Kamis, 16 Agustus 2018

Sembilan Puluh Dua Perbedaan Sepak Bola Indonesia dengan Luar Negeri




Saban kali melihat timnas Indonesia bermain, saban kali pula teman saya menyiapkan tiga hal: memaafkan, memaafkan dan memaafkan. “Habis gimana lagi, selalu kalah sih ujungnya,” demikian ia berhujah.

Sekali waktu teman itu mencoba menghibur diri. Saat itu harga tiket nonton sepak bola baru saja naik, di saat yang bersamaan timnas—sebagaimana yang sudah-sudah—menelan kekalahan lawan jiran kita: Malaysia. Kekalahan melawan tetangga sebelah ini memang selalu lebih membekas bagi siapa pun saja penggemar bola: termasuk teman saya. “Dalam sebuah pertandingan, kalah menang itu biasa. Kekalahan adalah jalan lapang untuk menuju kekalahan-kekalahan lainnya,” begitu ia berfilsafat.

Namun memang jika dipikir-pikir ada baiknya kita cari akar persoalan sepakbola di negeri kita. Caranya bisa kita tempuh dengan mengimparasikan persepakbolaan Nasional kita dengan persepakbolaan luar negeri. Saya mencatat ada sembilan puluh dua perbedaan. Dan di sini akan saya paparkan tiga saja. Kalau diungkap semua, lha kerjanya PSSI apa?

Pertama, profesionalisme. Ini persoalan serius. Malah kelewat sangat serius. Saya mengamati budaya kita tidak cocok dan tidak memungkinkan untuk menjadikan sepak bola sebagai pilihan profesi. Sepak bola, bagaimana pun bentuknya adalah permainan. Karena ia permainan maka ia dilakukan sebagaimana permainan yang lain seperti gobak sodor, karambol, atau patil lélé.

Kalau anda ragu, mari kita buktikan secara empirik. Perhatikan, timnas Indonesia semakin usianya muda, maka semakin bejibun prestasi. Sebaliknya, semakin uzur, semakin tak bermutu. Permainan anak-anak usia 16 dan 19 tahun sangat membanggakan. Mereka benar-benar bisa bermain sepak bola. Berlari. Mengisi ruang kosong. Gerakan tanpa bola. Mengangkut Air. Merumput. Mencari lobang. Dan memasukkan gol.

Apa itu artinya? Yap betul. Sebab sepak bola adalah permainan. Usia-usia 16-19 tahun ada usia main. Sebaliknya, usia 20 tahun ke atas adalah usia menapaki kehidupan. Remaja 20 tahun di Indonesia sudah mulia bertungkus lumus menghadapi kerasnya kehidupan. Pilhannya kerja atau kuliah. Kerja bagi mereka yang tak punya biaya kuliah. Sementara kuliah, tahu sendiri biayanya nauzubillah. Negara? Jangan tanya di mana.

Anak-anak yang tidak punya kesempatan kuliah, pilihannya adalah kerja. Apakah sepak bola bisa dijadikan lapangan kerja? Saya jawab: tidak. Maksud saya kebudayaan kita belum siap.

Bisa dibayangkan kan ketika Evan Dimas Darmono akan bertanding melawan timnas Thailand tiba-tiba ada SMS masung bersamaan dari FIF dan WOM Finance “Nasabah YTH angsuran pembiayaan Anda sebesar Rp.XXXXXX akan jatuh tempo Tgl XXXX. Abaikan pesan ini jika sudah membayar.Tks”. Seketika si Evan Dimas hilang kosentrasi. Mata berkunang-kunang. Bibir pecah-pecah. Ngilu persendian yang menyebabkan engsel tulang belulang seolah mau copot.

Kedua, perhatikan baik-baik di luar sederet produk dan merk dagang keren berlomba menjadi sponsor: AIG, Rakuten, Vodafone, Carlsberg, Toyota, Opel. Sementara di Indonesia yang mendominasi jadi sponsor adalah produk-produk urusan seputar perut: Persib Bandung dengan Kopi ABC, Persebaya dengan Kapal Api, Arema dengan Indomie, Madura United dengan Quick Chicken, dan Persela Lamongan dengan makanan juara: Sosis So Nice.



Bisa dibayangkan, sebelum bertanding atau bahkan saat rehat jeda pertandingan pemain-pemain di klub liga Gojek Traveloka itu disuguhi aneka produk sponsornya. Pemain Persib dan Persebaya akan ngopi-ngopi dulu dengan Kopi ABC dan Kapal Api, Arema akan nyeruput Indomie, Madura United makan nasi kotakan dari Quick Chicken, dan Persela ngemut sosis.

Artinya apa? Artinya ya memang peradaban kita itu suka ngumpul-ngumpul, lalu kalau sudah ngumpul-ngumpul rasanya hambar kalau tidak ngopi dan makan-makan. Memang benar falsafah luhur kita mengajarjkan mangan ora mangan kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul), tapi kalau disuruh milih ya tentu saja naluri kita akan jatuh pada makan-makan plus ngumpul.

Ketiga, ofisial pertandingan. Jika terjadi cedera misalnya, tim medis di sepak bola luar negeri secepat kilat bersijingkat untuk memeriksa dan melakukan pertolongan pertama. Bisanya disemprot obat pereda nyeri atau semacamnya. Di Indonesia, saya pernah lihat saat ada salah satu pemain meringis kesakitan di tengah lapangan terlihat dua anggita tim medis berlarian meghambur ke pamain. Di saat yang bersamaan layar kaca tempat pertandingan sepak bola itu disiarkan tiba-tiba gambar lapangan menjadi mengecil tinggal seperempat layar kaca. Sisanya? Sisanya adalah iklan Balpirik Ekstra. Lalu apa hubungannya? Apakah ini sebuah kebetulan? Saya juga tidak mengerti. Waktu itu Saya langsung megelus dada. Sontak sebuah bogem mentah mendarat di muka saya. Ternyata saya keliru mengelus dada teman saya. Ya Allah~

Untungnya, orang kita punya hati yang sangat luas. Sebagai suporter, orang Indonesia memiliki kelapangan psikologis yang luar biasa. Bayangkan di saat yang bersamaan orang Indonesia bisa memiliki tiga dukungan sekaligus dalam satu musim perhelatan sepakbola. Di hati orang Indonesia sudah pasti ada timnas Indonesia plus klub sepakbola lokal (sesuai dengan kota kelahiran bisanya, kalau tidak ada ya minimal kota-kota yang deket dengan tempat kelahiran), plus mendukung satu atau bahkan dua klub di liga-liga beken eropa. Dan semuanya? Jangan tanya: pasti sama fanatiknya. Orang Indonesia punya kemapuan dan falsafah yang sangat luhur bahwa dukungan bersumber dari kecintaan. Cinta bukanlah materi, ia energi yang tak bakal habis dibagi. Maka, sudah pasti satu orang bisa mendukung lima sampai delapan klub secara bersamaan di dalam hatinya. Begitulah kondisinya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *