Senin, 20 Agustus 2018

Mbah Sholeh



Ketika saya kelas satu aliyah muallimin, pria berperawakan tambun berjenggot lebat itu selalu mengayuh sepeda mininya ke sekolah kami. Jarak tempat tinggal dengan lokasi tempatnya mengajar memang nanggung. Dekat enggak, jauh juga tidak.

Kami memanggilnya Mbah Sholeh. Lelaki kelahiran Sedan, Rembang itu adalah ikon di sekolah kami. Bagi kami, sosok Mbah Sholeh adalah santri paripurna dan kami harus berlomba--diam-diam atau terang-terangan--untuk bisa paling tidak menyamai kemonceran intelektualitasnya.

Kalau hanya sekedar hafal alfiah, nazam seribu bait yang bicara ndakik-ndakik soal ilmu nahwu itu, barangkali masing-masing kami--siswa muallimin--bisa menyamainya. Namun persoalannya, Mbah Sholeh juga hafal puluhan kitab yang dinazamkan lainnya: salah duanya Maknun dan Faraidul Bahiyyah

Bagi kami rekor itu sulit ditandingi. Ibarat tinju, Mbah Sholeh sudah berada di kelas berat sementara kami baru menginjak kelas bulu. 

"Bekal pinter kui cuma satu: disiplin," demikian kalimat yang diulang-ulang sampai kami hafal dan bisa menirukannya bahkan lengkap persis dengan intonasinya.

Maka, demi menerjemahkan kedisiplinan itu, Mbak Sholeh selalu mewajibkan kami untuk saban kali jadwal mata pelajaran Alfiah, saban kali pula kami harus setoran hafalan lima bait. Itu kami lalukan dua kali seminggu.

Praktiknya, kami maju barang satu persatu atau dua perdua. Kami berdiri persis di samping Mbah Sholeh yang sedang sibuk duduk di kursi guru sembari membolak-balik kitab yang akan diajarkannya.

Senyatanya, belakangan saya baru tahu, berdasarkan pengakuan dosa teman-teman sekelas bahwa masing-masing mereka pernah berlaku curang. Berlagak hafal, padahal tidak. Tetep maju, ning mung eksen tur apus-apus. Mereka hanya maju saja. Sembari nggremeng dan umik-umik. Jika beruntung mereka akan selamat.

Perbuatan yang demikian bukan tanpa risiko. Pernah salah seorang dari kita ketahuan. Dan sebagaimana tradisinya, jiwit sampai abang biru di bagian sisi perut adalah ganjaran yang setimpal.

Sekali waktu, saya ingat betul. Saat ujian semester kebetulan saya tidak begitu menguasi nazamnya. Waktu itu bab istighal. Konon mitosnya, bab istighal ini paling susah dihafalkan. Dan saya adalah salah satu yang termakan mitos itu.

Semalaman saya menyiapkan contekan. Bahasa Jombangnya kerpe'an. Taqrirat alfiah saya foto kopi di kios Mbak Nanik. Warung legendaris di seberang pesantren. Saya gunting kopian taqrirat itu persis seukuran kertas soal. 



Pagi jahanam itu pun tiba. Mula-mula saya lancar menyalin contekan itu ke kertas jawaban. Namun dasar sial. Mata Mbah Sholeh ternyata telah membidik gelagat mencurigakan saya. 
Mbah Sholeh tenang. Tetap duduk di meja pengawas. Saya merapikan keadaan. Napas dan adrenalin saya mulai normal kembali.

Saya pikir keadaan akan baik-baik saja dan saya selamat dan nilai ujian alfiah saya bagus. Nyatanya tidak seperti yang saya bayangkan. Mbah Sholeh keliling kelas. Dua putaran. Putaran pertama berjalan landai. Begitu sampai di samping meja saja, langkahnya semakin dilandaikan, seolah memberi kode.

Meskipun kondisi paru-paru saya sehat, namun keadaan yang demikian itu membuat jantung saya berdegub lebih kencang seperti genderang mau perang.
Demikianlah, lolos di putaran pertama, nyatanya tidak menjamin saya mulus dari bidikan Mbah Sholeh. Nasib sial. Kerpe'an saya ketahuan.

Berlembar-lembar foto kopian taqrirat alfiah itu disita sebagai barang bukti. 
Bukan itu semua yang jadi soal. Justru perkataan Mbah Sholeh-lah yang membuat saya terteror sampai sekarang. Begini "Iki opo, Cah.....? (Sambil membolak-balik foto copian taqrirat). Arep curang kok gak profesional blas..."

Modyar!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *