Selasa, 04 Desember 2018

Tempe



Dipuja oleh dunia internasional, tapi direcehkan di rumah sendiri. Barangkali demikianlah nasib tempe. Dalam buku Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia (2005), Denys Lombard mengatakan bahwa tempe berasal dari kata Nusantara, tape, yang salah satunya memiliki arti fermentasi, yang sekaligus berhubungan dengan wadah besar tempat produk fermentasi yang disebut tempayan.

Sebagai produk kuliner, ia primadona dan digemari oleh beragam lidah di dunia. Sebaliknya, sebagai sebuah ”produk budaya”, tempe selalu menjadi bulan-bulanan dan sumber olok-olok, bahkan oleh pemimpin, tokoh publik, dan sejumlah pesohor kita sendiri.

Dengan semangat berapi-api, Presiden Sukarno berpidato dalam momen hari ulang tahun Proklamasi pada 1963. Salah satu kalimat pidatonya yang paling populer berbunyi seperti ini: ”Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka daripada makan bestik tetapi budak.”

Apa yang dimaksudkan oleh Sukarno tentang ”bangsa tempe”? Sulit dipastikan. Namun banyak pendapat mengatakan bahwa istilah ”bangsa tempe” muradif dengan bangsa yang lembek, yakni merujuk pada sifat tempe yang lembek—sebuah metafora yang memiliki kejanggalan akut serta patut diragukan kesahihannya. Sebab, kalaulah memang kelembekan yang dimaksud, semestinya tahu lebih lembek, tapi mengapa yang dirujuk justru tempe?

Selain sifat kelembekan yang notabene bermasalah tersebut, ada yang mengatakan bahwa maksud istilah bangsa bermental tempe merujuk pada ketidakberdayaan dan ketidakmampuan bangsa kita dalam merespons tantangan zaman. Pendapat ini salah satunya bisa disigi dalam majalah Tempo edisi 12 September 1981, yang menulis, ”Kita sendiri yang menciptakan istilah ’bangsa tempe’ untuk tempo-tempo mengejek ketidakmampuan kita. Tapi di Malang, Ahmari Amir, yang tidak punya kepandaian teknik, dikagumi mahasiswa ITB dan insinyur dari Denmark, karena kreasinya menciptakan mesin pembuat tempe.”

Kendati demikian, apa pun argumentasinya, istilah ”bangsa tempe” tampaknya harus ditinjau ulang. Sebab, tidak ada wajhu tasybih (alasan metaforis) yang jelas antara tempe dan mental serba tidak bisa, tidak berdaya, juga lembek.

Padahal kunci keakurasian metafora terletak pada alasan metaforis atau kesamaan benda yang diperumpamakan. Jika hal itu tidak bisa ditemukan, tentu saja perumpamaan tersebut masuk kategori perumpamaan yang galat.

Sepanggang seperloyangan, dalam dunia politik, kita kerap mendengar isuk dele sore tempe—istilah yang digunakan untuk merujuk pada sifat ketidakkonsistenan. Sikap yang selalu berubah-ubah, plinplan, serta tidak istikamah diibaratkan persis dengan sikap kedelai dan tempe. Sebagaimana istilah ”bangsa tempe”, istilah isuk dele sore tempe bersifat peyoratif dan minor. Pertanyaannya: mengapa yang dipakai harus kedelai dan tempe? Kalau memang digunakan untuk merujuk pada ketidakistikamahan, mengapa bukan isuk dele sore tahu? Bukankah tahu juga berbahan baku utama kedelai? Atau mengapa tidak menggunakan istilah lain, misalnya isuk telo sore gethuk?

Secara logika, jika istilah isuk dele sore tempe tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan ketidakistikamahan dan ketidakkonsistenan, tentu bermasalah. Sebab, kedelai yang menjadi tempe merupakan proses kreatif yang baik, normal, juga positif-transformatif. Justru istilah yang lebih tepat adalah isuk tempe sore dele, yakni menunjukkan proses pementahan kembali—yang mulanya sudah masak menjadi mentah kembali: tidak konsisten, negatif, dan antiklimaks. Namun, apa boleh dikalam, istilah yang kaprah sampai saat ini nyatanya isuk dele sore tempe.

Yang paling mutakhir, beberapa tempo yang lalu kita digemparkan oleh istilah ”tempe setipis kartu ATM”. Pernyataan yang diungkapkan salah seorang calon wakil presiden itu lengkapnya berbunyi, ”Tempe katanya sekarang sudah dikecilkan dan tipisnya udah hampir sama dengan kartu ATM. Ibu Yuli di Duren Sawit kemarin bilang, jualan tahunya sekarang dikecilin- ukurannya.”

Istilah ”tempe setipis kartu ATM” pun akhirnya menjadi populer. Warganet membincangkan istilah tersebut. Banyak yang bernada sarkastis. Namun, terlepas dari itu semua, nasib tempe kembali terpuruk, menjadi obyek bulan-bulanan. Padahal tempe salah satu produk kuliner Indonesia yang mendunia.

Pernah dimuat di Majalah TEMPO, 3-9 Desember 2018.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Saya

Kolumnis lahir di Lamongan, sekolah di Jombang kemudian semi menetap di Jakarta. Menjalani hidup biasa-biasa saja. Karya yang telah diterbitkan: Modin Soimun (2015), Jangan Membonsai Ajaran Islam (2015)

Terbaru

recentposts

Kritik dan Saran

Nama

Email *

Pesan *