Sabtu, 17 November 2018

Takmir dan Marbut



Saban masjid memiliki pengelola. Struktur pengelola itu, dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit, bertugas mengelola renik-renik kegiatan masjid, mulai dari merawat fisik sampai mengurus aneka kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di masjid tersebut. Tak jarang fungsi masjid, yang kian bervariasi bukan hanya sebatas tempat ibadah salat, berkembang menjadi lokus yang memiliki fungsi demikian rumit: tempat seminar, bahkan gedung perkawinan. Semua itu diurus pengelola masjid.
Galib dan jamaknya pengelola masjid itu disebut dengan takmir masjid.Merujuk pada makna yang diperikan Kamus Besar Bahasa Indonesiatakmir diartikan sebagai upaya memakmurkan atau meramaikan, misalnya, tentang masjid. Kita biasa menyebut personalia pengelola masjid dengan takmir, padahal takmir adalah nomina yang merujuk pada usaha memakmurkan dan juga meramaikan masjid.
Problem ini tampaknya mirip belaka dengan kebiasaan kaprah kita yang gemar menjadikan nomina sebagai verba. Misalnya salat dan sarapan. Kasus dua lema itu semukabalah dengan yang menimpa lema takmir. Kita acap mendengar “dia salat di masjid” atau “nanti kita salat di jalan saja”. Masalah kalimat ini terletak pada lema salat yang sebetulnya nomina tapi dipaksakan menduduki posisi verba. Mestinya verba salatadalah bersalat, maka kalimat yang sahih mestinya “dia bersalat di masjid” dan “nanti kita bersalat di Jalan saja.”
Sepanggang seperloyangan dengan itu, lema sarapan juga demikian. Ia adalah nomina dengan arti makanan pagi hari atau makanan pada pagi hari. Kalau ada yang bertanya “sarapan apa kamu?” atau “kamu sarapan apa?” itu berarti tidak sedang menanyakan apakah anda sudah makan pagi sebab kalimat yang sahih mestinya “sudah menyarap apa pagi ini?”
Takmir juga demikian, ia nomina yang berarti merujuk pada proses dan perbuatan memakmurkan masjid. Maka, tidak ada personalia mufrad yang disebut dengan takmir. Jika ada frasa takmir masjid, itu berarti seperangkat upaya, usaha, dan mekanisme yang dilakukan dalam rangka memakmurkan masjid. Siapa subjeknya? Inilah yang kemudian disebut dengan marbutMarbut diartikan kamus sebagai orang yang menjaga dan mengurus masjid.
Persoalannya kita masih acap mengartikan marbut ini dengan arti yang keliru. Pemahaman yang berlaku dan kaprah, marbut adalah orang yang mengurusi masjid, bukan pada pengelolaan manajerial dan suprastruktur, namun lebih kepada perawatan fisik, malah jamak kita menyebut marbut sebagai orang yang bagian bersih-bersih masjid, bukan bagian dari struktur personalia pengurus. Marbut biasanya tinggal di dalam masjid dengan tanggung jawab mengumandangkan azan, ikamah, dan bersih-bersih.

Apakah marbut hanya ada di masjid? Tidak ada jawaban pasti. Merujuk definisi yang diberikan kamus, memang demikian, tapi pada praktiknya banyak juga orang yang tinggal di musala atau surau. Mereka merawat dan juga bertugas mengumandangkan azan, ikamah, bahkan merangkap imam salat. Kita bisa juga merujuk pada cerpen legendaris Robohnya Surau Kami bikinan AA Navis. Di sana ada sesosok tokoh yang dipanggil kakek. Kakek ini aktivitas hariannya lebih banyak disibukkan dengan beribadah, selain “pekerjaan sampingan” yang lahir dari keahliannya: mengasah pisau. Ia tak hidup dari mengasah pisau, tapi justru mengandalkan sedekah dari para jamaah, juga menggantungkan diri dari hasil panen ikan di kolam depan musala. Kakek tidak punya rumah, juga anak dan istri.
“Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala… Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya,” demikian AA Navis melukiskan aktivitas keseharian sang Kakek.
Apakah orang macam kakek ini tak disebut sebagai marbut? Merujuk kepada aktivitasnya, tiada beda sama sekali dengan apa yang populer disebut sebagai marbut yang kita kenal hari ini. Entahlah, yang jelas realitas sosial tidak pernah salah, yang salah adalah cara kita membaca lalu menuliskannya, termasuk kemudian mencatat dan menjejalkannya ke dalam kamus.
Pernah dimuat di Harian Kompas, 17 November 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *