Senin, 20 Agustus 2018

Ikhwan Akhwat



Tampaknya gelombang arabisasi kembali menyeruak. Gejala ini setidaknya bisa kita amati dari bangkitnya istilah-istilah yang berasal dari bahasa Arab masuk ke dalam hidup sehari-hari kita, termasuk di ruang publik.
Bahasa Arab memang bersejarah panjang dengan bahasa Indonesia. Banyak lema dan entri bahasa Indonesia, bahkan konsep, diserap dari bahasa Arab. Ini harus diakui secara terbuka. Bahkan, pada hal vital dan prinsipal dalam bernegara, kita sangat dibantu bahasa Arab. Setidaknya kita pinjam lima konsep darinya untuk dasar negara kita: adil, musyawarah, rakyat, adab, dan hikmat.
Bahasa Arab memang warna tersendiri bagi pembentukan bahasa Indonesia. Bukan saja dalam keagamaan; lebih dari itu, dalam sosial politik ternyata sumbangsih bahasa Arab tak bisa dipandang sebelah mata. Makmur, misalnya, konsep yang selalu disandingkan dengan adilyang hilir mudik saat musim kampanye tiba–keduanya bersumber dari bahasa Arab.
Dalam ekonomi kita kenal kurs, yang diasumsikan berasal dari bahasa Arab qursy (nama sebuah kabilah: Quraisy). Historis-arkais kata ini sangat berhubungan dengan aktivitas dan mobilisasi suku Quraisy yang rata-rata berprofesi sebagai pedagang. Mereka berkelana dan bertemu dengan orang-orang baru guna menjajakan dagangannya. Alat tukarnya kelak di kemudian hari dikenal dengan istilah kurs. Masih banyak kata serapan di wilayah selain keagamaan seperti budaya, hiburan, bahkan elektronik. Untuk yang terakhir, ambil contoh kabel. Ia berasal dari bahasa Arab hablun yang berarti ‘tali’.
Argumen ini secara tak langsung membantah tesis Dendy Sugono (2007) yang menyatakan bahwa, karena pintu masuk bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia melalui medium agama Islam, serapannya berkisar soal-soal istilah agama. Pandangan ini cenderung menyederhanakan soal sebab, meskipun bahasa Arab masuk melalui ajaran agama, faktanya nilai-nilai agama itu diterjemahkan melalui piranti budaya. Maka, tak mengherankan apabila bahasa Arab meruyak masuk ke segala sendi hidup.

Novriantoni dalam rubrik Bahasa ini, edisi 8 Januari 2005, mengkhawatirkan perkembangan lema dan istilah–yang sama artinya dengan keengganan membahasaindonesiakan– pada tingkat tertentu bisa diartikan sebagai perkembangan corak ideologi. “Gejala ini (keengganan dalam pembahasaindonesiaan) memprihatinkan karena lambat laun kita akan merasa papa secara bahasa, sekaligus imajinasi dan kreativitas untuk mengambangkan bahasa sendiri,” demikian Novriantoni berhujah.
Bahasa menjadi perantara sekaligus alat paling ampuh untuk, bukan saja menyampaikan gagasan, menegaskan corak ideologi. Kita ingat pesan sanepa Jawa dari sebuah daerah di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta “Barat diruwat, Arab digarap”. Apa artinya? Upaya detoksifikasi dan filterisasi budaya. Tentu saja salah satunya dilakukan dengan me-“’ruwat” dan meng-“garap” apa yang datang dari luar. Jika tak demikian, kita akan masuk pada ancaman tercerabut dari akar kebudayaan kita sendiri, manusia lain di rumah sendiri seperti dalam contoh kasus ikhwan dan akhwat yang mudah kita temukan pada toilet musala di fasilitas umum. Dua kata ini dipakai sebagai penanda jamban untuk pria dan wanita. Apakah ikhwan dan akhwat muradif dengan lelaki dan perempuan? Tentu saja tidak. Lelaki perempuan merujuk jenis kelamin, sementara ikhwan akhwat merujuk pada afiliasi ideologi tertentu, bukan murni soal kelamin.
Selain itu, ada hijabnikab, dan burka yang masing-masing acap dipilih menggantikan kerudung, tudung, dan cadar. Atau liqa yang kerap kali digunakan mengganti aktivitas pertemuan mengaji, padahal kita sudah punya bandongan. Gelombang arabisasi ini pada titik tertentu sangat patut disayangkan sebab pada sejumlah lema arab yang digunakan dan dipilih, sejatinya kita sudah memiliki lema sekaligus konsepnya.
Dimuat di Kompas, 18 Juli 2018.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *