengkhawatirkan perkembangan lema dan istilah–yang sama artinya dengan keengganan membahasaindonesiakan– pada tingkat tertentu bisa diartikan sebagai perkembangan corak ideologi. “Gejala ini (keengganan dalam pembahasaindonesiaan) memprihatinkan karena lambat laun kita akan merasa papa secara bahasa, sekaligus imajinasi dan kreativitas untuk mengambangkan bahasa sendiri,” demikian Novriantoni berhujah.
Bahasa menjadi perantara sekaligus alat paling ampuh untuk, bukan saja menyampaikan gagasan, menegaskan corak ideologi. Kita ingat pesan sanepa Jawa dari sebuah daerah di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta “Barat diruwat, Arab digarap”. Apa artinya? Upaya detoksifikasi dan filterisasi budaya. Tentu saja salah satunya dilakukan dengan me-“’ruwat” dan meng-“garap” apa yang datang dari luar. Jika tak demikian, kita akan masuk pada ancaman tercerabut dari akar kebudayaan kita sendiri, manusia lain di rumah sendiri seperti dalam contoh kasus ikhwan dan akhwat yang mudah kita temukan pada toilet musala di fasilitas umum. Dua kata ini dipakai sebagai penanda jamban untuk pria dan wanita. Apakah ikhwan dan akhwat muradif dengan lelaki dan perempuan? Tentu saja tidak. Lelaki perempuan merujuk jenis kelamin, sementara ikhwan akhwat merujuk pada afiliasi ideologi tertentu, bukan murni soal kelamin.
Selain itu, ada hijabnikab, dan burka yang masing-masing acap dipilih menggantikan kerudung, tudung, dan cadar. Atau liqa yang kerap kali digunakan mengganti aktivitas pertemuan mengaji, padahal kita sudah punya bandongan. Gelombang arabisasi ini pada titik tertentu sangat patut disayangkan sebab pada sejumlah lema arab yang digunakan dan dipilih, sejatinya kita sudah memiliki lema sekaligus konsepnya.
Dimuat di Kompas, 18 Juli 2018.

Kamis, 16 Agustus 2018

Sembilan Puluh Dua Perbedaan Sepak Bola Indonesia dengan Luar Negeri

14.28



Saban kali melihat timnas Indonesia bermain, saban kali pula teman saya menyiapkan tiga hal: memaafkan, memaafkan dan memaafkan. “Habis gimana lagi, selalu kalah sih ujungnya,” demikian ia berhujah.

Sekali waktu teman itu mencoba menghibur diri. Saat itu harga tiket nonton sepak bola baru saja naik, di saat yang bersamaan timnas—sebagaimana yang sudah-sudah—menelan kekalahan lawan jiran kita: Malaysia. Kekalahan melawan tetangga sebelah ini memang selalu lebih membekas bagi siapa pun saja penggemar bola: termasuk teman saya. “Dalam sebuah pertandingan, kalah menang itu biasa. Kekalahan adalah jalan lapang untuk menuju kekalahan-kekalahan lainnya,” begitu ia berfilsafat.

Namun memang jika dipikir-pikir ada baiknya kita cari akar persoalan sepakbola di negeri kita. Caranya bisa kita tempuh dengan mengimparasikan persepakbolaan Nasional kita dengan persepakbolaan luar negeri. Saya mencatat ada sembilan puluh dua perbedaan. Dan di sini akan saya paparkan tiga saja. Kalau diungkap semua, lha kerjanya PSSI apa?

Pertama, profesionalisme. Ini persoalan serius. Malah kelewat sangat serius. Saya mengamati budaya kita tidak cocok dan tidak memungkinkan untuk menjadikan sepak bola sebagai pilihan profesi. Sepak bola, bagaimana pun bentuknya adalah permainan. Karena ia permainan maka ia dilakukan sebagaimana permainan yang lain seperti gobak sodor, karambol, atau patil lélé.

Kalau anda ragu, mari kita buktikan secara empirik. Perhatikan, timnas Indonesia semakin usianya muda, maka semakin bejibun prestasi. Sebaliknya, semakin uzur, semakin tak bermutu. Permainan anak-anak usia 16 dan 19 tahun sangat membanggakan. Mereka benar-benar bisa bermain sepak bola. Berlari. Mengisi ruang kosong. Gerakan tanpa bola. Mengangkut Air. Merumput. Mencari lobang. Dan memasukkan gol.

Apa itu artinya? Yap betul. Sebab sepak bola adalah permainan. Usia-usia 16-19 tahun ada usia main. Sebaliknya, usia 20 tahun ke atas adalah usia menapaki kehidupan. Remaja 20 tahun di Indonesia sudah mulia bertungkus lumus menghadapi kerasnya kehidupan. Pilhannya kerja atau kuliah. Kerja bagi mereka yang tak punya biaya kuliah. Sementara kuliah, tahu sendiri biayanya nauzubillah. Negara? Jangan tanya di mana.

Anak-anak yang tidak punya kesempatan kuliah, pilihannya adalah kerja. Apakah sepak bola bisa dijadikan lapangan kerja? Saya jawab: tidak. Maksud saya kebudayaan kita belum siap.

Bisa dibayangkan kan ketika Evan Dimas Darmono akan bertanding melawan timnas Thailand tiba-tiba ada SMS masung bersamaan dari FIF dan WOM Finance “Nasabah YTH angsuran pembiayaan Anda sebesar Rp.XXXXXX akan jatuh tempo Tgl XXXX. Abaikan pesan ini jika sudah membayar.Tks”. Seketika si Evan Dimas hilang kosentrasi. Mata berkunang-kunang. Bibir pecah-pecah. Ngilu persendian yang menyebabkan engsel tulang belulang seolah mau copot.

Kedua, perhatikan baik-baik di luar sederet produk dan merk dagang keren berlomba menjadi sponsor: AIG, Rakuten, Vodafone, Carlsberg, Toyota, Opel. Sementara di Indonesia yang mendominasi jadi sponsor adalah produk-produk urusan seputar perut: Persib Bandung dengan Kopi ABC, Persebaya dengan Kapal Api, Arema dengan Indomie, Madura United dengan Quick Chicken, dan Persela Lamongan dengan makanan juara: Sosis So Nice.



Bisa dibayangkan, sebelum bertanding atau bahkan saat rehat jeda pertandingan pemain-pemain di klub liga Gojek Traveloka itu disuguhi aneka produk sponsornya. Pemain Persib dan Persebaya akan ngopi-ngopi dulu dengan Kopi ABC dan Kapal Api, Arema akan nyeruput Indomie, Madura United makan nasi kotakan dari Quick Chicken, dan Persela ngemut sosis.

Artinya apa? Artinya ya memang peradaban kita itu suka ngumpul-ngumpul, lalu kalau sudah ngumpul-ngumpul rasanya hambar kalau tidak ngopi dan makan-makan. Memang benar falsafah luhur kita mengajarjkan mangan ora mangan kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul), tapi kalau disuruh milih ya tentu saja naluri kita akan jatuh pada makan-makan plus ngumpul.

Ketiga, ofisial pertandingan. Jika terjadi cedera misalnya, tim medis di sepak bola luar negeri secepat kilat bersijingkat untuk memeriksa dan melakukan pertolongan pertama. Bisanya disemprot obat pereda nyeri atau semacamnya. Di Indonesia, saya pernah lihat saat ada salah satu pemain meringis kesakitan di tengah lapangan terlihat dua anggita tim medis berlarian meghambur ke pamain. Di saat yang bersamaan layar kaca tempat pertandingan sepak bola itu disiarkan tiba-tiba gambar lapangan menjadi mengecil tinggal seperempat layar kaca. Sisanya? Sisanya adalah iklan Balpirik Ekstra. Lalu apa hubungannya? Apakah ini sebuah kebetulan? Saya juga tidak mengerti. Waktu itu Saya langsung megelus dada. Sontak sebuah bogem mentah mendarat di muka saya. Ternyata saya keliru mengelus dada teman saya. Ya Allah~

Untungnya, orang kita punya hati yang sangat luas. Sebagai suporter, orang Indonesia memiliki kelapangan psikologis yang luar biasa. Bayangkan di saat yang bersamaan orang Indonesia bisa memiliki tiga dukungan sekaligus dalam satu musim perhelatan sepakbola. Di hati orang Indonesia sudah pasti ada timnas Indonesia plus klub sepakbola lokal (sesuai dengan kota kelahiran bisanya, kalau tidak ada ya minimal kota-kota yang deket dengan tempat kelahiran), plus mendukung satu atau bahkan dua klub di liga-liga beken eropa. Dan semuanya? Jangan tanya: pasti sama fanatiknya. Orang Indonesia punya kemapuan dan falsafah yang sangat luhur bahwa dukungan bersumber dari kecintaan. Cinta bukanlah materi, ia energi yang tak bakal habis dibagi. Maka, sudah pasti satu orang bisa mendukung lima sampai delapan klub secara bersamaan di dalam hatinya. Begitulah kondisinya.




Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *