Rabu, 26 September 2018

Kotak Amal

07.58



Satu hal yang rutin dan jamak bahkan menjadi salah satu pelengkap pelaksanaan salat jumat adalah tradisi mengestafetkan sebuah kotak. Kotak itu digerakkan dari satu tangan jamaah ke tangan jamaah yang lain, berpindah dari satu jamaah ke jamaah yang lain. Kotak itu biasa disebut dengan kotak amal.

Istilah kotak amal barangkali digunakan sebagai penanda bahwa kotak tersebut berfungsi untuk menampung amal jariah dari para jamaah. Pemaknaan ini—merujuk pada fungsionalitas bendanya-- memang betul, namun jika diperiksa lebih dalam sudah tepatkah pemaknaan dan penggunaan frasa kotak amal? Mari kita diskusikan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V tidak memuat frasa kotak amal. Banyak nian kata gabungan untuk entri kotak, namun sayangnya tidak memuat kotak amal. Pada gabungan kata itu terdapat kotak alamat, kotak arsip, kotak barometer, kotak hitam, kotak kontak, kotak listrik, kotak masuk, kotak pemecahan, kotak penalty, kotak perkakas, kotak pesan, kotak pos, kotak saran, kotak sarang, kotak suara, kotak surat, kotak tembakan. Aneh bin ajaib memang, kotak amal yang demikian familiar dan populer luput dari pencatatan Kamus Besar Bahasa Indonesia. 

Entri amal jika kita menyiginya pada KBBI V, maka di sana ditulis bahwa amal adalah 1. Perbuatan (baik atau buruk) 2. Perbuatan baik yang mendatangkan pahala 3. Yang dilakukan dengan tujuan untuk berbuat kebaikan terhadap masyakarat atau sesame manusia membri (derma, mengumpulkan dana untuk membantu korban bencana alam, penyandang cacat, orang jompo, anak yatim piatu, dsb).  

Menariknya, dari ketiga makna yang disajikan dalam KBBI ini entri amal lebih diartikan sebagai lema yang bernuasa asketisme atau ibadah. Tidak mengherankan memang, ketika lema amal disebutkan maka benak kita akan ngeloyor begitu saja membayangkan dan mengartikan bahwa yang dimaksud amal adalah sebuah bentuk ibadah, lebih spesifik kegiatan ibadah yang berkait paut erat dengan aktivitas memberi dan berderma. Maka, frasa kotak amal sampai di sini—sekali lagi merujuk pada fungsionalistasnya--diartikan sebagai kotak yang berfungsi untuk menampung derma dan jariah dari para jamaah.

Sekali lagi pemaknaan yang demikian memang sepenuhnya tidak bisa disalahkan, faktanya merujuk pada fungsionalitsanya memang demikian adanya: kotak itu dipakai untuk menampung amal jamaah. Persoalan muncul tatkala kita menelisik lebih jauh makna amal. Apakah benar arti amal itu adalah perbuatan baik ataukah kata ini sudah mengalami penyempitan makna yang sedemikian dahsyat?



Ibnu Manzur dalam Kamus Al-Munjid (1988) mengartikan amal sebagai al-fi’lu biqashdin yang artinya pekerjaan yang disertai niat yang kuat. Artinya, lema amal pada dasarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan kegiatan derma berderma. Orang Arab kalau bertanya perofesi mereka menjulurkan pertanyaan mã amaluka? apa pekerjaanmu. Dara lema amal itu bahasa Arab menganal lema ‘umlah yang berarti ujratul ‘amal atau upah dari sebuah pekerjaan. Ringkas alinea, pada dasarnya lema amal memiliki makna pekerjaan, bukan soal berbuat baik, apalagi beri memberi dan derma-berderma.

Lema amal dalam bahasa Indonesia nampaknya sudah mengalami penyempitan makna yang pada titik tertentu justru sangat merepotkan sekaligus mengkhawatirkan. Sebut saja misalnya pada kasus jargon Kementerian Agama yang berbunyi “Ikhlas Beramal”. Apa arti amal di sana? Apakah berbuat baik? Atau lebih sempit apakah berderma? Saya rasa tidak. Amal yang tepat di sana artinya adalah bekerja. Ikhlas beramal artinya ikhlas bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa pamrih. Ini slogan yang gilang gemilang dalam hemat saya, namun menjadi buruk karena alam pemahaman kita tentang amal yang kian mengkerut dan sempit. Banyak kalangan yang menaggapi bahwa ikhlas beramal artinya siap melakukan perbuatan dengan ikhlas dalam artian siap untuk tidak diberi gaji sekalipun. Ini menurut saya pemaknaan yang keliru.

Saya rasa mengartikan amal dengan kerja juga sangat cocok untuk diterapkan pada frasa kotak amal. Mengapa? Sebab kenyatannya kotak yang diestafetkan itu memang sedang benar-benar ‘bekerja’ menghimpun jariah dari para jamaah. Sebuah pola distribusi pekerjaan yang kreatif dan brilian: manusianya cukup duduk manis, biarkan kotaknya bekerja.

Pernah Terbit di Majalah Tempo 23-30 September 2018




Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *