Minggu, 21 Oktober 2018

Mahbub Djunaidi: Sang Pena Perlawanan cum Grosir Dagelan


Dalang Sujiwo Tedjo pada sebuah acara di salah satu stasiun televisi pernah mengakui bahwa ada dua orang yang menjadi magnet baginya untuk terjun ke dalam dunia tulis menulis. Pertama Mahbub Djunaidi. Kedua, M.A.W Brouwer.

Bahkan, ketika ditanyai pendapat soal sosok Mahbub Djunaidi, Dalang Galau itu mengatakan bahwa “dialah (Mahbub) guru saya menulis. Mahbub mengajarkan pada kita bahwa tidak ada media perlawanan paling efektif melebihi tulisan.

Orang boleh pandai mengkritik, cermat mencari kelemahan, tangkas menelisik kekurangan, namun itu semua tiada gunanya dan akan lenyap bersama debur ombak dan kebul debu jika tidak pandai memilih wahana. Wahana yang paling efektif dalam konteks ini, meminjam pendapat Mahbub, adalah tulisan.

Tulisan Mahbub membentang sekaligus menembus sekat-sekat batas disiplin keilmuawan. Hampir segala bidang pernah ditulis oleh Mahbub, tak terkecuali politik dan juga kebudayaan yang menjadi konsen utamanya. 

Di tangan Mahbub wajah pemerintahan menjadi nampak sedemikian sempoyongan. Pun juga demikian, melalui sebuah tulisannya, Adminsitratur dibikin menjadi seperti robot-robot yang tak punya otak: bersikap kaku dan mekanis. Istilah dulu asal bapak senang. 

Mahbub bisa berbicara apa saja dengan meminjam paradigma dan seperangkat konsep dari disiplin ilmu apa saja untuk omong seenaknya. Analisisnya tajam. Pandangannya jernih. Datanya mendalam. Corak bahasanya renyah tak tertahankan.

Empat kekuatan tulisan Mahbub itulah yang kemudian mengantarkannya memeroleh julukan pendekar pena. Ibarat di belantara dunia persilatan, Muhbub adalah salah satu pendekar dari sebuah padepokan yang kesohor: kaya ilmu sekaligus melimpah teknik. 

Hairus Salim HS ketika menggambarkan corak tulisan Mahbub Djunaidi pernah menulis “Membaca lagi esai-esai lamanya seperti mengenangkan suatu zaman di mana ide harus ditulis dengan cerdas, kritik penting dibungkus dengan kocak, dan sinisme perlu dibalut dengan kepiawaian menertawakan diri sendiri. Dalam segala hal ini, Mahbub adalah jagoannya.”

Ide yang ditulis dengan cerdas dan kritik dibungkus dengan kocak adalah dua kata kunci yang agaknya semakin sulit kita jumpai saat ini. Sepeninggal Mahbub kita kemarau sosok-sosok pemintal ide yang cerdas sekaligus penjahit kritik yang dibungkus dengan nuanasa yang kocak.

Jangankan persoalan bagaimana menyampaikan kritik dengan kocak, bangsa kita nampaknya sudah mengalami wabah defisit ide surplus komentar.

Soal kekocakan lihatnya bagaimana ia meninju Rosihan Anwar: “Saya terlongo-longo membaca artikel sohib baik saya Ustadz H. Rosihan Anwar di koran Kompas 15 September 1980, yang berjudul “ Perbedaan Analisa Politik Antara Soekarno dengan Hatta”. Begitu terlongo-longonya saya, sehingga kalau saja pada saat itu ada seekor harimau masuk kamar, tentu akan saya biarkan saja seolah-olah itu seekor kucing belaka. Tulisan sahabat baik saya itu membuat saya dua hari lamanya tidak bisa membuang hajat besar. Percernaan saya kacau balau dan anus saya kehilangan daya elastisnya.”

Itulah Mahbub Djunaidi, pria yang bersama-sama kita peringati kebaikan, kebaikan, dan kebaikannya malam ini. Tenang dan bahagia di sana, Bung.

 Dibacakan oleh Ulil Abshar Abdall di Malam Puisi Mahbub Djunaidi, 19 Oktober 2018 di UNUSIA Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *